> On Mon, 26 May 2003 18:32:45 +0700 DZArifin (D) wrote:

> > Tapi cobalah kita memahami dan memberikan
> > komentar tentang Aceh ini seandainya kita adalah
> > orang Aceh, bukan orang Jawa!
> > Saya kira sudut pandangnya akan lain.

----------------------------------------------------------------------------
--

----- Original Message -----
From: Syafril Hermansyah
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: 30 Mei 2003 13:05
Subject: [yonsatu] Re: Strategi Anti Perang Gerilya

> Maksudnya apa ya?  Sudut pandang apa ?
> Orang Aceh yg non GAM punya persamaan dg kita semua,
> y.i. warga negara kesatuan republik Indonesia.
> Sistem nilai yg dianutpun sama, Pancasila.
> Kita perlu berangkat dari hal-2x yg sama, bukan dari hal-2x
> yg berbeda krn nggak pernah akan ketemu kalau begitu caranya.

----------------------------------------------------------------------------
--

Mungkin Doedoeng mengatakan begitu, karena berangkat dari analisis Nugroho
yang berbasiskan ke-ethnik-an:

> > ----- Original Message -----
> > From: "Nugroho Setyabudi" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Monday, May 26, 2003 8:36 AM
> > Subject: [yonsatu] Re: Strategi Anti Perang Gerilya

> > > Saat saya melihat penunjukan Pak Endang Witarsa
> > > sebagai Pangdam Iskandar Muda, saya langsung
> > > setuju dengan pemilihan tersebut, berarti TNI sudah
> > > membaca arah strategi perang GAM dan telah
> > > menyiapkan operasi jangka panjang yaitu tahunan.
> > > Mudah-mudahan saya tidak keliru bahwa pak Endang
> > > pasti dari Jawa Barat..... Jawa Barat indentik dengan
> > > pasukan Siliwangi. Siliwangi adalah pasukan tempur
> > > dengan pembinaan teritorial yang terbaik menurut
> > > perjalanan sejarah TNI.

Jadi sebetulnya di sini mulai munculnya salah persepsi.
Seolah-olah keunggulan perang wilayah Siliwangi itu adalah karena Siliwangi
itu tentaranya Jawa Barat (baca: "tentaranya tatar Sunda").
Sehingga seolah-olah setiap orang Jawa Barat (baca: "orang Sunda"), termasuk
Mayjen. Endang ini (yang kalau dilihat namanya mestinya orang Sunda), pasti
jago pembinaan teritorial.
Sehingga, seolah-olah lagi, Panglima TNI memilih dia jadi Pangdam di daerah
operasi melawan gerilya adalah karena dia orang Jawa Barat (baca: "orang
Sunda").

Ini tentulah salah besar!
Divisi Siliwangi justru representasi ke-bhineka-tunggal-ika-an yang
terlengkap dalam profile TNI kita.
"Isi"-nya Siliwangi, dari panglimanya sampai balok satu-nya, datang dari
semua suku, ada Abdul Haris Nasution, Alex Kawilarang, Dadang Suprajogi,
Ibrahim Adjie, Hartono Rekso Dharsono, sampai Iwan Sulanjana.
Ketika mereka dulu sukses merebut hati rakyat Jawa Barat, dan memisahkannya
dari DI-TII, juga bukan issue ke-jawa-barat-an (baca: "issue ke-sunda-an")
yang diusung (lha wong Kartosuwiryo itu orang jawa...)

Jadi kepakaran perang wilayah tidak ada urusannya sama ke-sunda-an atau
ke-aceh-an seseorang.
Si Endang Sunda yang sekarang panglima, tidak menjamin kelebihan atau
kekurangan kinerja pembinaan wilayahnya dari si Djalil Aceh yang panglima
sebelumnya.

Persoalannya serdadu yang sedang mengejar-ngejar musuh republik ini di
Bireun, misalnya, mampukah mereka memisahkan warganegara Indonesia yang ada
di sana dari pemberontak separatis itu, dengan keramah-tamahan, keihklasan,
senyum, berbicara dalam bahasa setempat, dsb.
Inilah keunggulan Siliwangi (dulu). To win the heart and mind of the people.
Tidak dengan membentak-bentak: "Ke mana larinya si GAM tadi itu!!!?", lalu
kalau penduduk yang ketakutan tergagap-gagap tidak bisa segera menjawab,
lantas langsung saja: "Buk!!" tangan menggampar atau popor menggebuk...


Wasalam.



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke