Saya mencoba menyumbang pengetahuan saya tentang Aceh, yang belum tentu
benar, dan mohon rekan Ekek dari Aceh mengkoreksi bila ini salah.
A. Aceh, Gayo dan Tanaman Ganja.
1. Aceh pesisir dan Aceh pegunungan ( Takengon, Singkil, Tapaktuan )
sangat berbeda budaya, Orang Takengon didataran tinggi Gayo, lebih
senang disebut Orang Gayo. Kebudayaan yang menonjol terlihat dari
pakaian dan tenunannya, sangat berbeda antara Budaya Aceh Pesisir (
ditandai dengan kain warna2 polos merah, kuning, hijau dan tanpa
ornamen, ada pengaruh budaya India seperti melukis tangan bagi Pengantin
Wanita ) Budaya Gayo yang khas adalah tenunannya, sulaman dan ornamen
yang khas Gayo.
2. Dataran Tinggi Gayo sangat terkenal dengan Kopi Gayo yang hingga
saat ini dikenal sebagai salah satu unggulan kopi export Indonesia
3. Dulu kwalitas kopi Gayo di zaman Penjajahan Belanda jauh lebih
unggul dan di ekspor dalam jumlah yang besar, katanya terunggul didunia.
Yang membuat pohon2 kopi di Gayo lebih unggul adalah karena diantara
pohon2nya ( tanaman sela )ditanami pohon Ganja. Sehingga serangga
pengganggu tanaman kopi, menyerang Pohon2 Ganja terlebih dahulu sebelum
menyerang pohon2 kopi. Dan terlebih lagi keturunan serangga2 itu menjadi
kecanduan Pohon Ganja, sehingga buah2 kopi yang dihasilkan bersih dan
sempurna kematangannya.
4. Kalau anda perhatikan, semut2 yang ada di Pohon Ganja, sepanjang
batang yang besar masih berjalan beriringan dan ketika sudah menuju
ranting2 kecil, iringan2 berhenti dan diam, lama2 semut2 itu berjatuhan
sendiri ( teler ??)
5. Ganja sebagai bumbu ( terutama Gulai Aceh ) adalah biji2
ganja.Digunakan secukupnya saja sebagai penyedap,tidak berbeda dengan
garam misalnya. Khabar bahwa Gulai Aceh bikin teler, adalah tidak benar
sama sekali, tapi kalau lebih sedap dari gulai lain, menurut saya memang
benar adanya.
6. Secara Geografis, Dataran Tinggi Gayo meliputi lebih dari 50% luas
tanah Propinsi Aceh. Mata pencaharian Penduduknya adalah petani.
Mungkin itulah sebabnya mengapa begitu banyak Pohon Ganja di Aceh. Dan
menghisap ganja sebagai rokok, tidak dikenal dalam budaya Aceh. Saya
dengar, Ganja hanya diisap sebagai rokok adalah hanya untuk pengobatan
penyakit Asma kalau mendapat serangan ( jadi sebagai obat dengan
penggunaan se-waktu2 saja).
B. Aceh Pesisir.
Saya dulu bertanya-tanya, mengapa Belanda Perang di
Aceh sampai 100 tahun dan membangun jalan kereta api terpanjang di
Indonesia dari Kutaraja (Banda Aceh ) ke Medan, sepanjang lebih dari 800
KM.
Jalan kereta api ini dibangun sepanjang pesisir Selat Malaka.
Untuk apa investasi dan Perang itu ??
Apa yang diambil Belanda dari Aceh ? Minyak dan Gas baru ditemukan
setelah 1970 . Emas dan Perak ? Tidak ada Emas atau Perak di Aceh.
Batubara ? Tidak ada Batubara di Aceh, ada tetapi mutunya rendah dan
kandungan sulfurnya tinggi. Perkebunan ? Yang ada perkebunan Kopi di
Gayo, tapi tidak perlu dibangun kereta api hingga Banda Aceh, cukup
sampai Biruen saja atau 30% dari panjang yang ada.
Jadi mengapa Belanda mau mengorbankan beberapa Jendralnya tewas di Aceh
?
Ternyata, masarakat Aceh pesisir adalah perompak2 ulung yang terus
menerus mengganggu kapal2 dagang yang berlalu lalang di Selat Malaka.
Masyarakat Aceh pesisir adalah pelaut2 ulung dari Kerajaan Samudra
Pasai, kita kenal juga Nakhoda Wanita yang ulung Mahalayati.
Belanda berperang selama 100 tahun di Aceh adalah untuk mengamankan
Selat Malaka dari perompak2.
Pemerintah Hindia Belanda sampai perlu membuat peraturan bahwa perahu2
di pesisir Aceh tidak boleh mempunyai layar lebih besar dari 2
meterpersegi, apabila ada perahu dengan layar yang lebar akan langsung
ditembak.
Inilah mungkin usaha Penjajah Belanda yang membuat saudara2 kita di
Aceh, saat ini telah kehilangan keunggulannya di lautan.
Di Pulau We (Sabang ) ada peninggalan terminal Batubara yang besar,
katanya berkapasitas 600.000 MT.
Pulau We adalah pelabuhan terakhir yang disinggahi kapal2 dagang dari
Timur Jauh untuk mengambil Batubara (Steam Ship ) dan Air Tawar, di
Pulau We ada Danau yang besar dekat dengan pantai yang berair tawar.
Batubaranya diambil dari Ombilin. Itulah yang menjadi dasar pembangunan
Penambangan Batubara Ombilin oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk suply
kapal2 yang singgah di Sabang.
Dulu Sabang, jauh lebih terkenal dari pada Singapura dan semua kapal2
dagang singgah disana.
Sepengetahuan saya Islam juga, lebih dahulu masuk ke Indonesia di Aceh,
dari pedagang2 Goa yang ke Samudra Pasai.
Hubungan Kerajaan Samudra Pasai dekat dengan Kerajaan2 Islam di India,
kalau dilihat secara kasat mata, saudara2 kita dari Pidie agak mirip
dengan orang India/Tamil.
Saudara2 kita di Aceh Pesisir yang mata pencahariannya sebagai nelayan,
memang berbeda. Mereka lebih "berdarah panas" sebagaimana umumnya
masyarakat pantai yang hidup lebih keras, tapi khas Aceh mungkin "darah
perompak" (menurut sudut pandang Penjajah Belanda) atau "darah
perlawanan"nya masih tertinggal.
Seperti diketahu perlawanan/pemberontakan GAM terutama berada
disepanjang pesisir, mulai dari Banda Aceh, Pidie, Bireun dan
Lhokseumawe.
Segini dulu deh. Nanti saya coba juga menjelaskan mengapa para pemimpin
pemberontakan Gam adalah para Tengku.
Dan apa bedanya Teuku dengan Tengku.
Wassalam,
--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>