Pak Syafril Yth,
                Berikut ini, pandangan saya yang subyektif, maafkan pada
rekan2 dari Aceh, apabila ada hal2 yang bersifat subyektif adalah
semata-mata pandangan pribadi dengan pengetahuan terbatas yang belum
tentu benar.

Masyarakat Aceh pada zaman Penjajahan Belanda, terkelompok dalam
prefektur2 atau daerah2 yang sedikit banyak terisolasi satu sama lain,
baik secara fisik maupun lingkungan kekuasaan.
Prefektur2 ini dipimpin oleh para Ulebalang yang bergelar bangsawan
Teuku.
Dan sebagaimana umumnya prefektur, para Bangsawan/Teuku, didampingi oleh
para Tengku yang merupakan tokoh Agama (Islam).
Kalau di Jawa Barat, para bangsawan prefektur2 adalah Bupati2 yang
didampingi oleh para Panghulu.
Kalau di Inggris barangkali setara dengan the King and the Bishop.

Melalui para Teuku/Ulebalang inilah Penjajah Belanda mengendalikan
kekuasaannya di Aceh.
Sebagaimana para bangsawan di Jawa, mereka dimanjakan oleh Penjajah
Belanda dan mendapat prioritas dalam pendidikan, demikian juga para
Teuku.
Pada zaman itu intelektual lahir dari para Teuku dan kerabatnya.

Ketika Penjajahan Belanda berakhir 1945 - 1950 ( Revolusi Kemerdekaan),
para Teuku tidak disukai masyarakat dan katanya bahkan terjadi
pembantaian (?) terhadap para Teuku oleh rakyat Aceh, karena dipandang
sebagai "kaki tangan" Penjajah.
Katanya terjadi pengungsian besar2an dari para Teuku/Ulebalang dan
keluarganya ke Pulau Jawa.
Setelah Kemerdekaan, kekuasaan para Ulebalang berakhir, dan kepemimpinan
sosial diambil alih oleh para Tengku sebagai "The Second Leader" di
masyarakat.
Perubahan drastis beralihnya kepemimpinan masyarakat ke para Tengku,
menimbulkan kekosongan Kepemimpinan Sosial, mereka ini tidak mempunyai
pengalaman sebagai Pemimpin Sosial, karena mereka adalah para Pemimpin
dalam bidang Agama.
Akibatnya para Tengku yang lahir dari "bangunan" struktur masyarakat
dibawah Ulebalang, sering gagal memecahkan masalah2/konflik2 sosial di
masyarakat.Mereka hanya pandai memberi fatwa2 yang tidak/belum tentu
menyelesaikan realitas persoalan/konflik.

Contoh dari pengalaman saya, masalah2 konflik sosial maupun
orang-perorang sering tidak jelas benar-salahnya, karena konflik2
didalam masyarakat diselesaikan melalui "upara perdamaian" yang disebut
"Peusijuk" ( pesejuk = membuat yang panas menjadi sejuk )dan disertai
dengan do'a bersama, kadang2 disertai dengan Wejangan/Siraman Rohani.
Dan menurut pengalaman saya,akibatnya konflik2 yang sama berulang dan
terus menerus terjadi tanpa ada penyelesaian yang jelas, karena selalu
berakhir dengan Peusijuk yang sifatnya hanya perdamaian formal yang
hanya menunda persoalan.

Kegagalan para Tengku, kemudian melahirkan "Informal Leaders" yang
berani dan tegas serta bisa mengambil keputusan.
Dan celakanya , biasanya mereka, "Informal Leaders" ini adalah "jagoan2
kampung", mereka lebih didengar dan dimintai untuk menyelesaikan
masalah2 oleh masyarakat, meskipun sebenarnya masyarakat sendiri,
sehari-harinya tidak menyukai para jagoan tersebut.
Sebagaimana tingkah laku para jagoan kampung, mereka juga sering
bertidak sewenang-wenang terhadap masyarakat.

Patut diketahui, Gelar Teuku, Cut (untuk bangsawan wanita) adalah
diturunkan,artinya gelar ini diturunkan ke anak.
Sedangkan Tengku, adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada
seseorang pemimpin, jadi tidak diturunkan ke anak.
Jagoan2 kampung itu kemudian secara langsung kemudian "mengambil alih"
Tengku2 yang lahir dari struktur bangunan prefektur Ulebalang dan
menjadi "Tengku2 baru" yang berkuasa di kampungnya ( atau beberapa
kampung yang berdekatan).

Segini dulu deh, mudah2an bermanfaat.

Wassalam,


-----Original Message-----
From: Syafril Hermansyah [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, May 31, 2003 4:46 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [yonsatu] Re: Strategi Anti Perang Gerilya


On Fri, 30 May 2003 17:48:20 +0700 Abas F Soeriawidjaja (AFS) wrote:

> Segini dulu deh. Nanti saya coba juga menjelaskan mengapa para 
> pemimpin pemberontakan Gam adalah para Tengku. Dan apa bedanya Teuku 
> dengan Tengku.

Pak Abas, kata Tengku juga dipakai di Riau, itu adalah gelar Bangsawan.
Yg saya tahu kata Teuku (dibaca Tengku) di Aceh juga gelar Bangsawan,
apa benar ?


-- 
syafril
-------
Syafril Hermansyah<syafril.yon1.mahawarman.net>

List Administrator/Moderators yonsatu/[EMAIL PROTECTED]

--[YONSATU -
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>




--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke