Ass.Wr.Wb.
 
Wah, saya tidak mengira diskusinya akan berjalan seperti ini.  Mohon ma'af sekali lagi 
jika banyak yang tersinggung.  Secara garis besar, saya setuju dengan pandangan P' 
Hermansyah dan juga P' Priyo yang lebih arif dalam menyikapi statement tsb.
 
Sudah lama saya berusaha mengkaji dan memahami Al-Qur'an dan Injil (lewat bimbingan 
guru tentunya) untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam 
benak saya.  Dalam pencarian itu, saya juga berusaha membaca sebanyak mungkin 
buku-buku ttg sejarah/riwayat Nabi Muhammad dan Nabi Isa.  Buku 'Riwayat Sang Nabi' 
karangan Karen Amstrong, hanya salah satu referensi saja, tentu saja saya juga membaca 
buku-buku lainnya sebagai pembanding seperti karangan Muhammad Haeckal dsb.
 
Pembantaian Yahudi di Pasar Jum'at oleh Nabi Muhammad adalah sebuah fakta sejarah yang 
cukup menggemparkan, tentu saja buku itu merefer pada referensi sejarah yang valid.  
Penyebab tindakan pembantaian itu adalah bukan masalah perdagangan tapi lebih kepada 
aspek politis.  Pada saat itu, di Madinah, kaum yahudi terpecah menjadi dua bagian 
yaitu yang netral dan yang kontra terhadap ajaran Nabi Muhammad.  Yang kontra terhadap 
ajaran Nabi Muhammad, melihat bahwa ada beberapa surat/ayat yang isinya tidak 
sesuai/bertentangan dengan kitab-kitab mereka.  Nabi Muhammad memandang bahwa 
pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh kelompok ini akan membahayakan/menggerogoti 
keyakinan para pengikutnya.  Kemudian terjadi suatu peristiwa sepele di suatu Pasar 
Jum'at.  Seorang Yahudi membuka/melepas paksa kerudung yang dikenakan oleh seorang 
muslimah, kejadian itu kemudian dijadikan moment oleh Nabi Muhammad untuk menghabisi 
kelompok yahudi yang menentang ajarannya.  Ratusan yahudi dipenggal kepalanya
 dan di kubur dalam suatu parit besar yang digali di dekat pasar jum'at di Madinah.  
Begitu keseluruhan ceritanya.
 
Saya sangat setuju dengan pendapat P' Hermansyah, bahwa tidak ada salahnya jika kita 
bersikap kritis terhadap agama.  Tidak seluruh ajaran harus ditelan bulat-bulat.  Akal 
budi dan hati adalah filternya.  Karena berfikir maka aku ada, itu kata seorang filsuf.
 
Ok, Begitu saja klarifikasi dari saya.
Mohon ma'af sekali lagi, jika ada yang tidak berkenan dengan statement/pendapat saya.
 
Wass.Wr.Wb.
Evy
 
 
 
 
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Menurut saya kenapa kita harus takut untuk kritis terhadap agama. Agama 
kan hanyalah wahana untuk bertemu dengan Tuhan YME. Sebagai wahana, tidak 
mengherankan kalau ada ajaran2 didalam agama tsb. yang tidak bisa dicerna 
oleh akal manusia masa kini. Selama tujuan kritis tsb. itu adalah untuk 
mencari jawaban semaksimal mungkin atas hal2 yang sulit dicerna itu, why 
not? Yang penting kan tidak ada maksud jelek.
Nabi Muhammad dengan membantai ratusan orang Yahudi pada masa lalu dapat 
dikategorikan sebagai bukan seorang humanist, berdasarkan definisi masa 
kini, apalagi kalau dasar pembantian itu adalah agresi, bukan untuk 
membela diri. Terlepas dari pembantaian tsb., menurut saya kita memang 
pantas menaruh respek kepada Muhammad dan mengikuti segala perilaku 
teladannya. Namun, bukan berarti bahwa kita tidak boleh bersikap kritis 
terhadap beliau, apalagi tidak boleh berargumentasi terhadap hadits2 
beliau. Sekalipun nabi, beliau kan juga seorang manusia, sama dengan kita 
semua. Dan menurut saya, seorang manusia itu bisa berada sangat dekat 
dengan Tuhan, tanpa harus menjadi nabinya.

Please visit web-page: http://www.jcn.com/humanism.html kalau berminat 
untuk membaca uraian panjang lebar mengenai humanisme.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.






EVY ARYANTI 
10/17/2003 15:06
Please respond to yonsatu


To: [EMAIL PROTECTED]
cc: 
Subject: [yonsatu] Re: Hubungan militer Indo-Israel


Ass.Wr.Wb.

Ma'af, kalau saya memasukkan masalah keyakinan dalam tanggapan saya 
tentang Israel. Itu semata-mata pendapat pribadi dan tidak untuk 
dipertentangkan/dijadikan platform dalam memecahkan masalah.

Jika berbicara masalah humanisme, sebenarnya Nabi Muhamad pun telah 
melanggar HAM (NB: Ini sekedar wacana, bagi yang muslim jangan 
tersinggung, saya juga muslim). Dalam buku 'Riwayat Sang Nabi' karangan 
Karel Amstrong (yang mengarang buku 'Hystory of God' (best seller)), 
diceritakan bahwa pada saat di Madinah, Nabi Muhamad pernah melakukan 
pembantaian terhadap ratusan orang Yahudi yang ada di Madinah (di Pasar 
Jum'at). Kejadian tsb sempat membuat citra Nabi Muhamad turun drastis 
walaupun ada pembenaran politis atas tindakan tsb (demi kepentingan syi'ar 
Islam). Silahkan kisah tsb direnungkan.....

Wass.Wr.Wb.
Evy 
Edy Christiono wrote:
200% setuju Bang Hermansyah........

salam,

sukris

> Saya sendiri berpendapat sebaiknya masalah keyakinan jangan dijadikan 
> acuan dalam adu pendapat, karena sifatnya yang 'intangible' itu. 
> Seyogyanya humanismelah yang dijadikan sebagai landasan. Keyakinan 
> seyogyanya kita gunakan untuk memoles diri kita sendiri secara terus 
> menerus, agar cahaya Illahi selalu terpancar dalam setiap tingkah laku,
> langkah dan perbuatan kita, bukan sebagai platform untuk memecahkan 
> masalah multi-dimensi.
> 
> Salam hangat,
> HermanSyah XIV.
> 
> 



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : 
Moderators : 
Unsubscribe : 
Vacation : 




---------------------------------
Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Shopping - with improved product search

--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke