8<-- Temu akbar HANATA 2004, 3-4 Januari 2004 di Ciater Pendaftaran di Milis Anggota, atau SMS ke 0815-9500-697 -->8 Hello rekan Syarif, > > Di kantor saya, tdk ada larangan dan batasan dalam beremail dan > > berinternet.
+ maksudnya mungkin tidak ada secara tertulis ? Atau memang tertulis ? Membolehkan beremail dan berinternet ria secara tertulis sih memang tidak ada. Tapi melarang juga tidak. Yang ada adalah 'Ethics of Business Conduct' yang saya tandatangani ketika diangkat sbg. karyawan. Didalam dokumen itu, yang menyangkut kepentingan karyawan disebutkan a.l. bhw perusahaan melindungi hak2 privacy karyawan dan karyawan berhak menggunakan seluruh resources perusahaan secara bebas dalam melaksanakan fungsinya. Ini saya artikan sebagai boleh 'beremail dan berinternet ria', dengan tentu saja sejauh fungsi sebagai karyawan terpenuhi. Benar tidaknya pengertian saya diatas dapat dilihat dari sikap perusahaan yang tidak mensensor situs2 'hot', tidak merecord jam pergi/pulang karyawan ke/dari kantor, diperbolehkannya karyawan mengambil sendiri ATK yang dibutuhkan tanpa harus melapor, dibebas quota-kannya kapasitas email karyawan dan tidak pernah ada kasus karyawan ditegur boss karena dalam jam kerja kedapatan sedang bermain game, beremail atau berinternet. + Barangkali, ya barangkali, yang kita perlu tanya adalah + nurani kita, apakah kita sudah korupsi, atau berniat + mengorupsi ? Menurut saya memang pengawal kita yang paling utama adalah hati nurani kita sendiri, ya moral kita itu. Dan, moral kita itu hanya bisa baik kalau kita tinggal didalam habitat yang baik. Kalau habitatnya sudah kacau balau dan rusak berat, maka menurut saya satu2nya cara agar moral kita itu dapat kembali baik adalah kalau kita memperbaikinya secara kolektif, tidak sendiri2. + Kelemahan manusia juga adalah bhw kalau sudah +terbiasa mengambil (mengorupsi) sedikit (in-signifikan) + - dan tak ada yang menghukum, akan mengambil lagi +agak lebih besar - sampai akhirnya sangat besar. Jadi, +kata pak ustadz, mendingan samasekali jangan dimulai +dari kecil / sedikit Saya kira ini kembali lagi tergantung pada bagaimana habitat dimana kita tinggal itu. Kalau habitatnya baik sehingga 'korupsi' yang dilakukan itu selalu terjaga dalam batas toleransi, maka nggak perlu khawatir kalau dia akan menjadi besar. Kalau toch 'korupsi' itu kebablasan, saya kira yang berwenang nggak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mengeluarkan 'rules'. Maka siapa yang melanggar 'rules' itu akan kena sangsi. Dan sangsi itu sendiri harus diterapkan tanpa pandang bulu. Dengan cara ini, maka 'korupsi' yang terjadi dapat kembali ditekan ke batas wajar. Di kantor saya, 'rules' untuk misalnya email, internet dan ATK tidak diterapkan. Ini mungkin karena habitat kerja yang ada sekarang dipandang direksi cukup baik, sehingga 'korupsi' yang terjadi masih dipandang berada dalam batas wajar. Kepercayaan yang diberikan Direksi kepada karyawan ini menurut saya berkontribusi pada 'mem-beradabkan' dan 'memanusiakan' karyawan. Moralitas si karyawan akan meningkat dengan sendirinya, dan akibatnya 'korupsi' yang terjadi akan tetap terjaga dalam batas wajar. Oleh karena itu saya sangat tidak setuju dengan pengajaran moral dan keyakinan yang dilakukan dengan cara2 menekan, menakut-nakuti apalagi mengintimidasi. Cara2 ini hanya akan membuat orang yang diajarkan itu 'bermuka seribu', seperti yang terjadi di republik kita tercinta ini. Pengajaran moral dan keyakinan menurut saya lebih tepat dilakukan dengan cara memperlakukan manusia sebagai makhluk yang beradab, kecuali kalau kita hidup dijaman jahiliah. + Saya dulu (tahun 70-an 80-an) suka membawa pulang +(nyolong) sendok / pisau perak dari pesawat terbang utk +memorabilia, juga kunci hotel atau barang kecil lain. Untuk pesawat terbang, segala perlengkapan yang tidak boleh dibawa pulang penumpang biasanya dikumpulkan kembali oleh cabin-crew sebelum landing (blankets, head-sets), atau diberitahu untuk jangan 'digondol' (life-vests). Tapi untuk sendok, garpu dan gelas, airlines pada umumnya sudah menghitungnya sebagai komponen biaya, jadi no problem kalau dibawa pulang. Mas Koni barangkali bisa confirm ini. Untuk hotel, amenities yang disediakan (coffe, tea, gula, creamer, bath-jelly, shampo, gosok gigi, dsb), juga sudah masuk dalam komponen biaya, jadi jangan punya perasaan bersalah kalau itu dibawa pulang. Untuk hotel2 besar malah handukpun boleh 'digondol', cuma kita nggak enak aja. Magnetic-Card untuk masuk kamar kalau kita nggak kembalikan juga nggak apa2, hanya kalau kunci kamar yang konvensional memang harus dikembalikan. Mungkin rekan yang berkecimpung di perhotelan bisa meng-confrim ini. Salam hangat, HermanSyah XIV. --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Arsip : http://yonsatu.mahawarman.net News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman News Arsip : http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman
