8<--  
Temu akbar HANATA 2004, 3-4 Januari 2004 di Ciater      
Pendaftaran di Milis Anggota, atau SMS ke 0815-9500-697   
-->8 
  
   

> -----Original Message-----
> From: Syafril Hermansyah [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, December 10, 2003 1:11 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [yonsatu] Re: Buku Pemberantasan Korupsi
>
>
> 8<--
> Temu akbar HANATA 2004, 3-4 Januari 2004 di Ciater
> Pendaftaran di Milis Anggota, atau SMS ke 0815-9500-697
> -->8
>
>    On Wed, 10 Dec 2003 12:52:18 +0100
> Made Mahardika wrote:
>
> > Sebagai tambahan yang cukup menarik. Konsep diatas sudah diterapkan di
> > Sekolah dasar di Belanda. Anak saya yang sekarang duduk di kelas 5,
> > setiap awal minggu mereka mendefiniskan pelajaran2 apa saja yang akan
> > di perlajari dalam minggu yang bersangkutan. Ini dilakukan oleh guru
> > bersama degan si murid.
>
> Wow level SD sudah begitu ?
Saya juga kaget. Tapi melihat kesibukan kita yang sangat ketat, dengan cara
ini kita bisa me-match antara program kerja kita dan jatah waktu untuk
membantu si anak. Hal ini sangat penting karena guru tidak bisa memberikan
sepenuhnya waktu yang dibutuhkan oleh si murid. Untungnya, sekolah sudah
memberikan program mereka untuk setahun ke depan. Jadi paling nggak hal2
pokok kita sudah bisa plan. Tetapi kadang2 ada perubahan mendadak. Disinilah
kita butuh "korupsi" waktu kerja dalam batas2 toleransi. Tanpa adanya
toleransi yang diceritakan rekan Hermansyah, roda kehidupan di Belanda nggak
bisa jalan.
>
> Seingat saya dosen saya dulu yg menggunakan cara ini cuma 1 orang y.i.
> Pak Sulaiman Nasseri (Elektro), dan yg rada mirip-2x adalah Pak Hariadi
> Supangkat (Fisika). Berat akan tetapi menarik caranya Pak Sulaiman itu,
> yg membuat mudah hanyalah krn di Elektro (kala itu) kami cuma punya 1
> buku pegangan (acuan) utk satu mata kuliah, shg silabusnya praktis
> mengikuti buku itu saja (bisa dibilang ngikutin daftar isi).
> Kalau mahasiswanya banyak baca dari buku-2x lain, pasti seru diskusi di
> kelas saat itu.
>

Lucunya di Belanda ini, tidak ada buku standard. Pemerintah hanya memberikan
guidelines saja, apa2 yang harus diketahui/dipahami. Detail gimana pelajaran
diberikan diserahkan kepada sekolah masing2. Kita tahu ada banyak cara untuk
mendidik anak dari sudut psikologi anak. Karena itu dibelanda ada beberapa
type sekolah. Ditiap sekolah ada juga perwakilan murid. Kita bersama-sama
dengan guru dan pengurus sekolah, merinci secara lebih detail bagaimana
sebaiknya pelajaran itu diberikan kepada anak. Gimana kegiatan extra
kurikuler diberikan guna mendukung pendidikan. Kontribusi orang tua sangat
dominan baik uang, terutama tenaga. Tanpa bantuan tenaga orang tua, nggak
ada sekolah di belanda yang bisa jalan. Dengan demikian majoritas anak2
(paling nggak ditingkat SD, saya baru tahu ditingkat ini) dibelanda mendapat
bimbingan yang intensif baik dari lingkungan sekolah dan juga keluarga.
Dengan keikutsertaan orang tua, tingkat percaya diri anak jadi tinggi karena
mereka tidak merasa berada dilingkungan asing. Kalau saya lihat keluarga di
Indonesia, perhatian orang tua kurang aktif guna mendukung proses belaja
anak.

Salam,
Made Mahardika


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------   
Arsip           : http://yonsatu.mahawarman.net  
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman  
News Arsip      : http://news.gmane.org/gmane.org.region.indonesia.mahawarman  

Kirim email ke