Assalamualaikum / Salam sejahtera untuk semuanya Hal-hal seperti ini memang harus dibicarakan dengan kepala dingin Pak, Bapak sebagai warga desa sebaiknya berdiskusi dengan sang investor mengenai hal tersebut karena jangan-jangan hanya terjadi miskomunikasi antara warga desa dengan sang investor. Setahu saya sebagai investor mereka pasti menggali informasi terlebih dahulu terhadap lahan yang akan dikerjakannya karena tidak mungkin investor mau merugi jika ada potensi timbulnya gejolak dilahan tersebut. Sebenarnya antara investor dan petani penggarap seharusnya terjadi simbiosis mutualisme karena keduanya saling membutuhkan satu dengan lainnya. Saya harapkan semua permasalahan antara petani penggarap dengan investor bisa dicarikan jalan keluarnya yang sama-sama menguntungkan. Jayalah Pertanian, Jayalah Para Petani !.
************************************************** ANGGOTA ABC KINI BEBAS POSTING SENDIRI!! Anggota Agromania Business Club (ABC) kini dapat melakukan posting dan mempublish postingannya sendiri kapan saja di milis Agromania tanpa dibaca atau diedit dulu oleh moderator (not moderated). Aturan main bisa Anda lihat di: http://www.agromania.co.cc (TAB SMS) PENDAFTARAN: http://www.formulirabc.co.cc DIREKTORI: http://www.direktoriabc.co.cc ************************************************** abdulrahim abdulrahim <[email protected]> wrote: Bakar2 begitu adab primitif sekali Pak. Ini khan baru versinya yg dirugikan. Coba dengar juga versi investor. Bicarakan baik2. Hilangkan kebiasaan2 biadab begitu On Sat, Dec 13, 2008 at 2:02 PM, guntur wibisono <[email protected]> wrote: > > menghadapin org2 besar yg menginjak2 org kecil, untuk kasus ini bakar aja > lahan rumput gajah nya ato rame2 ngangon ternak di lahan sewanya... jangan > mau dibodohin n dikangkangi org2 yg merasa jadi tuhan2 kecil > > ________________________________ > > DIREKTORI AGROBISNIS INDONESIA > > http://www.direktoriabc.co.cc > MAU GABUNG? ISI FORMULIR DI: > http://www.formulirabc.co.cc > _______________________________ > > --- On Tue, 12/2/08, Darodjah Pucung Maju <[email protected]> wrote: > > From: Darodjah Pucung Maju <[email protected]> > Subject: [agromania] INVESTOR MASUK DESA : bahaya baru > To: [email protected] > Date: Tuesday, December 2, 2008, 5:15 PM > > Di desa kami Pucung, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, ada persoalan yang > miris. Ada lahan 40 ha yang itu merupakan lahan kepemilikan dari puluhan > orang. Namun, lahan itu tanah kering dan tandus, sehingga oleh pemerintah > dijadikan lahan konservasi dengan penanaman jati sejak tahun 2005 yang nanti > akan dipanen warganya. Namun, saat ini justru akan "dikuasai" oleh orang luar > (konon orang Jakarta) dengan menggunakan partner lokal (warga desa sendiri). > Mereka akan membangun proyek penanaman rumput gajah, untuk dijadikan sebagai > pakan ternak. > > Yang jadi persoalan, lahan tersebut tidak disewa dan pemilik lahan tidak > diberi kompensasi. Partner lokal ini hanya mengatakan bahwa mau menanam > rumput gajah dengan iming-iming lahannya mau dibajak dan dipupuk, dan > masyarakat boleh menanam apa saja. Tetapi partner lokal ini tidak menjelaskan > kalo lahan ternyata "digalengi" dengan rapat, sehingga pemilik lahan sudah > tidak mungkin lagi bisa menamam, karena pasti akan kalah dengan rumput gajah. > Hal ini meresahkan warga tentunya. > > Sayangnya, aparat desanya juga cuek saja. Proyek ini konon menelan anggaran > 400juta. Dan dapat dipastikan pemilik lahannya tidak akan mendapat apa-apa > kelak. Tetapi ini belum menjadi kesadaran warga desa, karena mereka justru > dibuai dengan dijadikan tenaga kerja. Mohon Dinas terkait memonitor > kasus-kasus seperti ini, agar investor yang masuk ke pelosok seperrti desa > kami tidak senaknya saja membuat proyek yang merugikan masyarakat. [Non-text portions of this message have been removed]

