Dear All,
Di perguruan tinggi di negeri kita, kita tidak mengenal istilah: assistant
professor, associate professor, professor atau chair professor. Seperti
biasanya, segala sesuatu yang menyangkut perguruan tinggi di Indonesia,
tidak kompatibel dengan di bagian dunia lain. Akibat salah asuh sistem
pendidikan kita.
Di kita (dulu) ketika jaman "normal", ada sarjana muda, ada sarjana, ada
diploma, ada spesialis, yang sangat tidak kompatibel dengan perguruan tinggi
di belahan bumi lain (tidak kompatibel dengan pengertian, kalau melanjutkan
ke luar negeri, bingung kesetaraannya). Sampai dengan pertengahan tahun
1990an (1995-1996), kita masih mengenal BA, BE, BSc, Drs, Ir, SH, SE dll.
Ini akibat dari pengaruh belanda yang menurut saya adalah penjajah yang
terjelek di dunia (mungkin kalau di ranking dari yang terbaik sampai yang
terburuk: inggris, perancis, spanyol, portugis, dan yang terjelek:
belanda!).
Insinyur (dari ingenieur: dutch, germany, france) di belanda sono waktu itu
(sekarang saya kira sudah tidak dipakai lagi), ekivalen dengan master yang
sedikit lagi dipromosikan ke jenjang doktor, atau doktorandus (untuk bidang
ilmu non-enjinering) yang sejatinya mau dipromosikan jadi doktor (kandidat
doktor). Sistem ini dijiplak oleh sistem pendidikan indonesia, ada insinyur
atau doktorandus (12 semester, kredit ekivalen dengan 210 walaupun tidak
pake kredit). Tapi dua-duanya tidak diakui di amrik misalnya sebagai lulusan
post-graduate (master), mereka dianggap under-graduate. Jadi para insinyur
dan doktorandus atau doktoranda yang sekolah lagi di LN harus ngambil
master, tidak bisa langsung ngambil doktor (tidak kompatibel).
Pada masa itu juga, ada BA (Bachelor of Arts) atau BE (Bachelor of
Engineering) atau BSc (Bachelor of Science), atau BBA (Bachelor of Business
Administration) (yang teman saya suka ngeledek temen yang satunya lagi yang
punya gelar BBA dari Universitas Mustopo Beragama dengan maaf babi, bagong
anjing). Itu adalah lulusan sarjana muda yang resmi dan di ijazahnya
tertulis gelar-gelar itu. Ini yang rancu, tapi menghasilkan sebuah blessing
in disguise bagi puluhan orang. Orang PU yang bergelar BE (asli sarjana
muda) diterima di Universitas India (Roorkee misalnya) untuk sekolah master,
dan sekitar 75 orang PU dapat gelar master of engineering (ME) dari Roorkee.
Orang Roorkee kan tidak tahu sejarahnya, yang mereka tahu Bachelor of
Engineering adalah lulusan universitas yang bisa melanjutkan ke master of
engineering dan terus ke doktor. Ini blessing in disguise-nya, dari pangkat
II/b (kopral) setelah dapat ME langsung disesuaikan dengan pangkat III/a
atau III/b (letda atau lettu). Dan hebatnya Depdiknas (dulu P&K) mengakui
ijazah ME Roorkee ini setara dengan S2.
Kondisi di atas tentu saja membuat gerah lulusan tukang insinyur indonesia
(orang PU) yang kuliahnya 7-9 tahun. Bayangkan BE (Indonesia, 3 tahun) + ME
(Roorkee, India 18 bulan) = S2 (4 tahun 6 bulan) kurang dari 5 tahun pangkat
naik, jabatan dipromosikan, gaji naik (pangkat terakhir kalau pensiun dan
tidak punya jabatan adalah IV/b). Bandingkan dengan tukang insinyur 7-9
tahun hanya S1 (pangkat terakhir kalau tidak punya jabatan adalah IV/a).
Gerah kan?
Ini satu dari sekian keanehan sistem pendidikan di kita ...
Inkompatibilitas yang lain: Pangkat di perguruan tinggi (untuk tenaga
akademik) yang berlaku saat ini sepengetahuan saya adalah: Asisten Ahli
(III/a-III/b), Lektor (III/c-III/d), Lektor Kepala (IV/a-IV/c), Guru besar
Madya (IV/d), Guru Besar (IV/e). Guru besar madya dan guru besar disebut
juga professor.
Di sinilah tidak kompatibelnya: di perguruan tinggi luar negeri di bagian
belahan bumi lain kan hanya ada assistant professor, associate professor,
dan professor, atau chair professor (di AIT disebut above-scale professor).
Di Indonesia atau orang indonesia pada umumnya, hanya mengenal professor,
profesor ya profesor tidak ada assistant, associate atau full professorship.
Dalam kasus Nelson Tansu ini, dia adalah ASSISTANT PROFESSOR (bukan full
professor) http://www.ece.lehigh.edu/index.php?page=nelson-tansu. Tentu saja
beda sekali antara Assistant Professor dengan Professor. Jadi, menurut saya
bukan sebuah prestasi yang phenomenal, siapapun kalau hanya sekedar
assistant professor, bisa termasuk kang Didin dan mas Syamsul. Karena
bergitu kita diterima sebagai pengajar universitas di amrik misalnya, kita
sudah dengan sendirinya menyandang gelar ASSISTANT Professor (tapi bukan
professor).
Kalau lulus SMA berumur 15 atau 16 tahun plus universitas 4 tahun plus
master 2 tahun plus doktor 3 tahun dan lancar-lancar saja, seseorang bisa
lulus doktor pada umur 25 tahun dan bisa jadi assistant professor pada umur
24-25 tahun itu. Di AIT seorang assistant professor normalnya dipromosikan
ke associate professor setelah 7-8 tahun (tergantung prestasinya: journal,
ngajar, paten, bawa duit ke AIT, riset, nulis buku, dll), dan associate
professor normalnya dipromosikan menjadi full professor setelah 5-7 tahun
(tergantung prestasinya dan kondisi keuangan AIT juga).
Kembali lagi ke indonesia. Ketika menteri P&K sampai dengan Wardiman
Djojonegoro, S1 dan mereka yang tidak pernah ngajar di perguruan tinggi pun
bisa dapat mencapai derajat professor, karena profesor di kita tergantung
kepada 1 orang saja yaitu Menteri Pendidikan (Diknas atau P&K atau apapun),
memang SK-nya sih dari presiden, tapi apakah presiden akan menolak kalau
sudah diusulkan oleh menteri pendidikannya? Jadi tidak heran banyak Prof. Ir
atau Prof. SH, atau Prof. Drs. tapi yang heran lagi mereka yang profesor
tapi pendidikan formalnya hanya S1 membimbing mahasiswa doktor. Bagaimana S1
(+prof) pengeahuannya melebihi S2+ atau S3- Tapi seorang dosen saya yang
bergelar Prof Ir beliau ini menjadi promotor mahasiswa doktor, saya candain
gimana caranya bapak memimbing mahasiwa doktoral? beliau menjawab pilosofis:
itu masalah kewenangan dan keterampilan mas! Maksud beliau, anak umur 15
tahun pinter nyetir mobil tapi dia tidak berhak punya SIM sebelum umur 17
tahun.
Dan masih jaman Wardiman juga, dia yang tidak pernah ngajar bisa jadi
profesor karena dia sendiri yang mengeluarkan SK, menjadi Prof Dr-Ing
Wardiman Djojonegoro, konconya Haryanto Dhanuthirto juga dianugerahi pangkat
profesor menjadi Prof Dr Haryanto Danuthirto, padahal gak pernah ngajar.
Ginanjar Kartasasmita, sami mawon dengan Prof Drs Ir Ginanjar Kartasasmita,
yang kemudian menjadi Prof Dr Ginanjar Kartasasmita dapat Dr HC juga entah
dari mana. Begitulah, indonesia ini masih menjadi negara aneh.Saking anehnya
bangsa ini, profesor dianggap gelar, profesor bukan gelar! tapi
PANGKAT.Akibatnya, Rhoma Irama dapat gelar professor dari universitas yang
namanya Global University, gelar dan di wisuda di Singapura! sangat
menggelikan dan menyedihkan dengan intelektualitas bangsa ini.Yang aneh lagi
sekarang researcher pun diberi gelar (gelar sekali lagi) dengan Prof (R) ada
R kurung yang artinya profesor riset. Dan, lagi-lagi, ada tabib pakai prof
segala!.
Menurut saya, pangkal dari gelar2 yang aneh dan pangkat pun bisa dijadikan
gelar, karena ada hukum supply dan demand. Bangsa kita ini masih memuja
gelar, karena dengan gelar hidup bisa berbeda. Akibat high demand gelar ini,
gelar dan ijazah aspal bermunculan, karena ada demand, maka ada supply,
universitas ruko bermunculan menawarkan gelar, ijazah palsu dan aspal
bermunculan SMA 2 juta rp, S1 15 juta saja! Termasuk global university yang
di sana tertulis nama bule dengan Prof Dr (bule yang mau dicocok idung),
tidak perlu kuliah, asal (istilah mereka) membayar biaya wisuda di hotel
singapura 30 juta, bisa dapat gelar MSc atau PhD. Mantan Wapres kita, Pak
Hamzah, adalah "peraih" gelar doktor dari universitas ini, padahal
pendidikan formal beliah adalah akademi akuntansi di Kalimantan Selatan.
Bandingkan dengan mahasiswa yang susah payah belajar di AIT, Pak Wong
contohnya, membuat evolusi bioritmik, dengan mengubah siang jadi malam dan
malam jadi siang.
Walaupun menurut saya kasus Nelson Tansu ini kasus biasa dan tidak ada
apa2nya, tetapi dia sudah menunjukkan kelebihannya dengan diterima sebagai
tenaga pengajar (Assistant professor, bukan professor, mungkin menuju
professor nanti) di salah satu universitas di amerika. Sepengetahuan saya,
ada beberapa orang indonesia yang sudah menjadi professor atau associate
professor di universitas amerika. Tapi jangan bergembira dulu, dalam hal
jumlah masih kalah sama bangladesh atau pakistan.
Saya mengharapkan suatu saat nanti ada tenaga pengajar (professor bener)
orang indonesia di MIT, Stanford atau Caltech. atau sekolah kedokteran John
Hopkins dan usianya masih 33 tahun. Karena menurut sebagian orang, menjadi
pengajar di perguruan2 tinggi tersebut adalah salah satu ticket menuju nobel
laureate.
Ngomong2 soal gelar, selamat bagi mereka yang baru saja meraih gelar master,
dan juga yang akan meraih gelar master (pasti bisa, karena master di AIT
sudah didisain, cuman bentuknya saja yang berbeda-beda, lonjong atau bulat
tergantung masing2). Jangan self-complacency, apalagi terkena penyakit NPD,
karena gelar master atau doktor baru kulitnya saja, isinya tergantung pada
kita, karena belajar tidak berhenti ketika kita meraih gelar.
Maaf kepanjangan.
ariva
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo