Bu Emenda,
Di perguruan tinggi kita ini kan sebutan assistant professor dan associate
professor saya kira hanya dicocok-cocokkan saja (karena tidak kompatibel
itu), karena sebutan resminya masih mengacu kepada SK 38 Menko Waspan, bisa
di click di sini http://www.dikti.go.id/Archive2007/angka_kredit.htm yaitu
asisten, lektor, lektor kepala dan guru besar.Sampai detik ini sepengetahuan
saya belum ada Surat Keputusan formal dari pejabat formal (menteri,
president) yang resmi menyebutkan assistant professor atau associate
professor, malahan sebutan professor aja gak ada, yang ada adalah guru
besar.
Saya tidak tahu kalau di BHMN sekarang seperti ITB ada sebutan pangkat
sendiri seperti assistant professor atau associate professor resmi bukan
karena dicocok-cocokkan (tidak merujuk kepada SK 38 Menko Waspan). Tapi
menurut info dari sepupu saya yang Wakil Dekan FSRD ITB menyebutkan
kepangkatan masih merujuk kepada SK itu, walaupun nantinya gajinya beda
dengan gaji PNS biasa.Katanya gaji dosen ITB diharapkan (entah kapan?) bisa
mengejar gaji dosen di Uni malaysia, walaupun belum bisa mengejar gaji dosen
di universitas di US atau Europe.
CMIIW,
ariva
----- Original Message -----
From: <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Sunday, April 26, 2009 8:28 PM
Subject: Re: [AIT-Indo] Professor atau ASSISTANT Professor? -
Tanggapan'professor' termuda
Wah Pak Ariva Indonesia SUDAH menegenal sistem assistant professor,
associate professor, dan professor kok. Setahu saya kalau cuma assistant
professor tidak disebut panggilannya Professor, tetap masih menngunakan
gelar terakhir dalam undangan resmi.
cheers,
Menda
professor.
Quoting "ariva s. permana" <[email protected]> on 04/26/2009:
Dear All,
Di perguruan tinggi di negeri kita, kita tidak mengenal istilah:
assistant professor, associate professor, professor atau chair professor.
Seperti biasanya, segala sesuatu yang menyangkut perguruan tinggi di
Indonesia, tidak kompatibel dengan di bagian dunia lain. Akibat salah
asuh sistem pendidikan kita.
Di kita (dulu) ketika jaman "normal", ada sarjana muda, ada sarjana, ada
diploma, ada spesialis, yang sangat tidak kompatibel dengan perguruan
tinggi di belahan bumi lain (tidak kompatibel dengan pengertian, kalau
melanjutkan ke luar negeri, bingung kesetaraannya). Sampai dengan
pertengahan tahun 1990an (1995-1996), kita masih mengenal BA, BE, BSc,
Drs, Ir, SH, SE dll. Ini akibat dari pengaruh belanda yang menurut saya
adalah penjajah yang terjelek di dunia (mungkin kalau di ranking dari
yang terbaik sampai yang terburuk: inggris, perancis, spanyol, portugis,
dan yang terjelek: belanda!).
Insinyur (dari ingenieur: dutch, germany, france) di belanda sono waktu
itu (sekarang saya kira sudah tidak dipakai lagi), ekivalen dengan master
yang sedikit lagi dipromosikan ke jenjang doktor, atau doktorandus (untuk
bidang ilmu non-enjinering) yang sejatinya mau dipromosikan jadi doktor
(kandidat doktor). Sistem ini dijiplak oleh sistem pendidikan indonesia,
ada insinyur atau doktorandus (12 semester, kredit ekivalen dengan 210
walaupun tidak pake kredit). Tapi dua-duanya tidak diakui di amrik
misalnya sebagai lulusan post-graduate (master), mereka dianggap
under-graduate. Jadi para insinyur dan doktorandus atau doktoranda yang
sekolah lagi di LN harus ngambil master, tidak bisa langsung ngambil
doktor (tidak kompatibel).
Pada masa itu juga, ada BA (Bachelor of Arts) atau BE (Bachelor of
Engineering) atau BSc (Bachelor of Science), atau BBA (Bachelor of
Business Administration) (yang teman saya suka ngeledek temen yang
satunya lagi yang punya gelar BBA dari Universitas Mustopo Beragama
dengan maaf babi, bagong anjing). Itu adalah lulusan sarjana muda yang
resmi dan di ijazahnya tertulis gelar-gelar itu. Ini yang rancu, tapi
menghasilkan sebuah blessing in disguise bagi puluhan orang. Orang PU
yang bergelar BE (asli sarjana muda) diterima di Universitas India
(Roorkee misalnya) untuk sekolah master, dan sekitar 75 orang PU dapat
gelar master of engineering (ME) dari Roorkee. Orang Roorkee kan tidak
tahu sejarahnya, yang mereka tahu Bachelor of Engineering adalah lulusan
universitas yang bisa melanjutkan ke master of engineering dan terus ke
doktor. Ini blessing in disguise-nya, dari pangkat II/b (kopral) setelah
dapat ME langsung disesuaikan dengan pangkat III/a atau III/b (letda atau
lettu). Dan hebatnya Depdiknas (dulu P&K) mengakui ijazah ME Roorkee ini
setara dengan S2.
Kondisi di atas tentu saja membuat gerah lulusan tukang insinyur
indonesia (orang PU) yang kuliahnya 7-9 tahun. Bayangkan BE (Indonesia, 3
tahun) + ME (Roorkee, India 18 bulan) = S2 (4 tahun 6 bulan) kurang dari
5 tahun pangkat naik, jabatan dipromosikan, gaji naik (pangkat terakhir
kalau pensiun dan tidak punya jabatan adalah IV/b). Bandingkan dengan
tukang insinyur 7-9 tahun hanya S1 (pangkat terakhir kalau tidak punya
jabatan adalah IV/a). Gerah kan?
Ini satu dari sekian keanehan sistem pendidikan di kita ...
Inkompatibilitas yang lain: Pangkat di perguruan tinggi (untuk tenaga
akademik) yang berlaku saat ini sepengetahuan saya adalah: Asisten Ahli
(III/a-III/b), Lektor (III/c-III/d), Lektor Kepala (IV/a-IV/c), Guru
besar Madya (IV/d), Guru Besar (IV/e). Guru besar madya dan guru besar
disebut juga professor.
Di sinilah tidak kompatibelnya: di perguruan tinggi luar negeri di bagian
belahan bumi lain kan hanya ada assistant professor, associate professor,
dan professor, atau chair professor (di AIT disebut above-scale
professor). Di Indonesia atau orang indonesia pada umumnya, hanya
mengenal professor, profesor ya profesor tidak ada assistant, associate
atau full professorship. Dalam kasus Nelson Tansu ini, dia adalah
ASSISTANT PROFESSOR (bukan full professor)
http://www.ece.lehigh.edu/index.php?page=nelson-tansu. Tentu saja beda
sekali antara Assistant Professor dengan Professor. Jadi, menurut saya
bukan sebuah prestasi yang phenomenal, siapapun kalau hanya sekedar
assistant professor, bisa termasuk kang Didin dan mas Syamsul. Karena
bergitu kita diterima sebagai pengajar universitas di amrik misalnya,
kita sudah dengan sendirinya menyandang gelar ASSISTANT Professor (tapi
bukan professor).
Kalau lulus SMA berumur 15 atau 16 tahun plus universitas 4 tahun plus
master 2 tahun plus doktor 3 tahun dan lancar-lancar saja, seseorang bisa
lulus doktor pada umur 25 tahun dan bisa jadi assistant professor pada
umur 24-25 tahun itu. Di AIT seorang assistant professor normalnya
dipromosikan ke associate professor setelah 7-8 tahun (tergantung
prestasinya: journal, ngajar, paten, bawa duit ke AIT, riset, nulis buku,
dll), dan associate professor normalnya dipromosikan menjadi full
professor setelah 5-7 tahun (tergantung prestasinya dan kondisi keuangan
AIT juga).
Kembali lagi ke indonesia. Ketika menteri P&K sampai dengan Wardiman
Djojonegoro, S1 dan mereka yang tidak pernah ngajar di perguruan tinggi
pun bisa dapat mencapai derajat professor, karena profesor di kita
tergantung kepada 1 orang saja yaitu Menteri Pendidikan (Diknas atau P&K
atau apapun), memang SK-nya sih dari presiden, tapi apakah presiden akan
menolak kalau sudah diusulkan oleh menteri pendidikannya? Jadi tidak
heran banyak Prof. Ir atau Prof. SH, atau Prof. Drs. tapi yang heran lagi
mereka yang profesor tapi pendidikan formalnya hanya S1 membimbing
mahasiswa doktor. Bagaimana S1 (+prof) pengeahuannya melebihi S2+ atau
S3- Tapi seorang dosen saya yang bergelar Prof Ir beliau ini menjadi
promotor mahasiswa doktor, saya candain gimana caranya bapak memimbing
mahasiwa doktoral? beliau menjawab pilosofis: itu masalah kewenangan dan
keterampilan mas! Maksud beliau, anak umur 15 tahun pinter nyetir mobil
tapi dia tidak berhak punya SIM sebelum umur 17 tahun.
Dan masih jaman Wardiman juga, dia yang tidak pernah ngajar bisa jadi
profesor karena dia sendiri yang mengeluarkan SK, menjadi Prof Dr-Ing
Wardiman Djojonegoro, konconya Haryanto Dhanuthirto juga dianugerahi
pangkat profesor menjadi Prof Dr Haryanto Danuthirto, padahal gak pernah
ngajar. Ginanjar Kartasasmita, sami mawon dengan Prof Drs Ir Ginanjar
Kartasasmita, yang kemudian menjadi Prof Dr Ginanjar Kartasasmita dapat
Dr HC juga entah dari mana. Begitulah, indonesia ini masih menjadi negara
aneh.Saking anehnya bangsa ini, profesor dianggap gelar, profesor bukan
gelar! tapi PANGKAT.Akibatnya, Rhoma Irama dapat gelar professor dari
universitas yang namanya Global University, gelar dan di wisuda di
Singapura! sangat menggelikan dan menyedihkan dengan intelektualitas
bangsa ini.Yang aneh lagi sekarang researcher pun diberi gelar (gelar
sekali lagi) dengan Prof (R) ada R kurung yang artinya profesor riset.
Dan, lagi-lagi, ada tabib pakai prof segala!.
Menurut saya, pangkal dari gelar2 yang aneh dan pangkat pun bisa
dijadikan gelar, karena ada hukum supply dan demand. Bangsa kita ini
masih memuja gelar, karena dengan gelar hidup bisa berbeda. Akibat high
demand gelar ini, gelar dan ijazah aspal bermunculan, karena ada demand,
maka ada supply, universitas ruko bermunculan menawarkan gelar, ijazah
palsu dan aspal bermunculan SMA 2 juta rp, S1 15 juta saja! Termasuk
global university yang di sana tertulis nama bule dengan Prof Dr (bule
yang mau dicocok idung), tidak perlu kuliah, asal (istilah mereka)
membayar biaya wisuda di hotel singapura 30 juta, bisa dapat gelar MSc
atau PhD. Mantan Wapres kita, Pak Hamzah, adalah "peraih" gelar doktor
dari universitas ini, padahal pendidikan formal beliah adalah akademi
akuntansi di Kalimantan Selatan.
Bandingkan dengan mahasiswa yang susah payah belajar di AIT, Pak Wong
contohnya, membuat evolusi bioritmik, dengan mengubah siang jadi malam
dan malam jadi siang.
Walaupun menurut saya kasus Nelson Tansu ini kasus biasa dan tidak ada
apa2nya, tetapi dia sudah menunjukkan kelebihannya dengan diterima
sebagai tenaga pengajar (Assistant professor, bukan professor, mungkin
menuju professor nanti) di salah satu universitas di amerika.
Sepengetahuan saya, ada beberapa orang indonesia yang sudah menjadi
professor atau associate professor di universitas amerika. Tapi jangan
bergembira dulu, dalam hal jumlah masih kalah sama bangladesh atau
pakistan.
Saya mengharapkan suatu saat nanti ada tenaga pengajar (professor bener)
orang indonesia di MIT, Stanford atau Caltech. atau sekolah kedokteran
John Hopkins dan usianya masih 33 tahun. Karena menurut sebagian orang,
menjadi pengajar di perguruan2 tinggi tersebut adalah salah satu ticket
menuju nobel laureate.
Ngomong2 soal gelar, selamat bagi mereka yang baru saja meraih gelar
master, dan juga yang akan meraih gelar master (pasti bisa, karena master
di AIT sudah didisain, cuman bentuknya saja yang berbeda-beda, lonjong
atau bulat tergantung masing2). Jangan self-complacency, apalagi terkena
penyakit NPD, karena gelar master atau doktor baru kulitnya saja, isinya
tergantung pada kita, karena belajar tidak berhenti ketika kita meraih
gelar.
Maaf kepanjangan.
ariva
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo