Dear pak Ariva,
mungkin bapak merancukan anatara jabatan fungsional dan golongan/pangkat.
Sudah berlaku sejak BHMN Pak. Tapi saya malss nyari SK nya ...maaf ya.

Cheers,
Menda



Quoting "ariva s. permana" <[email protected]> on 04/27/2009:

Bu Emenda,

Di perguruan tinggi kita ini kan sebutan assistant professor dan associate professor saya kira hanya dicocok-cocokkan saja (karena tidak kompatibel itu), karena sebutan resminya masih mengacu kepada SK 38 Menko Waspan, bisa di click di sini http://www.dikti.go.id/Archive2007/angka_kredit.htm yaitu asisten, lektor, lektor kepala dan guru besar.Sampai detik ini sepengetahuan saya belum ada Surat Keputusan formal dari pejabat formal (menteri, president) yang resmi menyebutkan assistant professor atau associate professor, malahan sebutan professor aja gak ada, yang ada adalah guru besar.

Saya tidak tahu kalau di BHMN sekarang seperti ITB ada sebutan pangkat sendiri seperti assistant professor atau associate professor resmi bukan karena dicocok-cocokkan (tidak merujuk kepada SK 38 Menko Waspan). Tapi menurut info dari sepupu saya yang Wakil Dekan FSRD ITB menyebutkan kepangkatan masih merujuk kepada SK itu, walaupun nantinya gajinya beda dengan gaji PNS biasa.Katanya gaji dosen ITB diharapkan (entah kapan?) bisa mengejar gaji dosen di Uni malaysia, walaupun belum bisa mengejar gaji dosen di universitas di US atau Europe.

CMIIW,
ariva


----- Original Message ----- From: <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Sunday, April 26, 2009 8:28 PM
Subject: Re: [AIT-Indo] Professor atau ASSISTANT Professor? - Tanggapan'professor' termuda


Wah Pak Ariva Indonesia SUDAH menegenal sistem assistant professor, associate professor, dan professor kok. Setahu saya kalau cuma assistant professor tidak disebut panggilannya Professor, tetap masih menngunakan gelar terakhir dalam undangan resmi.

cheers,
Menda


professor.
Quoting "ariva s. permana" <[email protected]> on 04/26/2009:

Dear All,

Di perguruan tinggi di negeri kita, kita tidak mengenal istilah: assistant professor, associate professor, professor atau chair professor. Seperti biasanya, segala sesuatu yang menyangkut perguruan tinggi di Indonesia, tidak kompatibel dengan di bagian dunia lain. Akibat salah asuh sistem pendidikan kita.

Di kita (dulu) ketika jaman "normal", ada sarjana muda, ada sarjana, ada diploma, ada spesialis, yang sangat tidak kompatibel dengan perguruan tinggi di belahan bumi lain (tidak kompatibel dengan pengertian, kalau melanjutkan ke luar negeri, bingung kesetaraannya). Sampai dengan pertengahan tahun 1990an (1995-1996), kita masih mengenal BA, BE, BSc, Drs, Ir, SH, SE dll. Ini akibat dari pengaruh belanda yang menurut saya adalah penjajah yang terjelek di dunia (mungkin kalau di ranking dari yang terbaik sampai yang terburuk: inggris, perancis, spanyol, portugis, dan yang terjelek: belanda!).

Insinyur (dari ingenieur: dutch, germany, france) di belanda sono waktu itu (sekarang saya kira sudah tidak dipakai lagi), ekivalen dengan master yang sedikit lagi dipromosikan ke jenjang doktor, atau doktorandus (untuk bidang ilmu non-enjinering) yang sejatinya mau dipromosikan jadi doktor (kandidat doktor). Sistem ini dijiplak oleh sistem pendidikan indonesia, ada insinyur atau doktorandus (12 semester, kredit ekivalen dengan 210 walaupun tidak pake kredit). Tapi dua-duanya tidak diakui di amrik misalnya sebagai lulusan post-graduate (master), mereka dianggap under-graduate. Jadi para insinyur dan doktorandus atau doktoranda yang sekolah lagi di LN harus ngambil master, tidak bisa langsung ngambil doktor (tidak kompatibel).

Pada masa itu juga, ada BA (Bachelor of Arts) atau BE (Bachelor of Engineering) atau BSc (Bachelor of Science), atau BBA (Bachelor of Business Administration) (yang teman saya suka ngeledek temen yang satunya lagi yang punya gelar BBA dari Universitas Mustopo Beragama dengan maaf babi, bagong anjing). Itu adalah lulusan sarjana muda yang resmi dan di ijazahnya tertulis gelar-gelar itu. Ini yang rancu, tapi menghasilkan sebuah blessing in disguise bagi puluhan orang. Orang PU yang bergelar BE (asli sarjana muda) diterima di Universitas India (Roorkee misalnya) untuk sekolah master, dan sekitar 75 orang PU dapat gelar master of engineering (ME) dari Roorkee. Orang Roorkee kan tidak tahu sejarahnya, yang mereka tahu Bachelor of Engineering adalah lulusan universitas yang bisa melanjutkan ke master of engineering dan terus ke doktor. Ini blessing in disguise-nya, dari pangkat II/b (kopral) setelah dapat ME langsung disesuaikan dengan pangkat III/a atau III/b (letda atau lettu). Dan hebatnya Depdiknas (dulu P&K) mengakui ijazah ME Roorkee ini setara dengan S2.

Kondisi di atas tentu saja membuat gerah lulusan tukang insinyur indonesia (orang PU) yang kuliahnya 7-9 tahun. Bayangkan BE (Indonesia, 3 tahun) + ME (Roorkee, India 18 bulan) = S2 (4 tahun 6 bulan) kurang dari 5 tahun pangkat naik, jabatan dipromosikan, gaji naik (pangkat terakhir kalau pensiun dan tidak punya jabatan adalah IV/b). Bandingkan dengan tukang insinyur 7-9 tahun hanya S1 (pangkat terakhir kalau tidak punya jabatan adalah IV/a). Gerah kan?

Ini satu dari sekian keanehan sistem pendidikan di kita ...

Inkompatibilitas yang lain: Pangkat di perguruan tinggi (untuk tenaga akademik) yang berlaku saat ini sepengetahuan saya adalah: Asisten Ahli (III/a-III/b), Lektor (III/c-III/d), Lektor Kepala (IV/a-IV/c), Guru besar Madya (IV/d), Guru Besar (IV/e). Guru besar madya dan guru besar disebut juga professor.

Di sinilah tidak kompatibelnya: di perguruan tinggi luar negeri di bagian belahan bumi lain kan hanya ada assistant professor, associate professor, dan professor, atau chair professor (di AIT disebut above-scale professor). Di Indonesia atau orang indonesia pada umumnya, hanya mengenal professor, profesor ya profesor tidak ada assistant, associate atau full professorship. Dalam kasus Nelson Tansu ini, dia adalah ASSISTANT PROFESSOR (bukan full professor) http://www.ece.lehigh.edu/index.php?page=nelson-tansu. Tentu saja beda sekali antara Assistant Professor dengan Professor. Jadi, menurut saya bukan sebuah prestasi yang phenomenal, siapapun kalau hanya sekedar assistant professor, bisa termasuk kang Didin dan mas Syamsul. Karena bergitu kita diterima sebagai pengajar universitas di amrik misalnya, kita sudah dengan sendirinya menyandang gelar ASSISTANT Professor (tapi bukan professor).

Kalau lulus SMA berumur 15 atau 16 tahun plus universitas 4 tahun plus master 2 tahun plus doktor 3 tahun dan lancar-lancar saja, seseorang bisa lulus doktor pada umur 25 tahun dan bisa jadi assistant professor pada umur 24-25 tahun itu. Di AIT seorang assistant professor normalnya dipromosikan ke associate professor setelah 7-8 tahun (tergantung prestasinya: journal, ngajar, paten, bawa duit ke AIT, riset, nulis buku, dll), dan associate professor normalnya dipromosikan menjadi full professor setelah 5-7 tahun (tergantung prestasinya dan kondisi keuangan AIT juga).

Kembali lagi ke indonesia. Ketika menteri P&K sampai dengan Wardiman Djojonegoro, S1 dan mereka yang tidak pernah ngajar di perguruan tinggi pun bisa dapat mencapai derajat professor, karena profesor di kita tergantung kepada 1 orang saja yaitu Menteri Pendidikan (Diknas atau P&K atau apapun), memang SK-nya sih dari presiden, tapi apakah presiden akan menolak kalau sudah diusulkan oleh menteri pendidikannya? Jadi tidak heran banyak Prof. Ir atau Prof. SH, atau Prof. Drs. tapi yang heran lagi mereka yang profesor tapi pendidikan formalnya hanya S1 membimbing mahasiswa doktor. Bagaimana S1 (+prof) pengeahuannya melebihi S2+ atau S3- Tapi seorang dosen saya yang bergelar Prof Ir beliau ini menjadi promotor mahasiswa doktor, saya candain gimana caranya bapak memimbing mahasiwa doktoral? beliau menjawab pilosofis: itu masalah kewenangan dan keterampilan mas! Maksud beliau, anak umur 15 tahun pinter nyetir mobil tapi dia tidak berhak punya SIM sebelum umur 17 tahun.

Dan masih jaman Wardiman juga, dia yang tidak pernah ngajar bisa jadi profesor karena dia sendiri yang mengeluarkan SK, menjadi Prof Dr-Ing Wardiman Djojonegoro, konconya Haryanto Dhanuthirto juga dianugerahi pangkat profesor menjadi Prof Dr Haryanto Danuthirto, padahal gak pernah ngajar. Ginanjar Kartasasmita, sami mawon dengan Prof Drs Ir Ginanjar Kartasasmita, yang kemudian menjadi Prof Dr Ginanjar Kartasasmita dapat Dr HC juga entah dari mana. Begitulah, indonesia ini masih menjadi negara aneh.Saking anehnya bangsa ini, profesor dianggap gelar, profesor bukan gelar! tapi PANGKAT.Akibatnya, Rhoma Irama dapat gelar professor dari universitas yang namanya Global University, gelar dan di wisuda di Singapura! sangat menggelikan dan menyedihkan dengan intelektualitas bangsa ini.Yang aneh lagi sekarang researcher pun diberi gelar (gelar sekali lagi) dengan Prof (R) ada R kurung yang artinya profesor riset. Dan, lagi-lagi, ada tabib pakai prof segala!.

Menurut saya, pangkal dari gelar2 yang aneh dan pangkat pun bisa dijadikan gelar, karena ada hukum supply dan demand. Bangsa kita ini masih memuja gelar, karena dengan gelar hidup bisa berbeda. Akibat high demand gelar ini, gelar dan ijazah aspal bermunculan, karena ada demand, maka ada supply, universitas ruko bermunculan menawarkan gelar, ijazah palsu dan aspal bermunculan SMA 2 juta rp, S1 15 juta saja! Termasuk global university yang di sana tertulis nama bule dengan Prof Dr (bule yang mau dicocok idung), tidak perlu kuliah, asal (istilah mereka) membayar biaya wisuda di hotel singapura 30 juta, bisa dapat gelar MSc atau PhD. Mantan Wapres kita, Pak Hamzah, adalah "peraih" gelar doktor dari universitas ini, padahal pendidikan formal beliah adalah akademi akuntansi di Kalimantan Selatan.

Bandingkan dengan mahasiswa yang susah payah belajar di AIT, Pak Wong contohnya, membuat evolusi bioritmik, dengan mengubah siang jadi malam dan malam jadi siang.

Walaupun menurut saya kasus Nelson Tansu ini kasus biasa dan tidak ada apa2nya, tetapi dia sudah menunjukkan kelebihannya dengan diterima sebagai tenaga pengajar (Assistant professor, bukan professor, mungkin menuju professor nanti) di salah satu universitas di amerika. Sepengetahuan saya, ada beberapa orang indonesia yang sudah menjadi professor atau associate professor di universitas amerika. Tapi jangan bergembira dulu, dalam hal jumlah masih kalah sama bangladesh atau pakistan.

Saya mengharapkan suatu saat nanti ada tenaga pengajar (professor bener) orang indonesia di MIT, Stanford atau Caltech. atau sekolah kedokteran John Hopkins dan usianya masih 33 tahun. Karena menurut sebagian orang, menjadi pengajar di perguruan2 tinggi tersebut adalah salah satu ticket menuju nobel laureate.

Ngomong2 soal gelar, selamat bagi mereka yang baru saja meraih gelar master, dan juga yang akan meraih gelar master (pasti bisa, karena master di AIT sudah didisain, cuman bentuknya saja yang berbeda-beda, lonjong atau bulat tergantung masing2). Jangan self-complacency, apalagi terkena penyakit NPD, karena gelar master atau doktor baru kulitnya saja, isinya tergantung pada kita, karena belajar tidak berhenti ketika kita meraih gelar.

Maaf  kepanjangan.
ariva






_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo




_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo




_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

Kirim email ke