Sedikit nyambung. Setahu ana, dalam memilih pemimpin/penguasa ada beberapa jalan : 1. Penunjukan dari khalifah sebelumnya, ini sebagaimana dilakukan oleh Abu Bakar Radliyallahu 'Anhu dengan menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya. 2. Khalifah tidak menunjuk penggantinya secara langsung, tetapi mengutus beberapa orang alim untuk bermusyawarah untuk memutuskan siapa yg pantas menjadi khalifah. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab yg menunjuk beberapa sahabat terkemuka yg kemudian dikenal sebagai Ahlul hali wal aqdi. 3. Jika khalifah meninggal, sebelum sempat memberikan wasiat tentang penggantinya? (ini yg ana gak tahu, mungkin ada yg bisa menolong?)
Maka sistem kerajaan sebenarnya menganut cara ke-1. Akan tetapi memang, seharusnya dalam memilih khalifah pengganti benar2 mempertimbangkan kemampuannya dan juga maslahat dan mafsadat. Perlu kita ketahui bersama disini, bahwa pujian kita terhadap negeri Saudi, tidaklah semata-mata karena negeri itu sendiri (fanatisme buta). Kita memuji negeri Saudi karena memang saat ini, tidak ada negeri yg paling konsisten dalam menegakkan syariat Allah daripada negeri Saudi, dengan segala kekurangannya. Kalau kita mendambakan suatu negeri yg benar2 sempurna, adanya ya hanya di Syurga. Bahkan pada masa Rasulullah ada juga orang munafik, penzina, perampok dll. Dan tidaklah pencela ini, kecuali anak cucunya khawarij, yg mencaci maki dan mengkafirkan Ali Radliyallahu 'Anhu. Dan saya rasa akhlaq ini mereka dapatkan (tanpa disadari) dr pendahulu mereka Sayyid quthb yg mencela habis2an bahkan hampir2 mengkafirkan Utsman bin Affan Radliyallahu 'Anhu. Ana sarankan kepada akhi tomi, dan juga ikhwan2 lain yg baru meniti manhaj ini (baik dr yg semula kufur maupun tersesat). Untuk lebih memprioritaskan mencari ilmu. Karena bukan tidak mungkin, tanpa sadar ikhwah sekalian justru balik lagi ke manhaj sebelumnya, atau tersesat ke manhaj yg lain. Biasanya org yg baru meniti manhaj ini (pengalaman pribadi) karena terlalu semangat untuk menasehati maka dengan hanya bekal semangat dan ilmu yg cekak mencoba mengajak debat ahlul ahwa, sehingga biasanya tidak lepas dr 2 kondisi (yaitu berdebat dengan akal dan atau menjadi orang yg mutasyaddid/keras dan kasar). Mungkin ikhwah sekalian mengenal Hj. Irene Handono yg sebelumnya kristen. Ketika keluar dr agama kristen maka dia begitu gencar mendakwahkan Islam dan mengkritik kristen (padahal kita tidak tahu seberapa bekal keislamannya, dan kapan belajarnya). Beberapa hari yg lalu saya melihat di toko buku, dia memberikan tulisan pengantar untuk buku yg tidak syak lagi kesesatannya berjudul (kurang lebih) "JANGAN DITUNGGU, ISA TIDAK AKAN TURUN KE BUMI". Wallahu A'lam, jika memang beliau bergabung dg kaum ini, bukankah ini artinya berpindah dr satu sudut neraka ke sudut lainnya? Semoga saja dugaan saya salah. Dan jika benar semoga Allah menunjukinya jalan yg haq ini. Akan tetapi apapun itu, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua utk lebih mendahulukan ilmu sebelum amal. Afwan sebelumnya, kl ada kata yg tidak berkenan Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu Sent by: "Abu Faizah" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Subject: Re: [assunnah] Tanya Sistem Kerajaan di Saudi 03/31/2006 11:09 AM wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh Ini kutipan dari artikel yang ana copy-paste dari almanhaj.or.id dengan judul: SESUNGGUHNYA ISLAM YANG AKAN DATANG ADALAH ISLAM SUNNI SALAFI YANG MEMPERSATUKAN DAN TIDAK MEMECAH BELAH Oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilali ....................... Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang berderajat hasan, yaitu hadits Hudzaifah, dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memeberitakan .... maka Nabi bersabda. "Artinya : Adalah di tengah-tengah kamu (masa) kenabian sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada (masa) khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj (jalan) kenabian sampai pada (masa) yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Setelah itu akan ada kerajaan yang menggigit dengan kuat (berpegang pada sunnah) hingga pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Sesudah itu akan ada kerajaan yang sewenang-wenang sampai pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada Khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj (jalan) kenabian. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diam" [Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Lihat Silsilah Shahihah No. 5] ....................... ana pernah mendengar dalam suatu daurah oleh ustadz Abu Ihsan (kalau tidak salah daurah di purwokerto: bedah buku pandangan tajam thd politik, rekamannya ada di http://assunnah.mine.nu), berdasarkan hadits tersebut hanya dua sistem pemerintahan yang dikenal dalam islam, yaitu sistem khilafah dan kerajaan. demikian yang dapat ana sampaikan, mohon maaf kalau ada kalau ada kesalahan. Abu Faizah tomy budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamuaa'laikum wr wb Mohon maaf sebelumnya akhi ana (Abdurahman) mungkin mengganggu waktu antum, untuk sebuah pertanyaan yang selama ini kerap kali mengganjal dan ana belum tau jawabnya... mungkin antum bisa bantu ana untuk cari jawabnya..... Begini ana tadinya seorang yang bermanhaj haraki (PKS), namun alhamdulillah Allah tunjukkan hidayahnya sehingga ana tertarik mempelajari manhaj salaf dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan manhaj haraki yang selama ini ana pegang...dan ana merasa mantap denganya.. insyaallah dia memberikan keistiqomahannya. aamiin.. Ada satu pertanyaan yang masih ana cari tau jawabnya, yaitu terkait dengan permasalahan Politik.. Ana yakin benar seyakinnya bahwa demokrasi yang dulu ana dukung merupakan suatu sistem kufar yang menyalahi syariat dan tidak ada demokrasi islami...Namun kerapkali subhat hizbiyah melontarkan pemikirannya sebagai berikut: "Kalau memang sistem dekmokrasi itu tidak islami dan salah, lalu bagaimana dengan sistem kerajaan yang selama ini dianut oleh Saudi Arabia, apakah islami?" Apakah sistem keajaan juga tidak dikenal dalam islam dalam penetapan pemimpin?" demikian akhi.. Ana berharap antum bisa memberikan sedikit referensi atau jawaban untuk membantah subhat ini... Sukron Salam Abdurachman -------------------------------------------- Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
