Saya tertarik dengan perkataan antum (Abu Maryam) yang mengutip
perkataan Ustadz Yazid (semoga Allah Ta'ala menjaga
beliau):'(psikologi adalah) ilmu dusta ya akhi.'
Apakah tidak ada penjelasannya lebih lanjut ?
Kalau sepotong2 seperti itu bisa "misleading" (kalau pakai kata
"menyesatkan" bisa berkonotasi lain; maksud saya tidak ada kaitan
dengan makna "sesat" karena akidah yang salah). Seolah-olah semua
bagian dari ilmu psikologi adalah ilmu dusta.

Ilustrasinya begini, ilmu psikologi yang akrab dengan keseharian kita.
Kalau berdiri diatas rel kereta api, di kejauhan seolah-olah rel
tersebut bersatu. Padahal nyatanya tidak. 
Fenomenon yang lain lagi misalnya fatamorgana.
Atau panca-indra yang lain, seperti telinga; seringkali keliru
seolah-olah mendengar suaranya A ternyata B. 
Kaitannya dengan cara kerja otak menginterpretasikan informasi yang
masuk dari indera.

Mungkin yang dimaksud "syubhat" oleh akh Rizki Mulyawan, bagian mana
dari psikologi ?

Mohon klarifikasinya disertai landasan dalil yang jelas agar terhindar
dari katanya fulan dari katanya fulan.

Dhany Arifianto
1973M; Auditory Neuroscience, Lancaster UK. 

--- In [email protected], lulu aliudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wallohu a'lam. seorang teman saya seorang psikolog bercerita kepada
saya: ketika saya bertemu dengan ustadz yazid jawwas dan
memperkenalkan diri kepada beliau dan mengatakan bahwa saya adalah
psikolog, al ustadz yazid langsung berkomentar '(psikologi adalah)
ilmu dusta ya akhi.'
> Sebenarnya kita bisa menilai dari materi pelajaran psikologi yang
dibangun dari ilmu filsafat (kalam) yang jelas jelas diharomkan oleh
dinul islam. Adapun rujukan kita ketika menghadapi masalah adalah
ulama bukan psikolog.
> 
> Al Faqir Abu Maryam
> 
> 
> Rizki Mulyawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalaamu 'alaykum wa rachmatullaahi wa barakaatuh,
> Ayyuhal Ikwah,
> 
> Izinkanlah saya untuk bertanya: bagaimana fatwa para 'ulamaa salafi
tentang Psikologi?
> 
> Sesungguhnya, hatinurani saya merasakan banyak syubhat ketika
membaca ulasan2 psikologi, tapi tentu saja hati tidak dapat dijadikan
dalil. Maka saya mengharapkan penjelasan dari ikhwah sekalian.
> 
> Jazakallaahu khayran,
> Wassalaam
> Rizki Mulyawan




Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke