KOMENTAR TERHADAP TULISAN-TULISAN MUHAMMAD AL-GHAZALI

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
sumber http://www.almanhaj.or.id

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata dalam kitab beliau " Shifatu 
Shalaati An-Nabiyyi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallama min At-Takbiiri ilaa 
At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa” dalam muqadimahnya, mengomentari 
tulisan-tulisan Muhammad Al-Ghazali, sebagai berikut.

Dalam sebuah buku berjudul Zhulamun Minal Gharbi karya Muhammad Al-Ghazali 
hlm. 200 disebutkan.

“Pada sebuah konperensi di Universitas Princeton, Amerika Serikat, salah 
seorang pembicaranya ditanya oleh perserta, yang kebanyakan adalah para 
orientalis dan para pemerhati masalah-masalah Islam.

Dengan ajaran apa kaum muslim bisa maju ke pentas dunia ? Apakah dengan 
ajaran Islam yang dipahami golongan Sunni, atau yang dipahami golongan 
Syi’ah Imamiah atau Syi’ah Zaidiyah, padahal di antara mereka sendiri 
terjadi perselisihan?

Terkadang ada segolongan yang menyelesaikan suatu masalah dengan pemikiran 
yang modern, tetapi yang lain tetap dengan pemikiran yang kuno dan jumud

Ringkasnya : Para da'i membiarkan objek dakwahnya dalam kebingungan karena 
mereka sendiri mengalami kebingungan".

Jawaban
Saya katakan disini : Tulisan-tulisan Muhammad Ghazali yang akhir-akhir ini 
banyak tersebar di sana-sini, seperti bukunya yang berjudul As-Sunnah 
An-Nabawiyah baina Ahlil Hadits, di mana dia sendiri termasuk kategori 
da'i-da'i semacam itu, yaitu para da'i yang kebingungan.

Sebelumnya kami telah membaca buku ini dan memberi komentar terhadap 
beberapa Hadits yang terdapat di dalamnya, serta koreksi-koreksi dalam 
beberapa masalah fiqh.

Sebagian dari tulisan yang ada dalam buku itu penuh dengan hal-hal yang 
menunjukkan kebingungannya, penyimpangannya dari Sunnah Nabi Shallallaahu 
'alahi wa sallam dan menjadikan akalnya sebagai hakim dalam mengesahkan atau 
mendha'ifkan hadits. Ia tidak mau berpegang pada dasar-dasar ilmu Hadits 
atau para ahli atau mereka yang tahu seluk beluk Hadits. Bahkan hal yang 
sangat aneh dilakukannya ialah men-shahihkan hadits yang jelas-jelas dha'if.

Tentang buku Fiqhus Sirah

Akan tetapi, tidak aneh karena kita melihat dia men-dha'if-kan hadits-hadits 
yang jelas disepakati shahihnya oleh Bukhari dan Muslim sebagaimana dapat 
Anda baca hal ini dalam komentar saya pada dua muqadimah bukunya berjudul 
Fiqhus Sirah yang telah saya beri takhrijnya terhadap hadits-hadist yang 
termuat di dalamnya pada cetakan ke-4. Hal itu saya lakukan atas permintaan 
dia sendiri melalui salah seorang teman saya dari kalangan Al-Azhar. Oleh 
karena itu, segera saya berikan takhrij buku tersebut, dengan perkiraan 
bahwa hal itu menunjukkan adanya perhatian dia secara sungguh-sungguh 
terhadap hadits-hadits Nabi dan sirah Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam 
serta ingin memeliharanya dari pemalsuan yang datang dari luar. Sekalipun ia 
menyatakan pujian terhadap komentar dan catatan saya serta dengan terus 
terang menyatakan gembiranya dalam komentarnya di bawah judul Haula 
Ahaadiits Hadzal Kitab, namun dia sendiri berbicara tentang metode yang 
digunakannya dalam menerima hadits-hadits dho'if dan menolak hadits-hadits 
shahih semata-mata ditinjau dari segi matannya. Dengan cara semacam ini dia 
ingin memberikan kesan kepada para pembaca bahwa metode penelitian dan 
koreksi yang ditentukan oleh ilmu hadits bagi dia sama sekali tidak ada 
artinya, selama hal itu bertentangan dengan kritik yang logis, padahal 
metode kritik yang logis berbeda antara seseorang dan yang lainnya. Dengan 
metode semacam ini agama menjadi permainan nafsu, tanpa memiliki kaidah dan 
prinsip-prinsip baku, dan hanya tergantung pada selera perorangan.

Hal ini jelas bertentangan dengan metode yang diikuti oleh para ulama kaum 
muslim bahwa sanad hadits merupakan bagian dari agama.

Seandainya hadits itu boleh tanpa sanad, tentu orang akan berbicara sesuka 
hatinya dan inilah yang dilakukan oleh Ghazali dalam sebagian besar 
hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Sirahnya. Kitabnya memuat sebagian 
besar hadits mursal dan mu'dlal.

Hadits dho'if dikatakan shahih seperti yang terlihat dalam takhrij saya 
terhadap bukunya. Sekalipun demikian ternyata dia tetap keras kepala dengan 
memberikan pernyataan-pernyataan di bawah judul di atas:

"Saya telah melakukan ijtihad agar dapat menempuh cara yang benar dan 
merujuk pada sumber-sumber yang dipercaya, dan saya kira saya telah sampai 
dengan baik pada tingkatan ini. Saya telah mengumpulkan riwayat-riwayat yang 
dapat menenangkan hati seorang alim yang berpandangan luas".

Begitulah dia berujar.

Seandainya dia ditanya, apakah kaidah yang Anda pergunakan dalam ijtihad 
Anda itu, apakah kaidah itu berupa prinsip-prinsip ilmu hadits yang 
merupakan satu-satunya jalan untuk mengetahui mana riwayat yang shahih dan 
mana yang dha'if dari Sirah Nabi (?), jawabnya tentu ia akan mengatakan 
berdasarkan pemikiran pribadi.

Itu adalah salah satu dari bentuk kebobrokannya.

Sebagai buktinya, dia berani men-shahih-kan hadits yang tidak shahih 
sanadnya dan dia berani melemahkan hadits walaupun sanadnya shahih menurut 
Bukhari dan Muslim, seperti yang pernah saya kemukakan pada muqaddimah 
kitabnya Fiqhus Sirah di atas dan yang telah dicetak pada terbitan keempat 
seperti tersebut di atas.

Namun sungguh disayangkan pada terbitan-terbitan berikutnya, seperti 
terbitan Darul Qalam, Damaskus, dan lain-lain, muqaddimah itu telah 
dibuangnya (!).

Hal semacam ini membuat sebagian orang menduga bahwa tujuan penghapusannya 
pada buku terbitan-terbitan baru tersebut hanyalah mengejar lakunya buku di 
kalangan pembaca yang telah mampu menghargai kesungguhan para pengabdi 
sunnah Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam dan berusaha dengan keras untuk 
memilah mana hadits dho'if dan mana hadits shahih menurut kaidah-kaidah 
ilmiah, bukan selera pribadi dan dorongan nafsu yang bermacam-macam, seperti 
dilakukan Ghazali dalam bukunya.

Tentang buku As-Sunnah Nabawiyah Baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits

Begitu juga yang ia lakukan dalam bukunya yang terakhir berjudul As-Sunnah 
Nabawiyah Baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits. Di situ nampak jelas bahwa 
Ghazali menempuh metode Mu'tazilah.

Jadi, bagi Ghazali jerih payah ahli hadits yang telah berlangsung puluhan 
tahun dalam memilah hadits shahih dari yang dha'if tidak ada artinya. Begitu 
pula segala jerih payah para imam ahli fiqih yang telah meletakkan 
kaidah-kaidah ushul dan membuat kaidah-kaidah furu', tidak ada gunanya, 
sebab Ghazali bisa mengambil mana seenaknya dan meninggalkan mana saja 
seenaknya, tanpa terikat oleh satu kaidah pun.

Banyak ahli ilmu telah melakukan sanggahan terhadap hal ini. Mereka telah 
menjelaskan secara rinci tentang kebingungan dan penyelewengan Ghazali.

Tulisan yang terbaik dalam hal ini ialah yang ditulis oleh Dr.Rabi' bin Hadi 
Al-Madkhali yang dimuat dalam majalah Al-Mujahid Afghaniyah no.9-11 dan 
tulisan Shalih bin 'Abdul 'Aziz bin Muhammad 'Ali Syaikh dengan judul 
Al-Mi'yaru li 'ilmil Ghazali (Bobroknya ilmu Ghazali)

[Disalin dari catatan kaki kitab Shifatu Shalaati An-Nabiyyi Shallallaahu 
'Alaihi Wa Sallama min At-Takbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa, 
edisi Indonesia Sifat Sholat Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam, oleh 
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal.75-77, Penerjemah Muhammad Thalib, 
Penerbit Media Hidayah, Jogjakarta Desember 2000]

_________________________________________________________________
Don't just search. Find. Check out the new MSN Search! 
http://search.msn.com/






Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke