Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh.
Kalo gak salah ana pernah denger kajian ilmiah dari Ustad Yazid tentang
berbakti pada orang tua itu dahsyat bangets, apalagi ini yg dibicarakan adalah
sang bunda yg menjadi prioritas nomer satu.
Ana juga pernah mendengar kajian tentang kisah salah satu sahabat Rosulullooh
Sholalloohu 'alaihi wa sallam yang pekerjaannya berjualan daging. Setiap hari
dia menyisakan dagingnya lalu memasakkan untuk ibunya dan menyuapinya,
memandikannya.. menggendong sang bunda tawaf di Mekkah dan akhirnya beliau
masuk syurga... Subhanallooh.. (afwan ana gak bisa cerita detail.... tapi ini
yg ana tangkap betapa dahsyatnya berbakti pada orang tua)
disini ada ladang amal untuk mendapatkan tiket kesyurga, kenapa gak dipake?
Teman antum ini kan HANYA tinggal berdua dengan Bunda-nya, seberapa besar sih
dampak negatif yang akan ditimbulkan dari seorang wanita tengah baya/lanjut
usia pada keluarga yg akan dia bina??? dibandingkan dengan manfaatnya??
Ana sampe gk kepikiran negatifnya...
hmm klo ana sih langsung berfikir "ada apa gerangan dengan si akhwat?"
Jawabnya.. afwan, sepertinya TAK ADA CINTA ALLAH DALAM HATINYA...
Dalam Hadist Qudsy, Allah berfirman :
"Cinta-Ku telah ditetapkan untuk orang-orang yg saling mencintai karena Aku;
cinta-Ku telah ditetapkan untuk orang-orang yg saling berkorban demi Aku; dan
cinta-Ku telah ditetapkan untuk orang-orang yg saling mengunjungi dengan niat
karena Aku" (HR. Ahmad)
try {
var shout =
document.getElementById('shoutouttxt');
var shoutxt =
(shout.getElementsByTagName('A').length)?shout.getElementsByTagName('A')[0]:shout
shoutxt.innerHTML =
shoutxt.innerHTML.wordcut(20, ' ');
} finally {}
tanyakeun kenapaaa??
Apakah cinta kedua insan manusia itu karena Allah? atau hanya karena hawa nafsu?
Hawa nafsu sering menghiasi sesuatu yang rusak menjadi tampak lebih baik,
sehingga banyak orang tertipu, padahal bahayanya lebih besar daripada
manfaatnya.
Kenapa si akhwat tidak berani mengorbankan ego-nya demi Allah?
Mandiri yg seperti apa yg dimaksud?
coba ditanyakan lagi... itu "MANDIRI" atau "EGOIS"?
kok tidak mau berkorban demi sang suami dan mertua...
jangan2 nafsu & ego yang bermain...
Trus kalau sudah hidup pisah sama orang tua... mengunjungi hanya sebulan sekali
dan sekali kunjungan ternyata cuma 2-3 jam... jangan2 lama-lama kunjungan itu
bukan karena Allah.... tapi.. cumaa basa-basiiii...
Astaghfirullooh...
Semoga Allah melindungi kedua orangtua kita
Amin
ana uhibbuki fillah ya ummi
Wassalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh
--- On Fri, 9/26/08, Othman Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Othman Ahmad <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [assunnah] Mana yang benar...
To: [email protected]
Date: Friday, September 26, 2008, 8:54 PM
walaikumsalam
al hamdulillah;
calon isteri yg soliahah tidk mensyaratkan demikian rupa krana kana berbiara
berdasarka pengalman dan taggong awab sebagai anak lelaki sbagai pelaksana
amanat dari Allah swt terhadap kedua orang tua;
waupun kedua orgtua mskin, sekiranya kaya, mendpat dua kali ganda pusaka
berbanding dengan anak wanita. jika miskin juga mendaapat ganjaran dan barakh
dua kali ganda dari Allah swt
kami tidk menjadikan mereka (ibu saya dan ibu mertua saya selepas kematian ibu
saya) sebagai babu/pebantu kerana kami pakai dua og bembantu walaun tinggal di
rumah yang sederhana.
alhamdulilla masih kecukupan dan anak2 saya enam org: 4 org Ir. 1 alomni US; 1
SH. doakan mereka semuanya soleh dan solehah.
kami mseh terasa lebih aman semasa mereka hdup bersama kami.
wassala
----- Original Message ----
From: Abu Azzam Muzhoffar <abuazzam.muzhoffar@ gmail.com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Thursday, September 11, 2008 10:27:10 AM
Subject: Re: [assunnah] Mana yang benar...
Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Menurut pengalaman ana, hidup terpisah dengan orang tua itu banyak hal
positifnya.
Dalam hal ini, ana justru mendukung keinginan dan syarat dari calon istri yaitu
: "Harus hidup terpisah dan mandiri", alasannya :
1. Sang suami dapat lebih menfungsikan dirinya secara total sebagai kepala
rumah tangga, menjadi Ar-Rijaalu qowwamuna alan nisaa'. Laki-laki akan menjadi
kehilangan fungsi kepemimpinan jika bahtera rumah tangga yang ia bina sering
kali dikalahkan dengan DOMINANSI atau INTERVENSI ORANG TUA.
2. Sang isri dapat dengan bebas mengekspresikan dirinya untuk mengelola rumah
tangga.
3. Jika hidup terpisah dari orang tua, walaupun harus tinggal di gubuk reyot
sekalipun. Akan menumbuhkan semangat yang kuat untuk perbaikan diri dan
perbaikan finansial. Hidup bersama orang tua terkadang justru menimbulkan
keterlenaan sehingga lupa bahwa ia tinggal dirumah yang bukan hasil dari jerih
payahnya.
Nah, jika ingin mengaplikasikan ketiga hal tersebut, maka kita tidak boleh
menggugurkan atau mengorbankan kewajiban bakti kita kepada orang tua.
Silakan tinggal dilain rumah, tapi sering-seringlah berkunjung ke rumah orang
tua sehingga orang tua tetap merasa disayang dan tidak kehilangan anaknya,
khususnya bagi mereka yang menjadi anak tunggal.
Wassalam
--
AbuAzzam Muzhoffar
2008/9/2 Junindar, : Mr. <[EMAIL PROTECTED] com>
> Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
>
> Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman saya yang akan menikah...
> Teman saya ini sekarang tinggal berdua dengan Ibu nya... Dan dalam waktu
> dekat akan menikah, tetapi yang menjadi masalah,
> Calon istri dari teman saya ini tidak mau satu rumah dengan mertua nya,
> jika tidak pernikahannya akan batal. Dengan berbagai alasan, salah satu
> nya adalah pingin mandiri dalam berumah tangga.
> Sikap yang bagaimanakah yang harus dilakukan oleh teman saya ini?
> nasehat saya ke teman itu adalah untuk menasehati calon istrinya agar
> mau hidup satu rumah dengan mertuanya.
> Karena menurut saya itu adalh ibadah yang besar.
> Mungkin rekan-rekan di milis ini ada saran untuk masalah diatas...
>
> Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,