Assalamu'alaikum Sungguh benar-benar rugi, orang yang salah satu atau kedua orang tuanya masih hidup, namun orang tersebut tidak mendapatkan surga. yang ga mau itu calon istrinya apa teman anda? jika teman anda yang tidak mau, sungguh dia termasuk orang yang benar-benar rugi, tidakkah dia kasihan terhadapa ibunya yang ditinggalkan sendiri, jika dibandingkan kasih sayang ibunya sewaktu dia kecil, lebih baik teman anda disuruh membaca buku berbakti kepada orang tua karangan Ustadz Yazid, buku yang sangat bagus sekali.
Jika calon istrinya yang tidak mau, perlu diberi pengajaran mengenai pentingnya laki-laki berbakti kepada orang tua, jika masih tidak mau juga, Jika ia mencintai teman saudara pasti dia mau mengalah. Nah ada hal yang saya bingungkan, bagaimana sikap dengan orang tua sang istri, bagaimana sikap suami terhadap mertua, dan bagaimana sikap sang istri terhadap orang tuanya. tolong adakah yang bisa membantu Jazakullah Khairan Assalamu'alaikum 2008/10/16 Dian Ambarawati <[EMAIL PROTECTED]> > Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh. > > Kalo gak salah ana pernah denger kajian ilmiah dari Ustad Yazid tentang > berbakti pada orang tua itu dahsyat bangets, apalagi ini yg dibicarakan > adalah sang bunda yg menjadi prioritas nomer satu. > Ana juga pernah mendengar kajian tentang kisah salah satu sahabat > Rosulullooh Sholalloohu 'alaihi wa sallam yang pekerjaannya berjualan > daging. Setiap hari dia menyisakan dagingnya lalu memasakkan untuk ibunya > dan menyuapinya, memandikannya.. menggendong sang bunda tawaf di Mekkah dan > akhirnya beliau masuk syurga... Subhanallooh.. (afwan ana gak bisa cerita > detail... tapi ini yg ana tangkap betapa dahsyatnya berbakti pada orang tua) > > disini ada ladang amal untuk mendapatkan tiket kesyurga, kenapa gak dipake? > Teman antum ini kan *HANYA tinggal berdua dengan Bunda-nya,* seberapa > besar sih dampak negatif yang akan ditimbulkan dari seorang wanita tengah > baya/lanjut usia pada keluarga yg akan dia bina??? dibandingkan dengan > manfaatnya?? > Ana sampe gk kepikiran negatifnya... > > hmm klo ana sih langsung berfikir "ada apa gerangan dengan si akhwat?" > > Jawabnya.. afwan, sepertinya TAK ADA CINTA ALLAH DALAM HATINYA... > > Dalam Hadist Qudsy, Allah berfirman : > > *"Cinta-Ku telah ditetapkan untuk orang-orang yg saling mencintai karena > Aku; cinta-Ku telah ditetapkan untuk orang-orang yg saling berkorban demi > Aku; dan cinta-Ku telah ditetapkan untuk orang-orang yg saling mengunjungi > dengan niat karena Aku" (HR. Ahmad)* > > tanyakeun kenapaaa?? > Apakah cinta kedua insan manusia itu karena Allah? atau hanya karena hawa > nafsu? > Hawa nafsu sering menghiasi sesuatu yang rusak menjadi tampak lebih baik, > sehingga banyak orang tertipu, padahal bahayanya lebih besar daripada > manfaatnya. > > Kenapa si akhwat tidak berani mengorbankan ego-nya demi Allah? > Mandiri yg seperti apa yg dimaksud? > coba ditanyakan lagi... itu "MANDIRI" atau "EGOIS"? > kok tidak mau berkorban demi sang suami dan mertua... > jangan2 nafsu & ego yang bermain... > > Trus kalau sudah hidup pisah sama orang tua... mengunjungi hanya sebulan > sekali dan sekali kunjungan ternyata cuma 2-3 jam... jangan2 lama-lama > kunjungan itu bukan karena Allah.... tapi.. cumaa basa-basiiii... > > Astaghfirullooh... > > Semoga Allah melindungi kedua orangtua kita > Amin > > ana uhibbuki fillah ya ummi > > Wassalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh > > > --- On *Fri, 9/26/08, Othman Ahmad <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Othman Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [assunnah] Mana yang benar... > To: [email protected] > Date: Friday, September 26, 2008, 8:54 PM > > walaikumsalam > al hamdulillah; > calon isteri yg soliahah tidk mensyaratkan demikian rupa krana kana > berbiara berdasarka pengalman dan taggong awab sebagai anak lelaki sbagai > pelaksana amanat dari Allah swt terhadap kedua orang tua; > waupun kedua orgtua mskin, sekiranya kaya, mendpat dua kali ganda pusaka > berbanding dengan anak wanita. jika miskin juga mendaapat ganjaran dan > barakh dua kali ganda dari Allah swt > kami tidk menjadikan mereka (ibu saya dan ibu mertua saya selepas kematian > ibu saya) sebagai babu/pebantu kerana kami pakai dua og bembantu walaun > tinggal di rumah yang sederhana. > alhamdulilla masih kecukupan dan anak2 saya enam org: 4 org Ir. 1 alomni > US; 1 SH. doakan mereka semuanya soleh dan solehah. > kami mseh terasa lebih aman semasa mereka hdup bersama kami. > wassala > > ----- Original Message ---- > From: Abu Azzam Muzhoffar <abuazzam.muzhoffar@ > gmail.com<abuazzam.muzhoffar%40gmail.com> > > > To: [EMAIL PROTECTED] s.com <assunnah%40yahoogroups.com> > Sent: Thursday, September 11, 2008 10:27:10 AM > Subject: Re: [assunnah] Mana yang benar... > > Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh, > > Menurut pengalaman ana, hidup terpisah dengan orang tua itu banyak hal > positifnya. > Dalam hal ini, ana justru mendukung keinginan dan syarat dari calon istri > yaitu : "Harus hidup terpisah dan mandiri", alasannya : > > 1. Sang suami dapat lebih menfungsikan dirinya secara total sebagai kepala > rumah tangga, menjadi Ar-Rijaalu qowwamuna alan nisaa'. Laki-laki akan > menjadi kehilangan fungsi kepemimpinan jika bahtera rumah tangga yang ia > bina sering kali dikalahkan dengan DOMINANSI atau INTERVENSI ORANG TUA. > 2. Sang isri dapat dengan bebas mengekspresikan dirinya untuk mengelola > rumah tangga. > 3. Jika hidup terpisah dari orang tua, walaupun harus tinggal di gubuk > reyot sekalipun. Akan menumbuhkan semangat yang kuat untuk perbaikan diri > dan perbaikan finansial. Hidup bersama orang tua terkadang justru > menimbulkan keterlenaan sehingga lupa bahwa ia tinggal dirumah yang bukan > hasil dari jerih payahnya. > > Nah, jika ingin mengaplikasikan ketiga hal tersebut, maka kita tidak boleh > menggugurkan atau mengorbankan kewajiban bakti kita kepada orang tua. > > Silakan tinggal dilain rumah, tapi sering-seringlah berkunjung ke rumah > orang tua sehingga orang tua tetap merasa disayang dan tidak kehilangan > anaknya, khususnya bagi mereka yang menjadi anak tunggal. > > Wassalam > -- > AbuAzzam Muzhoffar > > 2008/9/2 Junindar, : Mr. <[EMAIL PROTECTED] com> > > > Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, > > > > Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman saya yang akan menikah... > > Teman saya ini sekarang tinggal berdua dengan Ibu nya... Dan dalam waktu > > dekat akan menikah, tetapi yang menjadi masalah, > > Calon istri dari teman saya ini tidak mau satu rumah dengan mertua nya, > > jika tidak pernikahannya akan batal. Dengan berbagai alasan, salah satu > > nya adalah pingin mandiri dalam berumah tangga. > > Sikap yang bagaimanakah yang harus dilakukan oleh teman saya ini? > > nasehat saya ke teman itu adalah untuk menasehati calon istrinya agar > > mau hidup satu rumah dengan mertuanya. > > Karena menurut saya itu adalh ibadah yang besar. > > Mungkin rekan-rekan di milis ini ada saran untuk masalah diatas... > > > > Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, > > > >
