Yth rekan-rekan LP3B,
Saking semakin berkembangnya diskusi-diskusi ini akhirnya tergelitik hati
saya untuk ikut urun rembuk mengomentari rencana pemindahan PLTU dari
Tg.priuk ke Lovina/Pemaron.
Pertama : Kalau dari segi pembangkit yang sudah bekas jelas kita sepakat
untuk metolak pembangkit bekas pakai karena jelas Bali yang akan rugi dan
investor juga enggan masuk karena suply listriknya byaaarrr peeeet-
byaaarrrr peeet melulu, lihat pengalaman pembangkit di Gilimanuk karena
teknologinya sudah lama pembangkitnya pernah rusak.
Kedua : Bali kedepan saya sepakat harus mandiri untuk suply tenaga listrik,
untuk itu kalau tidak salah survey-survey dan barangkali study
kemungkinannya sudah lama sekali dilakukan sebagai contoh : Di desa tejakula
pernah ada rencana pembangkit listrik dengan energy gelombang, lalu di desa
PACUNG? pernah dilakukan survey energy listrik dengan pembangkit sinar
matahari (kalau enggak salah rekan-rekan dari BPPT ikut), contoh lain yaitu
kalau enggak salah justru pembangkit ini yang sudah hampir matang yang akan
dibangun oleh pemerintah yaitu pembangkit energy panas bumi di daerah
Bedugul (Kab. Tabanan), hanya ada kabar bahwa jalan menuju ke proyek ini
melewati situs purbakala. Nah kalau proyek ini terrealisasi sangat bagus
karena letaknya terpencil tidak menggangu object wisata (bedugul, Lovina
Maupun Celukan bawang), karena desa-desa yang saya sebut tadi sudah tumbuh
sangat pesat termasuk celukan bawang, kalau bapak-bapak tahu sepanjang
pantai barat singaraja mulai dari desa Pengastulan sampai desa Sumber kima
sudah menjadi industri tambak bibit ikan bandeng(nener) dan bibit ikan
kerapu yang dimasa depan akan ada bantuan teknology dari Jerman bersama
BPPT. Disamping penelitian yang di Desa Gondol terus ditingkatkan (baru-baru
ini Ibu Megawati sudah melihat Balai penelitian di Desa Gondol ini. Juga
sekarang sudah pula tumbuh industri mutiara dan industri pemeliharaan ikan
hiu (kalau nggak salah rencananya investor dari Jerman), Nah ini semua butuh
air laut yang bersih tidak tercemar oleh limbah industri maupun limbah dari
pembangkit listrik yang mengandung limbah beracun.
Ketiga: Kesimpulannya saya sangat tidak setuju pemindahan pembangkit bekas
yang jelas tidak efisien dan masih mengandung limbah alias tidak ramah
lingkungan laut!. Kalau tidak salah dulu ada rencana memang relokasi
pembangkit itu akan ditempatkan di desa Celukan bawang dan ditolak
masyarakat.Satu karena limbahnya akan mencemari laut sehingga nelayan akan
terganggu penghasilannya, kedua jelas dari segi SDM desa celukan bawang
tidak siap sama sekali karena desa ini penduduknya sebagian besar nelayan,
buruh kasar (bongkar muat di pelabuhan, petani/pekebun,petani tambak saja.
Jadi dari segi penyerapan tenaga kerja lokal sangat minim, bandingkan dengan
pekerja di tambak bandeng, ikan kerapu, mutiara, ikan hiu sangat jauh
perbandingan penyerapan tenaga kerjanya. Jadi mohon agar pantai barat
Singaraja jangan diganggu, termasuk Lovina/Pemaron yang sudah tumbuh dan
berkembang sangat bagus, aman, asri dll.
Jadi pembangkit listrik tenaga panas bumi sangat ideal buat Bali yang
depositnya lumayan besar untuk ukuran Bali.Hanya tinggal dicari akses
masuknya yang baik sehingga tidak melanggar situs yang bagi umat di Bali
sangat dihormati dan dijaga kelestariannya.
Sekian masukan-masukan dari saya semoga menjadi tambahan informasi.
Ketut Darma.

-----Original Message-----
From: Made Wirata [mailto:madewira@;iptn.co.id]
Sent: Tuesday, November 05, 2002 2:15 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Fwd: Re: Mari Berbagi Ide


Yth rekan-rekan LP3B,
kalo boleh saya urun rembuk, sbb.
1- dari beberapa e-mail dan surat-surat rekan-rekan termasuk dari Mr
Biete, saya rasa dapat dirangkum bahwa didaerah Pemaron (khususnya dekat
Lovina) sudah tidak cocok lagi adanya PLTU tersebut, karena pariwisata
disana sudah tumbuh, apalagi adanya rencana pemindahan dari Tanjung
Priuk untuk yang umurnya sudah puluhan tahun, jelas tidak masuk akal.
Jadi pasti kita bisa tolak.
2- saya rasa, mungkin banyak yang sepakat kalau kita di Buleleng,
umumnya Bali perlu mandiri dari segi sumber energi (artinya diusahakan
tidak tergantung supplay dari Jawa.
3- dari beberapa usul rekan-rekan, menurut saya tinggal dikaji lebih
jauh untuk pembangunan yang baru misalnya 200 s/d 400 mw sekalian
(termasuk pemikiran pengembangan jangka menengah dan panjang).

Saya lihat ada yang usul di daerah Telukan Bawang karena daerah
industri. Bisa jadi ok, selain industri, mungkin cara suply BBM nya
lebih mudah melalui tangker seperti system di Cilacap, tinggal disiapkan
dermaganya yang sesuai, atau dengan batubara sesuai yang dibuat di
Suralaya. Bisa juga memperbesar yang di Gilimanuk, atau bisa juga
didaerah timur Singaraja (Air sanih ketimur lagi). Tentu semuanya ini
tinggal didetailkan surveynya. Masalah investor, mungkin banyak yang
bisa bantu, asalkan bisa buat daerah Buleleng yang berkembang. Khusus
untuk Telukan Bawang, bisa sekalian untuk pengembangan Dermaganya,
misalkan penggalakan export yang mungkin perlu kebijakan propensi bahwa
export barang tertentu dari Telukan Bawang, dan bagian tertentu lagi
melalui Benoa, dsb.

Demikian urun rembuk dari saya, mudah-mudahan ada manfatnya.
Terima kasih
Made Wirata / PT D - Bandung

> ----------
> From:         Sudarma[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Tuesday, November 05, 2002 1:09 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [bali] Fwd: Re: Mari Berbagi Ide
>
> <<Message: [bali] Re: Mari Berbagi Ide>>
>
> Yth.Pak Ketut Teja dan Rekan-Rekan LP3B,
>
> Sejak semula Milis ini memang diperuntukkan untuk
> mendiskusikan manfaat dan pengaruh negatif dari Rencana
> Relokasi 'Power Plant' ke Pemaron/Lovina. Permasalahannya
> bagi kita adalah Power Plant yang ingin dipindahkan telah
> berumur 30 tahun dan lokasi pemindahan adalah ke Daerah
> Wisata Lovina yang telah ditetapkan dengan PERDA no.4
> 1999, dimana daerah wisata ini telah berkembang sejak 15
> tahun lalu dan  dapat menampung tenaga kerja sekitar 3500
> orang. Manfaatnya pasti ada, hanya saja tidak setimpal
> dengan cost yang harus ditanggung oleh masyarakat lovina
> dan Buleleng ditinjau dari konsep "World Sustainable
> Development" yang telah di bahas pada pertemuan PBB di Rio
> Je Nairo, Kyoto-Japan, Nusa Dua-Bali, dan terakhir di
> Johanes Burg-Afrika Selatan.
>
> Dalam diskusi ini, saya pikir tidak perlu ada yang merasa
> lebih pintar atau merasa rendah diri. Kita memerlukan
> informasi dan input sebanyak-banyaknya dari berbagai
> pihak, selama hal itu berkaitan dengan Rencana Power Plant
> ini dan Pembangunan Bali umumnya.
>
> Yah, kalau kita berandai-andai, maka bermain
> ungkit-ungkitan juga tidak bisa pintar sendiri, tidak
> jalan itu unkitannya. Bisa-bisa ia malah jatuh sendiri.
> Truk ? Ayo, siapa yang ingin diandaikan sebagai  truk.
> Sebagai sopirnya saja juga susah,ya ? Dalam membahas
> Rencana Power Plant ini, kalau berandai-andai, sebaiknya
> kita bermain seperti pemain Gong Gede atau Orchestra.
> Silahkan ada yang bermain Biola atau Conductor. Yang
> penting, semua saling melengkapi, bukan ?
>
> Salam,
> Sudarma
>
>
>
>
> --- the forwarded message follows ---
> ======================================================================
> =============
> Selama Bulan Suci Ramadhan, ikuti Netkuis Ramadhan, Lomba Design
> E-Card, Opini Berhadiah hanya di www.plasa.com
> ======================================================================
> =============
>

--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>


--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke