Pak Nyoman dan rekan-rekan LP3B yth,

1. Saya setuju sekali idenya masalah budaya tersebut menjadi
pertimbangan kita. 2. Mengenai tempat yang layak, sebenarnya kalau
dianalisa secara keseimbangan suply listrik se Bali, memang harus di
Utara letaknya yang baru (jadi, satu di Pesanggrahan dan satu di
Gilimanuk sudah ok untuk di maintain, sehingga satu lagi harus di
Singaraja, bukan di Bedugul). Masalah berikutnya, yang di Singaraja saya
rasa cuma dua pilihan yaitu di daerah industri Telukan Bawang atau
didaerah Tejakula ke timur.
3. Masalah pemanfaatan Incinerator pembakar sampah, saat ini kami sudah
merancang dan produksi untuk Incinerator, kemudian merancang untuk
heat-transfer yang bisa digunakan untuk "link" dari incinerator ke
boilernya penggerak/pembangkit listrik. Artinya, yang diciptakan adalah
bbm-nya serta pengerak turbinnya. Jadi yang belum dipikirkan (istilah
Pak Nyoman "bolong" itu) adalah (mungkin, karena kami bukan pakar
pelistrikan) : turbin dan dinamo pembangkitnya. Masalah yang dua
terakhir ini bisa kerjasama  pihak PLN dan Luar (kalau dari Luar yang
merupakan vendor itemnya). 

Terimakasih atas waktunya
mw

> ----------
> From:         Nyoman Bangsing[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Thursday, November 07, 2002 10:54 AM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [bali] Re: Fwd: Re: Mari Berbagi Ide
> 
> Ysh. Bapak Ketut Darma dan teman-teman anggota milis LP3B
> 
> Menarik sekali mengikuti wacana yang belakangan berkembang dalam milis
> ini. Berkaitan dengan pendapat yang disampaikan Pak Ketut Darma,
> menurut
> saya dari sisi teknis, nampaknya semuanya okey-okey saja. Hanya saja,
> ada
> satu hal yang menurut saya perlu kita garis bawahi, yaitu perihal
> pembangkit listrik panas bumi di Bedugul, kalau tidak salah lokasinya
> berada di Gunung Batukaru(mohon dikoreksi kalau salah). Kenapa
> demikian ?
> Mari kita kaji dari sisi budaya. Kita di Bali mengenal konsep
> Kaja-Kelod.
> Kaja tidak lain adalah gunung atau bukit, dan kelod kurang lebih ke
> arah
> laut. Kaja dalam konsep budaya Bali selalu ditempatkan sebagai tempat
> yang
> disucikan. Coba kita lihat konsep palemahan di setiap desa di Bali.
> Tempat
> yang paling tinggi untuk tempat suci, di tengah untuk pemukiman, dan
> di
> ujung desa untuk kuburan. Jangan sekali-sekali dibalik.
> Bila kita berbicara lokasi dari pusat pembangkit listrik tenaga panas
> bumi
> yang ada di Bedugul, apakah tidak bertentangan dengan konsep
> kaja-kelod
> yang ada di Bali ?
> Dari sudut pandang budaya, proyek tersebut mestinya tidak boleh ada.
> Apabila kita sendiri sebagai orang Bali tidak peka terhadap hal-hal
> serius
> seperti itu, apakah kita masih bisa menyebut diri kita sebagai orang
> Bali,
> apakah kita masih mengerti budaya kita sendiri ?
> Point ini saya sampaikan agar kita sama-sama introspeksi diri.
> "Lugra" Pak Ketut, mungkin Pak Ketut lupa akan hal itu, dan hanya
> meneropong permasalahan yang ada dari sisi teknis semata.
> 
> Usul saya pada moderator, mungkin ada baiknya disertakan juga
> orang-orang
> dengan latar belakang sosiologi, antropologi, serta mereka yang
> memahami
> budaya Bali dalam milis ini. Kita yang berlatar belakang pendidikan
> teknik, rasanya kepala kita baru terisi sebelah, yaitu sebelah kiri
> saja.
> Otak belahan kanan mungkin masih perlu diasah. Kita perlu mendengarkan
> pandangan teman-teman kita yang berlatar belakang pendidikan seni,
> sosiologi,
> antropologi, sastra, budaya dsb.
> Bila nanti akan dilakukan pemilihan lokasi dari proyek yang akan
> dibangun,
> tolong berkonsultasi dengan ahli antropologi. Kenapa demikian ?
> Bali Utara adalah pintu masuk budaya luar ke Bali, sehingga Bali Utara
> menyimpan banyak situs-situs arkeologi, yang belum tergali selama ini.
> 
> Ide dari Pak Made Wirata saya pikir baik sekali, minimal teknologi
> yang
> ada bisa digunakan untuk menangani sampah yang ada di Bali.
> Untuk pembangkit listrik, rasanya masih ada yang bolong, atau sudah
> terpikirkan desain keseluruhannya ?
> 
> Tulisan ini bukan saya maksudkan untuk memojokkan seseorang, melainkan
> hanya untuk menambah wawasan kita bersama, sekalian mengingatkan
> kembali bahwa kita mempunyai konsep kaja-kelod. Apabila kita sendiri
> tidak
> menghargai lagi budaya kita sendiri, siapa lagi yang akan
> menghargainya ?
> Kecuali kalau kita sudah mau membuangnya ke keranjang sampah, maka
> persoalannya akan menjadi lain. Syukur-syukur bisa dijadikan listrik,
> he....he. Maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati
> Ibu/Bapak.
> Semoga kedamaian selalu menyertai kita.
> 
> Salam sejahtera dari
> Nyoman Bangsing
> 
> 
> 

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke