Mbak Asana...

 

Toleransi dalam kehidupan sosial memang sangat diperlukan, karena
sesungguhnya manusia adalah mahkluk sosial..dan kalaupun misalnya tidak
ada, tidak pernah muncul agama-agama di muka bumi, maka toleransi ini
bisa tetap terjadi, karena manusia saling memerlukannya untuk
hidup/bertahan hidup...

Tapi begitu menyangkut masalah-masalah yang subtle dari agama, maka
manusia dengan agama berbeda menjadi tidak bisa ketemu, karena secara
mendasar : Hindu, Buddha, Islam dan Kristen sangat berbeda...

-          Islam/Kristen tidak mengenal Karma-reinkarnasi maupun moksa
(nirvana), tapi mengenal sorga...

-          Hindu-buddha mengakui adanya hukum karma-reinkarnasi dan
menuju moksa (bersatunya Roh dengan Maha Roh: Tuhan) ...

Hindu dan Budda menyatakan hidup ini bukan sekali, tapi ribuan kali
bahkan tidak terhitung kita pernah dilahirkan dalam tubuh yang
berbeda-beda..

Menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sekali maka orang Hindu-budda
melihat dunia ini dengan cara yang lebih bijaksana, Hindu-budda cendrung
lebih menyatu dengan alam, seimbang dengan alam, jarang sekali ada orang
Hindu merusak alam sekitarnya, karena mereka percaya, alam adalah bagian
integral dari dirinya, roh yang sama juga terdapat pada tumbuhan dan
hewan, sama seperti roh yang ada pada manusia....

 

Sebalikya orang Islam/Kristen  menganggap bahwa tumbuhan/hewan berbeda
dengan pada manusia, sehingga agama-agama semitik (Islam, Kristen,
Yahudi) cendrung dengan mudah melakukan exploitasi terhadap alam...namun
sebenarnya pada kondisi sekarang, orang-orang Kristen/barat mulai
mengakui adanya peranan alam ini, sehingga sekarang ini bukan hanya umat
Hindu yang sering berkata : Ibu Bumi (Pertiwi) yang lagi menderita, tapi
orang-orang Barat juga berkata dengan terminolgi serupa mereka
menyebutnya sebagai : the Mother-nature is suffering, padahal istilah
mother-nature ini saya yakin tidak pernah muncul di Bible (Injil)....

 

Sehingga konsepsi Veda bahwa : Alam semesta ini sesungguhnya perwujudan
dari Brahman (Tuhan) : sarwa-idam kalu Brahman, maka seluruh alam
semesta ini adalah suci menjadi dasar kuat bagi umat penganut Veda
(tidak mesti orang Hindu, tapi siapapun yang percaya Veda) untuk
senantiasa mengupayakan kelestarian alam...

 

Orang-orang suci di Bali, para leluhur dari sebelum masa Mpu Kuturan
telah menggariskan konsep keseimbangan yang sempurna antara :
Manusia-Tuhan-Alam...

Tri Hita Karana : Urip-pawongan-palemahan....

 

Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak boleh
setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja
Buleleng: I Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen
(sebelumnya beragama Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di
alam sana tidak jelas (terkatung-katung), teman saya, masih keturunan
Panji Tisna, menuturkan bahwa sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu
keluarga (kesurupan) meminta agar dibuatkan upacara pengabenan..
Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen menolak, karena mereka
tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam sana, ia tidak
mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di tempat
Hindu juga ditolak...akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu
melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa
mendapatkan tempat yang layak di alam sana....

 

Sehingga menurut saya, kita masing-masing dengan agama berbeda sebaiknya
serius di agama masing-masing, dan menjaga toleransi diantara sesama
umat beragama... karena Veda ternyata juga membuat arahan/guidance yang
serupa : salah satu sloka Bhagavadgita Tuhan bersabda sbb

 "Jalan apapun yang engkau tempuh padaKU, berbakti sepenuhnya di jalan
itu, maka engkau akan mencapai Aku" 

 

Kehidupan saya di perantauan sejauh ini cukup nyaman, mungkin karena
jauh dari tempat-tempat yang potensial konflik tinggi seperti Sampit,
Kalteng...

Namun sekarang ini yang cukup memprihatinkan adalah orang-orang Dayak
masuk (merusak) Taman Nasional Kutai, dengan dalih politis bahwa mereka
sampai sekarang terpinggirkan oleh kaum pendatang yang kebanyakan suku
Bugis, Jawa dlll..dengan tindakan ini mereka berharap bisa diperhatikan
dan bisa mendapatkan hak-hak politik mereka di pemerintahan dan dewan
perwakilan yang saat ini malah sebagian besar dikuasai oleh pendatang...

 

Pura di Balikpapan sekarang ini juga masalah, karena di sebelahnya
persis dibangun Gereja, umat Hindu protes sudah diajukan ke wali-kota,
namun mereka, orang-orang Kristen justru menantang balik, mereka bilang,
kalau kita tetap ribut maka mereka bisa saja bikin seperti di Sampit
dengan mengerahkan orang-orang Dayak...

Menurut undang-undang aturannya sudah jelas, rumah ibadah yang berbeda
tidak boleh didirikan pada jarak kurang dari 200 meter satu sama
lain..nah Gereja ini jaraknya Cuma 1 meter dari Pura, langsung
berbatasan dengan tembok pura...

 

Suksme

GNA 

 

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Asana Viebeke Lengkong
Sent: Tuesday, October 02, 2007 10:05 AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: Mahabaratha

 

P Ngurah Ambara,

 

Kalau sebatas ignorance yang di jabarkan oleh P Ngurah ini, ya bagi saya
agak sedikit terlalu sempit....   tapi kita tetap tidak bisa berhenti
ber-dialog jadi jangan pernah memberi perintah kepada orang lain untuk
menghentikan dialog hanya karena pendapat bahwa orang lain kurang
memiliki potensi untuk berbicara soal Mahabharata, karena sudah ada
ribuan tahun yang lalu.  Kita semua memiliki keterbatasan dalam segala
hal.

 

Saya kecut sekali ketika membaca email Bapak terdahulu tentang
Mahabharata; saya jadi tidak ingin beragama, bayangkan saya ini hidup di
keluarga yang menganut multi agama, jadi pengertian serta toleransi di
tuntut mutlak oleh semua anggota keluarga dalam kesepakatan bahwa kita
boleh berbicara bebas dengan menggunakan nalar bebas juga ketika kita
melakukan kritik dan lainnya.  Karena tentunya ada hal lain juga yang
harus diperhatikan, moral dan etika dan banyak hal lagi.

 

Ketika keluarga berkumpul kita membicarakan agama secara bebas; saya
ingat (masih umur 7 tahun) salah satu anggota keluarga sepuh bicara soal
Jaman Axial sekitar 500 sebelum masehi sampai 600 Masehi yang disebut
jaman renaisans agamawi.  Di jaman itu lahir kesemestaan dan hidup
sesudah mati terbuka bagi siapa saja yang melaksanakan kehidupan yang
baik (karma); gagasan hak-hak yang setara untuk bisa memasuki kehidupan
surgawi itu secara cepat sekali merambah ke berbagai budaya seantero
jagad.  Tapi sayangnya setiap agama punya pandangan yang beda tentang
yang di anggap sebagai kehidupan yang baik.  Banyak masalah masalah
agama ketika itu yang sangat rumit dan membingungkan yang melatar
belakangi terbangunnya Axial age itu dengan dogma-dogma agama yang lebih
sederhana dan juga terjadi reformasi sosial.

 

Apakah kemudian ajaran Budha, Kristen, Islam tentang toleransi itu
sifatnya agamis atau politis?  tentunya untuk menerima gagasan bahwa
orang yang sakit, miskin, atau kaum minoritas, marjinal perlu mendapat
perhatian itu menjadi tugas yang bersifat agamis dan politis.
Agama-agama baru itu terbuka untuk semua orang karena para pemeluknya
diberikan kebebasan untuk dapat ikut serta dalam kegiatan agamawi dan
juga mendapatkan pengakuan terhadap kehidupan sosial mereka.

 

Jadi, P Ngurah, ayolah berbagi dalam dialog terbuka dengan menggunakan
nalar yang bebas tanpa ada rasa benci, marah dan mari kita buang syak
wasangka.

 

Kalau boleh saya bertanya; P Ngurah kan hidup di perantauan antara
Jakarta dan Kalimantan (maaf kalau salah); bagaimana hubungan P Ngurah
dengan orang lain dari budaya dan agama yang lain pula yang ada di
sekitar?  Nyamankan P Ngurah?  atau terganggu?  Bisa share nggak?

 

Maaf kalau tidak berkenan.

 

Vieb

        ----- Original Message ----- 

        From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

        To: [email protected] 

        Sent: Monday, October 01, 2007 1:46 PM

        Subject: [bali] Mahabaratha

         

        Ok Suksme Mbak Vieb atas info-nya..kejahatan yang dibuat oleh
manusia karena ignorance (ketidaktahuan) bahwa sang roh (atma) berasal
dari sang Maha-Roh (Maha-Purusa) yang sama ...dan bahwa sang roh tidak
bisa membunuh dan tidak bisa dibunuh, abadi, selalu sama (selalu muda),
bukan laki-laki bukan perempuan (ardanareswaria), tidak terfikirkan
(acintya), tidak dilahirkan (awyakta) dsb...sudahlah jadi terlalu berat
diskusi-nya he-he-he.....:)) 

         

        Ok nanti kalau sempat saya akan baca Info Bali-post ini...

         

        Semoga damai selalu..suksme 

         

         

         

Kirim email ke