Saya jawab dengan interaktif saja ya (jawaban saya dengan tanda **** dibawah 
tulisan P Ngurah) .... kita terbuka saja, jadi tidak ada yang merasa perlu 
'tidak nyaman' ya... kita nyaman nyaman kan saja; karena ini adalah termasuk 
kebebasan berpendapat... jangan perlu ada yang tersinggung atau tidak nyaman, 
semua perlu proses pendewasaan...

Saya sendiri berdialog dengan P Ngurah nggak mau dianggap ada agama saja.... 
kalau saya bawa agama... pasti banyak yang tersinggung... jadi jangan buang 
tenaga lah untuk tersinggung... hehehe
  ----- Original Message ----- 
  From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, October 02, 2007 11:07 AM
  Subject: [bali] mother-nature


  Mbak Asana.



  Toleransi dalam kehidupan sosial memang sangat diperlukan, karena 
sesungguhnya manusia adalah mahkluk sosial..dan kalaupun misalnya tidak ada, 
tidak pernah muncul agama-agama di muka bumi, maka toleransi ini bisa tetap 
terjadi, karena manusia saling memerlukannya untuk hidup/bertahan hidup.

  Tapi begitu menyangkut masalah-masalah yang subtle dari agama, maka manusia 
dengan agama berbeda menjadi tidak bisa ketemu, karena secara mendasar : Hindu, 
Buddha, Islam dan Kristen sangat berbeda.

  -          Islam/Kristen tidak mengenal Karma-reinkarnasi maupun moksa 
(nirvana), tapi mengenal sorga.

  -          Hindu-buddha mengakui adanya hukum karma-reinkarnasi dan menuju 
moksa (bersatunya Roh dengan Maha Roh: Tuhan) .

  Hindu dan Budda menyatakan hidup ini bukan sekali, tapi ribuan kali bahkan 
tidak terhitung kita pernah dilahirkan dalam tubuh yang berbeda-beda..

  Menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sekali maka orang Hindu-budda melihat 
dunia ini dengan cara yang lebih bijaksana, Hindu-budda cendrung lebih menyatu 
dengan alam, seimbang dengan alam, jarang sekali ada orang Hindu merusak alam 
sekitarnya, karena mereka percaya, alam adalah bagian integral dari dirinya, 
roh yang sama juga terdapat pada tumbuhan dan hewan, sama seperti roh yang ada 
pada manusia..



  ****P Ngurah mengarah ke perbedaan jadi kapan ketemunya? Karena sorga ya 
pengertiannya persatuan antara kita dengan Tuhan kata lainnya mungkin kehidupan 
kekal; jadi mungkin bahasanya yang berbeda....



  Sebalikya orang Islam/Kristen  menganggap bahwa tumbuhan/hewan berbeda dengan 
pada manusia, sehingga agama-agama semitik (Islam, Kristen, Yahudi) cendrung 
dengan mudah melakukan exploitasi terhadap alam.namun sebenarnya pada kondisi 
sekarang, orang-orang Kristen/barat mulai mengakui adanya peranan alam ini, 
sehingga sekarang ini bukan hanya umat Hindu yang sering berkata : Ibu Bumi 
(Pertiwi) yang lagi menderita, tapi orang-orang Barat juga berkata dengan 
terminolgi serupa mereka menyebutnya sebagai : the Mother-nature is suffering, 
padahal istilah mother-nature ini saya yakin tidak pernah muncul di Bible 
(Injil)..



  **** Saya tidak berani YAKIN bahwa Mother Nature tidak muncul dalam Bible - 
coba di telaah asal muasal istilah Mother Nature dalam Wikipedia, agama agama 
baru itu melanjutkan agama kuno dengan proses evolusi yang cukup panjang, jadi 
tidak valid lah kalau kita menilainya melalui superioriti....bukankah yang 
superior adalah Tuhan?



  Sehingga konsepsi Veda bahwa : Alam semesta ini sesungguhnya perwujudan dari 
Brahman (Tuhan) : sarwa-idam kalu Brahman, maka seluruh alam semesta ini adalah 
suci menjadi dasar kuat bagi umat penganut Veda (tidak mesti orang Hindu, tapi 
siapapun yang percaya Veda) untuk senantiasa mengupayakan kelestarian alam.



  ***** Saya adalah pembaca Veda bukan penafsir... jadi mencoba untuk melihat 
segala sesuatunya dengan pengetahuan dan nalar.....



  Orang-orang suci di Bali, para leluhur dari sebelum masa Mpu Kuturan telah 
menggariskan konsep keseimbangan yang sempurna antara : Manusia-Tuhan-Alam.

  Tri Hita Karana : Urip-pawongan-palemahan..



  *****Cantik ya  konsep di "Bali"... kita sekarang menghadapi realita yang 
berbeda yang belum ada solusi nyatanya....



  Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak boleh 
setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja Buleleng: I 
Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen (sebelumnya beragama 
Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di alam sana tidak jelas 
(terkatung-katung), teman saya, masih keturunan Panji Tisna, menuturkan bahwa 
sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu keluarga (kesurupan) meminta agar 
dibuatkan upacara pengabenan.. Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen 
menolak, karena mereka tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam 
sana, ia tidak mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di 
tempat Hindu juga ditolak.akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu 
melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa mendapatkan 
tempat yang layak di alam sana..



  *****Jadi Roh Panji Tisna sudah PASTI ya SEKARANG mendapatkan tempat layak di 
alam sana.....apakah melalui proses cenayang makluk luar-bumi bentara zaman 
baru (new age extraterestrial communicators), saya perlu nomor HP nya kalau ada 
(becanda ya Pak);  wah kalau hal yang begini saya kurang paham; apalagi kalau 
baca dan nonton di Discovery sejarah para Firaun dari 3500 tahun lalu yang 
sampai sekarang pun masih utuh dan sejarahnya jelas; nama, umur dan mereka 
tidak melalui proses ngaben.



  Sehingga menurut saya, kita masing-masing dengan agama berbeda sebaiknya 
serius di agama masing-masing, dan menjaga toleransi diantara sesama umat 
beragama. karena Veda ternyata juga membuat arahan/guidance yang serupa : salah 
satu sloka Bhagavadgita Tuhan bersabda sbb

   "Jalan apapun yang engkau tempuh padaKU, berbakti sepenuhnya di jalan itu, 
maka engkau akan mencapai Aku" 



  ***** Wah sama dengan yang tertulis di Al Q'uran dan Kitab Injil; persis 
sekali lo.... apa yang nulis sama kali ya..... penerbitnya yang berbeda.....



  Kehidupan saya di perantauan sejauh ini cukup nyaman, mungkin karena jauh 
dari tempat-tempat yang potensial konflik tinggi seperti Sampit, Kalteng.

  Namun sekarang ini yang cukup memprihatinkan adalah orang-orang Dayak masuk 
(merusak) Taman Nasional Kutai, dengan dalih politis bahwa mereka sampai 
sekarang terpinggirkan oleh kaum pendatang yang kebanyakan suku Bugis, Jawa 
dlll..dengan tindakan ini mereka berharap bisa diperhatikan dan bisa 
mendapatkan hak-hak politik mereka di pemerintahan dan dewan perwakilan yang 
saat ini malah sebagian besar dikuasai oleh pendatang.



  Pura di Balikpapan sekarang ini juga masalah, karena di sebelahnya persis 
dibangun Gereja, umat Hindu protes sudah diajukan ke wali-kota, namun mereka, 
orang-orang Kristen justru menantang balik, mereka bilang, kalau kita tetap 
ribut maka mereka bisa saja bikin seperti di Sampit dengan mengerahkan 
orang-orang Dayak.

  Menurut undang-undang aturannya sudah jelas, rumah ibadah yang berbeda tidak 
boleh didirikan pada jarak kurang dari 200 meter satu sama lain..nah Gereja ini 
jaraknya Cuma 1 meter dari Pura, langsung berbatasan dengan tembok pura.



  **** Di BALI di NUSA DUA, mererot lo antara mesjid, vihara, gereja dan 
pura..... dan OK OK saja semua; jadi saya rasa yang 'bler' itu orang-orangnya 
ya... nggak ada hubungannya dengan agama, yang protes sekelompok orang yang 
belum paham, agamanya sih ok saja......



  Pendapat saya ya P Ngurah cocok hidup di jaman sebelum Axial Age dimana 
penggolongan menjadi cara kehidupan manusia ketika itu... sedangkan kita yang 
hidup sekarang mencoba untuk menyederhanakan dan meminimalisasi adanya 
penggolongan yang mencolok antar manusia hidup.



  Saya kutip: "Mengapa begitu besar perubahan terjadi selama jaman Aksial yang 
seribu tahun itu?  Dalam kurun masa tersebut penduduk bertambah dengan cepat 
dan senyampang dengan bertambahnya jumlah anggota serta kerumitan masyarakat, 
agama-agama besar terpaksa menghadapi masalah-masalah baru yang timbul.  Pada 
mulanya, agama Hindu dan Yahudi menghadapi ketegangan-ketegangan sosial dalam 
lingkungan masyarakat sendiri dengan menempatkan orang dalam berbagai 
penggolongan.  Penggolongan seperti PENAKLUK DAN TAKLUKAN, KAYA DAN MISKIN, 
menyebabkan agama Hindu menerapkan sistem kasta.  Dalam Agama Yahudi golongan 
parisi membedakan orang yang baik dari yang jahat.  Timbulnya agama Budha, 
Kristen dan Islam adalah akibat gelombang reaksi penggolongan tersebut" Donal 
B. Calne.



  Kita belajar dari sejarah ya P Ngurah supaya kita bisa membangun masyarakat 
kedepan yang lebih berani because IT TAKES COURAGE TO BE A HUMAN BEING....  and 
the Key is UNDERSTANDING.... 







  Suksme

  GNA 





  -----Original Message-----
  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana Viebeke 
Lengkong
  Sent: Tuesday, October 02, 2007 10:05 AM
  To: [email protected]
  Subject: [bali] Re: Mahabaratha



  P Ngurah Ambara,



  Kalau sebatas ignorance yang di jabarkan oleh P Ngurah ini, ya bagi saya agak 
sedikit terlalu sempit....   tapi kita tetap tidak bisa berhenti ber-dialog 
jadi jangan pernah memberi perintah kepada orang lain untuk menghentikan dialog 
hanya karena pendapat bahwa orang lain kurang memiliki potensi untuk berbicara 
soal Mahabharata, karena sudah ada ribuan tahun yang lalu.  Kita semua memiliki 
keterbatasan dalam segala hal.



  Saya kecut sekali ketika membaca email Bapak terdahulu tentang Mahabharata; 
saya jadi tidak ingin beragama, bayangkan saya ini hidup di keluarga yang 
menganut multi agama, jadi pengertian serta toleransi di tuntut mutlak oleh 
semua anggota keluarga dalam kesepakatan bahwa kita boleh berbicara bebas 
dengan menggunakan nalar bebas juga ketika kita melakukan kritik dan lainnya.  
Karena tentunya ada hal lain juga yang harus diperhatikan, moral dan etika dan 
banyak hal lagi.



  Ketika keluarga berkumpul kita membicarakan agama secara bebas; saya ingat 
(masih umur 7 tahun) salah satu anggota keluarga sepuh bicara soal Jaman Axial 
sekitar 500 sebelum masehi sampai 600 Masehi yang disebut jaman renaisans 
agamawi.  Di jaman itu lahir kesemestaan dan hidup sesudah mati terbuka bagi 
siapa saja yang melaksanakan kehidupan yang baik (karma); gagasan hak-hak yang 
setara untuk bisa memasuki kehidupan surgawi itu secara cepat sekali merambah 
ke berbagai budaya seantero jagad.  Tapi sayangnya setiap agama punya pandangan 
yang beda tentang yang di anggap sebagai kehidupan yang baik.  Banyak masalah 
masalah agama ketika itu yang sangat rumit dan membingungkan yang melatar 
belakangi terbangunnya Axial age itu dengan dogma-dogma agama yang lebih 
sederhana dan juga terjadi reformasi sosial.



  Apakah kemudian ajaran Budha, Kristen, Islam tentang toleransi itu sifatnya 
agamis atau politis?  tentunya untuk menerima gagasan bahwa orang yang sakit, 
miskin, atau kaum minoritas, marjinal perlu mendapat perhatian itu menjadi 
tugas yang bersifat agamis dan politis.  Agama-agama baru itu terbuka untuk 
semua orang karena para pemeluknya diberikan kebebasan untuk dapat ikut serta 
dalam kegiatan agamawi dan juga mendapatkan pengakuan terhadap kehidupan sosial 
mereka.



  Jadi, P Ngurah, ayolah berbagi dalam dialog terbuka dengan menggunakan nalar 
yang bebas tanpa ada rasa benci, marah dan mari kita buang syak wasangka.



  Kalau boleh saya bertanya; P Ngurah kan hidup di perantauan antara Jakarta 
dan Kalimantan (maaf kalau salah); bagaimana hubungan P Ngurah dengan orang 
lain dari budaya dan agama yang lain pula yang ada di sekitar?  Nyamankan P 
Ngurah?  atau terganggu?  Bisa share nggak?



  Maaf kalau tidak berkenan.



  Vieb

    ----- Original Message ----- 

    From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 

    To: [email protected] 

    Sent: Monday, October 01, 2007 1:46 PM

    Subject: [bali] Mahabaratha



    Ok Suksme Mbak Vieb atas info-nya..kejahatan yang dibuat oleh manusia 
karena ignorance (ketidaktahuan) bahwa sang roh (atma) berasal dari sang 
Maha-Roh (Maha-Purusa) yang sama .dan bahwa sang roh tidak bisa membunuh dan 
tidak bisa dibunuh, abadi, selalu sama (selalu muda), bukan laki-laki bukan 
perempuan (ardanareswaria), tidak terfikirkan (acintya), tidak dilahirkan 
(awyakta) dsb.sudahlah jadi terlalu berat diskusi-nya he-he-he...:)) 



    Ok nanti kalau sempat saya akan baca Info Bali-post ini.



    Semoga damai selalu..suksme 






Kirim email ke