Pak lengkey salam kenal juga...he-he-he benar juga sebaiknya forumnya nanti dibuat khusus saja, kalau tidak yang lain pada bosan...
Sejak lengser-nya Suharto, perasaan ke-Indonesia-an saya makin luntur, karena begitu banyak kekerasan atas nama agama, saya tidak percaya lagi bahwa bangsa ini mendukung Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika...Segmentasi atas nama agama makin pekat dan menakutkan..saat ini selain Achech maka sudah terdapat 26 Daerah kabupaten/provinsi menyatakan berlakunya Syariah Islam ...mungkin ada baiknya Bali Otonomi Khusus saja... Suksme GNA -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, October 02, 2007 6:09 PM To: [email protected] Subject: [bali] Re: mother-nature Hallo Pak Ambara salam kenal, Saya ikut membaca berita anda diforum ini, saya usulkan soal forum agama bagusnya dikhususkan dalam satu forum saja supaya semua orang yang mempunyai pandangan soal agama bisa tertampung dalam satu wadah. Dan seperti pak Ambara katakan kita bisa serius dan tidak setengah-setengah. Bagaimana Pak Wis....pendapat anda? Saya kira Forum ini hanya untuk membicarakan soal pembangunan dan pelestarian Bali dan Khususnya Singaraja tanpa mempemasalahkan soal ke- Agamaan. Karena masalah Agama sudah menyentuh pesoalaan "AKU" (kata pak Wis-sebelumnya), dan saya juga sepaham. Dari contoh yang pak Ambara berikan saya kutip saja: " Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak boleh setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja Buleleng: I Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen (sebelumnya beragama Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di alam sana tidak jelas (terkatung-katung), teman saya, masih keturunan Panji Tisna, menuturkan bahwa sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu keluarga (kesurupan) meminta agar dibuatkan upacara pengabenan.. Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen menolak, karena mereka tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam sana, ia tidak mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di tempat Hindu juga ditolak...akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa mendapatkan tempat yang layak di alam sana... ini contoh yang sepihak dari pak Ambara tentang "kebenaran", mengapa tidak saja langsung bertanya kepada keluarga Almarhum dari istri yang kedua sampai yang keempat. Saya disini hanya besifat kritis dalam hal memberikan referensi. Dari mana kita bisa tahu bahwa rohnya disana ditolak, baik ditempat Hindu maupun di tempat Kristen. Apakah ada buktinya? apakah orang kesurupan sudah memberikan bukti?, ini hanya reaksi saya sebagai pembaca. Kudua soal Pura dan Gereja yang saling berdekatan di Balikpapan, saya pikir pemerintah/wali kota setempat musti harus tegas menangani pesoalan ini, dan jangan dibiarkan sampai berlarut-larut. Jika protes yang disampaikan tidak digubris, yah kita musti waspada apakah ada pihak ketiga yang ingin kekacauan?. Jika saya baca berita yang dari jogja dan Ciamis dimana dibulan Ramadan ini ada aksi perusakan dan sifat anarhis terhadap restorant dan Kiost yang dipaksa tutup dan tidak hanya itu saja bahkan pejualpun di pukuli. Saya lihat beritanya di Liputan6. Jadi jelas bahwa aparat pemerintah kita sangat lemah. Dipihak aparat keamananpun tidak ada penanganan preventif dalam masalah ini. Jadi kita bisa berpikir dengan kepala dingin dimana letak kelemahan kita jika ada konflik yang memacu masyarakat luas? Mari kita berikan pengarahan yang baik untuk kedua belah pihak supaya mereka sadar, bahwa mereka juga manusia yang sama, hanya berbeda "AKU"nya.! Walaupun demikian saya tetap menghargai pendapat anda. Mohon maaf apabila ada perkataan yang menyakiti hati pak Ambara. Kita hanya bertukar pikiran khan! Sekali lagi saya usulkan supaya hal keagamaan diberikan di forum/wadah yang khusus......., mengingat teman teman yang lainnya yang mungkin tidak begitu tertarik soal Salam Thom Lengkey ----- Original Message ----- From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, October 02, 2007 5:07 AM Subject: [bali] mother-nature Mbak Asana... Toleransi dalam kehidupan sosial memang sangat diperlukan, karena sesungguhnya manusia adalah mahkluk sosial..dan kalaupun misalnya tidak ada, tidak pernah muncul agama-agama di muka bumi, maka toleransi ini bisa tetap terjadi, karena manusia saling memerlukannya untuk hidup/bertahan hidup... Tapi begitu menyangkut masalah-masalah yang subtle dari agama, maka manusia dengan agama berbeda menjadi tidak bisa ketemu, karena secara mendasar : Hindu, Buddha, Islam dan Kristen sangat berbeda... - Islam/Kristen tidak mengenal Karma-reinkarnasi maupun moksa (nirvana), tapi mengenal sorga... - Hindu-buddha mengakui adanya hukum karma-reinkarnasi dan menuju moksa (bersatunya Roh dengan Maha Roh: Tuhan) ... Hindu dan Budda menyatakan hidup ini bukan sekali, tapi ribuan kali bahkan tidak terhitung kita pernah dilahirkan dalam tubuh yang berbeda-beda.. Menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sekali maka orang Hindu-budda melihat dunia ini dengan cara yang lebih bijaksana, Hindu-budda cendrung lebih menyatu dengan alam, seimbang dengan alam, jarang sekali ada orang Hindu merusak alam sekitarnya, karena mereka percaya, alam adalah bagian integral dari dirinya, roh yang sama juga terdapat pada tumbuhan dan hewan, sama seperti roh yang ada pada manusia.... Sebalikya orang Islam/Kristen menganggap bahwa tumbuhan/hewan berbeda dengan pada manusia, sehingga agama-agama semitik (Islam, Kristen, Yahudi) cendrung dengan mudah melakukan exploitasi terhadap alam...namun sebenarnya pada kondisi sekarang, orang-orang Kristen/barat mulai mengakui adanya peranan alam ini, sehingga sekarang ini bukan hanya umat Hindu yang sering berkata : Ibu Bumi (Pertiwi) yang lagi menderita, tapi orang-orang Barat juga berkata dengan terminolgi serupa mereka menyebutnya sebagai : the Mother-nature is suffering, padahal istilah mother-nature ini saya yakin tidak pernah muncul di Bible (Injil).... Sehingga konsepsi Veda bahwa : Alam semesta ini sesungguhnya perwujudan dari Brahman (Tuhan) : sarwa-idam kalu Brahman, maka seluruh alam semesta ini adalah suci menjadi dasar kuat bagi umat penganut Veda (tidak mesti orang Hindu, tapi siapapun yang percaya Veda) untuk senantiasa mengupayakan kelestarian alam... Orang-orang suci di Bali, para leluhur dari sebelum masa Mpu Kuturan telah menggariskan konsep keseimbangan yang sempurna antara : Manusia-Tuhan-Alam... Tri Hita Karana : Urip-pawongan-palemahan.... Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak boleh setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja Buleleng: I Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen (sebelumnya beragama Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di alam sana tidak jelas (terkatung-katung), teman saya, masih keturunan Panji Tisna, menuturkan bahwa sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu keluarga (kesurupan) meminta agar dibuatkan upacara pengabenan.. Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen menolak, karena mereka tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam sana, ia tidak mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di tempat Hindu juga ditolak...akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa mendapatkan tempat yang layak di alam sana.... Sehingga menurut saya, kita masing-masing dengan agama berbeda sebaiknya serius di agama masing-masing, dan menjaga toleransi diantara sesama umat beragama... karena Veda ternyata juga membuat arahan/guidance yang serupa : salah satu sloka Bhagavadgita Tuhan bersabda sbb "Jalan apapun yang engkau tempuh padaKU, berbakti sepenuhnya di jalan itu, maka engkau akan mencapai Aku" Kehidupan saya di perantauan sejauh ini cukup nyaman, mungkin karena jauh dari tempat-tempat yang potensial konflik tinggi seperti Sampit, Kalteng... Namun sekarang ini yang cukup memprihatinkan adalah orang-orang Dayak masuk (merusak) Taman Nasional Kutai, dengan dalih politis bahwa mereka sampai sekarang terpinggirkan oleh kaum pendatang yang kebanyakan suku Bugis, Jawa dlll..dengan tindakan ini mereka berharap bisa diperhatikan dan bisa mendapatkan hak-hak politik mereka di pemerintahan dan dewan perwakilan yang saat ini malah sebagian besar dikuasai oleh pendatang... Pura di Balikpapan sekarang ini juga masalah, karena di sebelahnya persis dibangun Gereja, umat Hindu protes sudah diajukan ke wali-kota, namun mereka, orang-orang Kristen justru menantang balik, mereka bilang, kalau kita tetap ribut maka mereka bisa saja bikin seperti di Sampit dengan mengerahkan orang-orang Dayak... Menurut undang-undang aturannya sudah jelas, rumah ibadah yang berbeda tidak boleh didirikan pada jarak kurang dari 200 meter satu sama lain..nah Gereja ini jaraknya Cuma 1 meter dari Pura, langsung berbatasan dengan tembok pura... Suksme GNA -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana Viebeke Lengkong Sent: Tuesday, October 02, 2007 10:05 AM To: [email protected] Subject: [bali] Re: Mahabaratha P Ngurah Ambara, Kalau sebatas ignorance yang di jabarkan oleh P Ngurah ini, ya bagi saya agak sedikit terlalu sempit.... tapi kita tetap tidak bisa berhenti ber-dialog jadi jangan pernah memberi perintah kepada orang lain untuk menghentikan dialog hanya karena pendapat bahwa orang lain kurang memiliki potensi untuk berbicara soal Mahabharata, karena sudah ada ribuan tahun yang lalu. Kita semua memiliki keterbatasan dalam segala hal. Saya kecut sekali ketika membaca email Bapak terdahulu tentang Mahabharata; saya jadi tidak ingin beragama, bayangkan saya ini hidup di keluarga yang menganut multi agama, jadi pengertian serta toleransi di tuntut mutlak oleh semua anggota keluarga dalam kesepakatan bahwa kita boleh berbicara bebas dengan menggunakan nalar bebas juga ketika kita melakukan kritik dan lainnya. Karena tentunya ada hal lain juga yang harus diperhatikan, moral dan etika dan banyak hal lagi. Ketika keluarga berkumpul kita membicarakan agama secara bebas; saya ingat (masih umur 7 tahun) salah satu anggota keluarga sepuh bicara soal Jaman Axial sekitar 500 sebelum masehi sampai 600 Masehi yang disebut jaman renaisans agamawi. Di jaman itu lahir kesemestaan dan hidup sesudah mati terbuka bagi siapa saja yang melaksanakan kehidupan yang baik (karma); gagasan hak-hak yang setara untuk bisa memasuki kehidupan surgawi itu secara cepat sekali merambah ke berbagai budaya seantero jagad. Tapi sayangnya setiap agama punya pandangan yang beda tentang yang di anggap sebagai kehidupan yang baik. Banyak masalah masalah agama ketika itu yang sangat rumit dan membingungkan yang melatar belakangi terbangunnya Axial age itu dengan dogma-dogma agama yang lebih sederhana dan juga terjadi reformasi sosial. Apakah kemudian ajaran Budha, Kristen, Islam tentang toleransi itu sifatnya agamis atau politis? tentunya untuk menerima gagasan bahwa orang yang sakit, miskin, atau kaum minoritas, marjinal perlu mendapat perhatian itu menjadi tugas yang bersifat agamis dan politis. Agama-agama baru itu terbuka untuk semua orang karena para pemeluknya diberikan kebebasan untuk dapat ikut serta dalam kegiatan agamawi dan juga mendapatkan pengakuan terhadap kehidupan sosial mereka. Jadi, P Ngurah, ayolah berbagi dalam dialog terbuka dengan menggunakan nalar yang bebas tanpa ada rasa benci, marah dan mari kita buang syak wasangka. Kalau boleh saya bertanya; P Ngurah kan hidup di perantauan antara Jakarta dan Kalimantan (maaf kalau salah); bagaimana hubungan P Ngurah dengan orang lain dari budaya dan agama yang lain pula yang ada di sekitar? Nyamankan P Ngurah? atau terganggu? Bisa share nggak? Maaf kalau tidak berkenan. Vieb ----- Original Message ----- From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, October 01, 2007 1:46 PM Subject: [bali] Mahabaratha Ok Suksme Mbak Vieb atas info-nya..kejahatan yang dibuat oleh manusia karena ignorance (ketidaktahuan) bahwa sang roh (atma) berasal dari sang Maha-Roh (Maha-Purusa) yang sama ...dan bahwa sang roh tidak bisa membunuh dan tidak bisa dibunuh, abadi, selalu sama (selalu muda), bukan laki-laki bukan perempuan (ardanareswaria), tidak terfikirkan (acintya), tidak dilahirkan (awyakta) dsb...sudahlah jadi terlalu berat diskusi-nya he-he-he.....:)) Ok nanti kalau sempat saya akan baca Info Bali-post ini... Semoga damai selalu..suksme
