Hallo Pak Ambara salam kenal,

Saya ikut membaca berita anda diforum ini, saya usulkan soal forum agama 
bagusnya dikhususkan dalam satu forum saja supaya semua orang yang mempunyai 
pandangan soal agama bisa tertampung dalam satu wadah. Dan seperti pak Ambara 
katakan kita bisa serius dan tidak setengah-setengah. Bagaimana Pak 
Wis....pendapat anda?

Saya kira Forum ini hanya untuk membicarakan soal pembangunan dan pelestarian 
Bali dan Khususnya Singaraja tanpa mempemasalahkan soal ke- Agamaan. Karena 
masalah Agama sudah menyentuh pesoalaan "AKU" (kata pak Wis-sebelumnya), dan 
saya juga sepaham.

Dari contoh yang pak Ambara berikan saya kutip saja: "

Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak boleh 
setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja Buleleng: I 
Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen (sebelumnya beragama 
Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di alam sana tidak jelas 
(terkatung-katung), teman saya, masih keturunan Panji Tisna, menuturkan bahwa 
sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu keluarga (kesurupan) meminta agar 
dibuatkan upacara pengabenan.. Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen 
menolak, karena mereka tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam 
sana, ia tidak mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di 
tempat Hindu juga ditolak.akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu 
melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa mendapatkan 
tempat yang layak di alam sana.

                  

                                                                                
                                                                                
              

ini contoh yang sepihak dari pak Ambara tentang "kebenaran", mengapa tidak saja 
langsung bertanya kepada keluarga  Almarhum dari istri yang kedua sampai yang 
keempat.  Saya disini hanya besifat kritis dalam hal memberikan referensi. Dari 
mana kita bisa tahu bahwa rohnya disana ditolak, baik ditempat Hindu maupun di 
tempat Kristen. Apakah ada buktinya? apakah orang kesurupan sudah memberikan 
bukti?, ini hanya reaksi saya sebagai pembaca. 



Kudua soal Pura dan Gereja yang saling berdekatan di Balikpapan, saya pikir 
pemerintah/wali kota setempat musti harus tegas menangani pesoalan ini, dan 
jangan dibiarkan sampai berlarut-larut. Jika protes yang disampaikan tidak 
digubris, yah kita musti waspada apakah ada pihak ketiga yang ingin kekacauan?. 
Jika saya baca berita yang dari jogja dan Ciamis dimana dibulan Ramadan ini ada 
aksi perusakan dan sifat anarhis terhadap restorant dan Kiost yang dipaksa 
tutup dan tidak hanya itu saja bahkan pejualpun di pukuli. Saya lihat beritanya 
di Liputan6. Jadi jelas bahwa aparat pemerintah kita sangat lemah. Dipihak 
aparat keamananpun tidak ada penanganan preventif dalam masalah ini. Jadi kita 
bisa berpikir dengan kepala dingin dimana letak kelemahan kita jika ada konflik 
yang memacu masyarakat luas?



Mari kita berikan pengarahan yang baik untuk kedua belah pihak supaya mereka 
sadar, bahwa mereka juga manusia yang sama, hanya berbeda "AKU"nya.!

Walaupun demikian saya tetap menghargai pendapat anda. Mohon maaf apabila ada 
perkataan yang menyakiti hati pak Ambara. Kita hanya bertukar pikiran khan!



Sekali lagi saya usulkan supaya hal keagamaan diberikan di forum/wadah yang 
khusus......., mengingat teman teman yang lainnya yang mungkin tidak begitu 
tertarik soal



Salam

Thom Lengkey



  ----- Original Message ----- 
  From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, October 02, 2007 5:07 AM
  Subject: [bali] mother-nature 


  Mbak Asana.



  Toleransi dalam kehidupan sosial memang sangat diperlukan, karena 
sesungguhnya manusia adalah mahkluk sosial..dan kalaupun misalnya tidak ada, 
tidak pernah muncul agama-agama di muka bumi, maka toleransi ini bisa tetap 
terjadi, karena manusia saling memerlukannya untuk hidup/bertahan hidup.

  Tapi begitu menyangkut masalah-masalah yang subtle dari agama, maka manusia 
dengan agama berbeda menjadi tidak bisa ketemu, karena secara mendasar : Hindu, 
Buddha, Islam dan Kristen sangat berbeda.

  -          Islam/Kristen tidak mengenal Karma-reinkarnasi maupun moksa 
(nirvana), tapi mengenal sorga.

  -          Hindu-buddha mengakui adanya hukum karma-reinkarnasi dan menuju 
moksa (bersatunya Roh dengan Maha Roh: Tuhan) .

  Hindu dan Budda menyatakan hidup ini bukan sekali, tapi ribuan kali bahkan 
tidak terhitung kita pernah dilahirkan dalam tubuh yang berbeda-beda..

  Menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sekali maka orang Hindu-budda melihat 
dunia ini dengan cara yang lebih bijaksana, Hindu-budda cendrung lebih menyatu 
dengan alam, seimbang dengan alam, jarang sekali ada orang Hindu merusak alam 
sekitarnya, karena mereka percaya, alam adalah bagian integral dari dirinya, 
roh yang sama juga terdapat pada tumbuhan dan hewan, sama seperti roh yang ada 
pada manusia..



  Sebalikya orang Islam/Kristen  menganggap bahwa tumbuhan/hewan berbeda dengan 
pada manusia, sehingga agama-agama semitik (Islam, Kristen, Yahudi) cendrung 
dengan mudah melakukan exploitasi terhadap alam.namun sebenarnya pada kondisi 
sekarang, orang-orang Kristen/barat mulai mengakui adanya peranan alam ini, 
sehingga sekarang ini bukan hanya umat Hindu yang sering berkata : Ibu Bumi 
(Pertiwi) yang lagi menderita, tapi orang-orang Barat juga berkata dengan 
terminolgi serupa mereka menyebutnya sebagai : the Mother-nature is suffering, 
padahal istilah mother-nature ini saya yakin tidak pernah muncul di Bible 
(Injil)..



  Sehingga konsepsi Veda bahwa : Alam semesta ini sesungguhnya perwujudan dari 
Brahman (Tuhan) : sarwa-idam kalu Brahman, maka seluruh alam semesta ini adalah 
suci menjadi dasar kuat bagi umat penganut Veda (tidak mesti orang Hindu, tapi 
siapapun yang percaya Veda) untuk senantiasa mengupayakan kelestarian alam.



  Orang-orang suci di Bali, para leluhur dari sebelum masa Mpu Kuturan telah 
menggariskan konsep keseimbangan yang sempurna antara : Manusia-Tuhan-Alam.

  Tri Hita Karana : Urip-pawongan-palemahan..



  Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak boleh 
setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja Buleleng: I 
Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen (sebelumnya beragama 
Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di alam sana tidak jelas 
(terkatung-katung), teman saya, masih keturunan Panji Tisna, menuturkan bahwa 
sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu keluarga (kesurupan) meminta agar 
dibuatkan upacara pengabenan.. Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen 
menolak, karena mereka tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam 
sana, ia tidak mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di 
tempat Hindu juga ditolak.akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu 
melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa mendapatkan 
tempat yang layak di alam sana..



  Sehingga menurut saya, kita masing-masing dengan agama berbeda sebaiknya 
serius di agama masing-masing, dan menjaga toleransi diantara sesama umat 
beragama. karena Veda ternyata juga membuat arahan/guidance yang serupa : salah 
satu sloka Bhagavadgita Tuhan bersabda sbb

   "Jalan apapun yang engkau tempuh padaKU, berbakti sepenuhnya di jalan itu, 
maka engkau akan mencapai Aku" 



  Kehidupan saya di perantauan sejauh ini cukup nyaman, mungkin karena jauh 
dari tempat-tempat yang potensial konflik tinggi seperti Sampit, Kalteng.

  Namun sekarang ini yang cukup memprihatinkan adalah orang-orang Dayak masuk 
(merusak) Taman Nasional Kutai, dengan dalih politis bahwa mereka sampai 
sekarang terpinggirkan oleh kaum pendatang yang kebanyakan suku Bugis, Jawa 
dlll..dengan tindakan ini mereka berharap bisa diperhatikan dan bisa 
mendapatkan hak-hak politik mereka di pemerintahan dan dewan perwakilan yang 
saat ini malah sebagian besar dikuasai oleh pendatang.



  Pura di Balikpapan sekarang ini juga masalah, karena di sebelahnya persis 
dibangun Gereja, umat Hindu protes sudah diajukan ke wali-kota, namun mereka, 
orang-orang Kristen justru menantang balik, mereka bilang, kalau kita tetap 
ribut maka mereka bisa saja bikin seperti di Sampit dengan mengerahkan 
orang-orang Dayak.

  Menurut undang-undang aturannya sudah jelas, rumah ibadah yang berbeda tidak 
boleh didirikan pada jarak kurang dari 200 meter satu sama lain..nah Gereja ini 
jaraknya Cuma 1 meter dari Pura, langsung berbatasan dengan tembok pura.



  Suksme

  GNA 





  -----Original Message-----
  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana Viebeke 
Lengkong
  Sent: Tuesday, October 02, 2007 10:05 AM
  To: [email protected]
  Subject: [bali] Re: Mahabaratha



  P Ngurah Ambara,



  Kalau sebatas ignorance yang di jabarkan oleh P Ngurah ini, ya bagi saya agak 
sedikit terlalu sempit....   tapi kita tetap tidak bisa berhenti ber-dialog 
jadi jangan pernah memberi perintah kepada orang lain untuk menghentikan dialog 
hanya karena pendapat bahwa orang lain kurang memiliki potensi untuk berbicara 
soal Mahabharata, karena sudah ada ribuan tahun yang lalu.  Kita semua memiliki 
keterbatasan dalam segala hal.



  Saya kecut sekali ketika membaca email Bapak terdahulu tentang Mahabharata; 
saya jadi tidak ingin beragama, bayangkan saya ini hidup di keluarga yang 
menganut multi agama, jadi pengertian serta toleransi di tuntut mutlak oleh 
semua anggota keluarga dalam kesepakatan bahwa kita boleh berbicara bebas 
dengan menggunakan nalar bebas juga ketika kita melakukan kritik dan lainnya.  
Karena tentunya ada hal lain juga yang harus diperhatikan, moral dan etika dan 
banyak hal lagi.



  Ketika keluarga berkumpul kita membicarakan agama secara bebas; saya ingat 
(masih umur 7 tahun) salah satu anggota keluarga sepuh bicara soal Jaman Axial 
sekitar 500 sebelum masehi sampai 600 Masehi yang disebut jaman renaisans 
agamawi.  Di jaman itu lahir kesemestaan dan hidup sesudah mati terbuka bagi 
siapa saja yang melaksanakan kehidupan yang baik (karma); gagasan hak-hak yang 
setara untuk bisa memasuki kehidupan surgawi itu secara cepat sekali merambah 
ke berbagai budaya seantero jagad.  Tapi sayangnya setiap agama punya pandangan 
yang beda tentang yang di anggap sebagai kehidupan yang baik.  Banyak masalah 
masalah agama ketika itu yang sangat rumit dan membingungkan yang melatar 
belakangi terbangunnya Axial age itu dengan dogma-dogma agama yang lebih 
sederhana dan juga terjadi reformasi sosial.



  Apakah kemudian ajaran Budha, Kristen, Islam tentang toleransi itu sifatnya 
agamis atau politis?  tentunya untuk menerima gagasan bahwa orang yang sakit, 
miskin, atau kaum minoritas, marjinal perlu mendapat perhatian itu menjadi 
tugas yang bersifat agamis dan politis.  Agama-agama baru itu terbuka untuk 
semua orang karena para pemeluknya diberikan kebebasan untuk dapat ikut serta 
dalam kegiatan agamawi dan juga mendapatkan pengakuan terhadap kehidupan sosial 
mereka.



  Jadi, P Ngurah, ayolah berbagi dalam dialog terbuka dengan menggunakan nalar 
yang bebas tanpa ada rasa benci, marah dan mari kita buang syak wasangka.



  Kalau boleh saya bertanya; P Ngurah kan hidup di perantauan antara Jakarta 
dan Kalimantan (maaf kalau salah); bagaimana hubungan P Ngurah dengan orang 
lain dari budaya dan agama yang lain pula yang ada di sekitar?  Nyamankan P 
Ngurah?  atau terganggu?  Bisa share nggak?



  Maaf kalau tidak berkenan.



  Vieb

    ----- Original Message ----- 

    From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 

    To: [email protected] 

    Sent: Monday, October 01, 2007 1:46 PM

    Subject: [bali] Mahabaratha



    Ok Suksme Mbak Vieb atas info-nya..kejahatan yang dibuat oleh manusia 
karena ignorance (ketidaktahuan) bahwa sang roh (atma) berasal dari sang 
Maha-Roh (Maha-Purusa) yang sama .dan bahwa sang roh tidak bisa membunuh dan 
tidak bisa dibunuh, abadi, selalu sama (selalu muda), bukan laki-laki bukan 
perempuan (ardanareswaria), tidak terfikirkan (acintya), tidak dilahirkan 
(awyakta) dsb.sudahlah jadi terlalu berat diskusi-nya he-he-he...:)) 



    Ok nanti kalau sempat saya akan baca Info Bali-post ini.



    Semoga damai selalu..suksme 






Kirim email ke