P Wis,

Tadi pagi sekali saya di interview of BBC radio menjelang peringatan bom bali 
12 Okt ini.


Saya bicara soal understanding, tolerance dan freedom... terima kasih lo juga 
dengan forum ini dan P Ngurah yang sudah memberikan saya inspirasi jadi saya 
tidak ragu ragu tadi ketika di wawancara....

Kita sebenarnya sejak tahun 2003 sudah menginisiasi di bangunnya sebuat taman 
perdamaian di areal bekas Sari Pub dan Paddys... tetapi rupanya terhalang 
dengan pemahaman tentang peringatan bom dan makna sejarah....

Perlu rasanya untuk mewariskan kepada anak anak kita untuk mengakui adanya masa 
lalu dengan maksud agar kita bisa membangun masa depan untuk anak anak keluar 
dari rasa takut.  Saya juga bilang 'it takes courage to be a human being'... 
tapi bener bener deh dialog di forum selama 3 hari ini menginspirasi saya untuk 
mempromote pengertian di antara kita manusia.

Saya juga bicara bahwa pemberontak pun harus di dengar suaranya..... dan dalam 
hal ini kita suka terlambat karena ternyata pemberontak juga punya rencana dan 
berbuat nyata dengan pernyataan2 yang dapat menyakiti manusia lain.. salah satu 
yang paling fatal ya bom itu sendiri.

Orang Bali tidak kenal dengan peringatan jadi apa pendapat saya? itu 
pertanyaannya juga.... jawaban saya... bahwa orang Bali juga harus sadar bahwa 
dunia itu tidak terdiri dari orang Bali saja... contohnya di Kuta... sudah 
menjadi kota dunia dengan multikultur nya.... saya ingat dulu di lokasi dimana 
ada Kayon peringatan dengan nama nama korban itu ada pohon besaaaar sekali tapi 
ya jalannya juga belum seperti sekarang ini.. masih jalan tanah.... (duh saya 
jadi kangen dengan masa itu) namun perlu kita bertoleransi dengan budaya orang 
lain dimana mereka perlu ada nya nisan peringatan... jadi memang disana kita 
melihat terjadinya proses toleransi itu ya....

Menarik dan kompleks sekali kita manusia ini ya P Wis..... pro kontra 
intolerance blinkert but so beautiful in its own way... and I love you all...

vieb
  ----- Original Message ----- 
  From: Pan Bima 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, October 02, 2007 2:21 PM
  Subject: [bali] Re: mother-nature


  Agama mestinya membebaskan manusia dari jebakan-jebakan pikiran yang membawa 
ke ruang sempit dan pengap. Kendalikan Si Aku, karena Si Aku akan berkata : Aku 
disini dan Kau disana, Diantara Aku dan Kau ada jurang. Si Aku menjauhkan kita 
dari ajaran TAT TWAM ASI. 


  salam
  gde wisnaya w.


   
  On 10/2/07, Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
    Saya jawab dengan interaktif saja ya (jawaban saya dengan tanda **** 
dibawah tulisan P Ngurah) .... kita terbuka saja, jadi tidak ada yang merasa 
perlu 'tidak nyaman' ya... kita nyaman nyaman kan saja; karena ini adalah 
termasuk kebebasan berpendapat... jangan perlu ada yang tersinggung atau tidak 
nyaman, semua perlu proses pendewasaan... 

    Saya sendiri berdialog dengan P Ngurah nggak mau dianggap ada agama 
saja.... kalau saya bawa agama... pasti banyak yang tersinggung... jadi jangan 
buang tenaga lah untuk tersinggung... hehehe 
      ----- Original Message ----- 
      From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
      To: [email protected] 
      Sent: Tuesday, October 02, 2007 11:07 AM
      Subject: [bali] mother-nature

       
      Mbak Asana…



      Toleransi dalam kehidupan sosial memang sangat diperlukan, karena 
sesungguhnya manusia adalah mahkluk sosial..dan kalaupun misalnya tidak ada, 
tidak pernah muncul agama-agama di muka bumi, maka toleransi ini bisa tetap 
terjadi, karena manusia saling memerlukannya untuk hidup/bertahan hidup… 

      Tapi begitu menyangkut masalah-masalah yang subtle dari agama, maka 
manusia dengan agama berbeda menjadi tidak bisa ketemu, karena secara mendasar 
: Hindu, Buddha, Islam dan Kristen sangat berbeda… 

      -          Islam/Kristen tidak mengenal Karma-reinkarnasi maupun moksa 
(nirvana), tapi mengenal sorga… 

      -          Hindu-buddha mengakui adanya hukum karma-reinkarnasi dan 
menuju moksa (bersatunya Roh dengan Maha Roh: Tuhan) … 

      Hindu dan Budda menyatakan hidup ini bukan sekali, tapi ribuan kali 
bahkan tidak terhitung kita pernah dilahirkan dalam tubuh yang berbeda-beda.. 

      Menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sekali maka orang Hindu-budda 
melihat dunia ini dengan cara yang lebih bijaksana, Hindu-budda cendrung lebih 
menyatu dengan alam, seimbang dengan alam, jarang sekali ada orang Hindu 
merusak alam sekitarnya, karena mereka percaya, alam adalah bagian integral 
dari dirinya, roh yang sama juga terdapat pada tumbuhan dan hewan, sama seperti 
roh yang ada pada manusia…. 



      ****P Ngurah mengarah ke perbedaan jadi kapan ketemunya? Karena sorga ya 
pengertiannya persatuan antara kita dengan Tuhan kata lainnya mungkin kehidupan 
kekal; jadi mungkin bahasanya yang berbeda.... 



      Sebalikya orang Islam/Kristen  menganggap bahwa tumbuhan/hewan berbeda 
dengan pada manusia, sehingga agama-agama semitik (Islam, Kristen, Yahudi) 
cendrung dengan mudah melakukan exploitasi terhadap alam…namun sebenarnya pada 
kondisi sekarang, orang-orang Kristen/barat mulai mengakui adanya peranan alam 
ini, sehingga sekarang ini bukan hanya umat Hindu yang sering berkata : Ibu 
Bumi (Pertiwi) yang lagi menderita, tapi orang-orang Barat juga berkata dengan 
terminolgi serupa mereka menyebutnya sebagai : the Mother-nature is suffering, 
padahal istilah mother-nature ini saya yakin tidak pernah muncul di Bible 
(Injil)…. 



      **** Saya tidak berani YAKIN bahwa Mother Nature tidak muncul dalam Bible 
- coba di telaah asal muasal istilah Mother Nature dalam Wikipedia, agama agama 
baru itu melanjutkan agama kuno dengan proses evolusi yang cukup panjang, jadi 
tidak valid lah kalau kita menilainya melalui superioriti....bukankah yang 
superior adalah Tuhan? 



      Sehingga konsepsi Veda bahwa : Alam semesta ini sesungguhnya perwujudan 
dari Brahman (Tuhan) : sarwa-idam kalu Brahman, maka seluruh alam semesta ini 
adalah suci menjadi dasar kuat bagi umat penganut Veda (tidak mesti orang 
Hindu, tapi siapapun yang percaya Veda) untuk senantiasa mengupayakan 
kelestarian alam… 



      ***** Saya adalah pembaca Veda bukan penafsir... jadi mencoba untuk 
melihat segala sesuatunya dengan pengetahuan dan nalar..... 



      Orang-orang suci di Bali, para leluhur dari sebelum masa Mpu Kuturan 
telah menggariskan konsep keseimbangan yang sempurna antara : 
Manusia-Tuhan-Alam… 

      Tri Hita Karana : Urip-pawongan-palemahan….



      *****Cantik ya  konsep di "Bali"... kita sekarang menghadapi realita yang 
berbeda yang belum ada solusi nyatanya.... 



      Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak boleh 
setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja Buleleng: I 
Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen (sebelumnya beragama 
Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di alam sana tidak jelas 
(terkatung-katung), teman saya, masih keturunan Panji Tisna, menuturkan bahwa 
sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu keluarga (kesurupan) meminta agar 
dibuatkan upacara pengabenan.. Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen 
menolak, karena mereka tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam 
sana, ia tidak mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di 
tempat Hindu juga ditolak…akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu 
melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa mendapatkan 
tempat yang layak di alam sana…. 



      *****Jadi Roh Panji Tisna sudah PASTI ya SEKARANG mendapatkan tempat 
layak di alam sana.....apakah melalui proses cenayang makluk luar-bumi bentara 
zaman baru (new age extraterestrial communicators), saya perlu nomor HP nya 
kalau ada (becanda ya Pak);  wah kalau hal yang begini saya kurang paham; 
apalagi kalau baca dan nonton di Discovery sejarah para Firaun dari 3500 tahun 
lalu yang sampai sekarang pun masih utuh dan sejarahnya jelas; nama, umur dan 
mereka tidak melalui proses ngaben. 



      Sehingga menurut saya, kita masing-masing dengan agama berbeda sebaiknya 
serius di agama masing-masing, dan menjaga toleransi diantara sesama umat 
beragama… karena Veda ternyata juga membuat arahan/guidance yang serupa : salah 
satu sloka Bhagavadgita Tuhan bersabda sbb 

       "Jalan apapun yang engkau tempuh padaKU, berbakti sepenuhnya di jalan 
itu, maka engkau akan mencapai Aku" 



      ***** Wah sama dengan yang tertulis di Al Q'uran dan Kitab Injil; persis 
sekali lo.... apa yang nulis sama kali ya..... penerbitnya yang berbeda..... 



      Kehidupan saya di perantauan sejauh ini cukup nyaman, mungkin karena jauh 
dari tempat-tempat yang potensial konflik tinggi seperti Sampit, Kalteng… 

      Namun sekarang ini yang cukup memprihatinkan adalah orang-orang Dayak 
masuk (merusak) Taman Nasional Kutai, dengan dalih politis bahwa mereka sampai 
sekarang terpinggirkan oleh kaum pendatang yang kebanyakan suku Bugis, Jawa 
dlll..dengan tindakan ini mereka berharap bisa diperhatikan dan bisa 
mendapatkan hak-hak politik mereka di pemerintahan dan dewan perwakilan yang 
saat ini malah sebagian besar dikuasai oleh pendatang… 



      Pura di Balikpapan sekarang ini juga masalah, karena di sebelahnya persis 
dibangun Gereja, umat Hindu protes sudah diajukan ke wali-kota, namun mereka, 
orang-orang Kristen justru menantang balik, mereka bilang, kalau kita tetap 
ribut maka mereka bisa saja bikin seperti di Sampit dengan mengerahkan 
orang-orang Dayak… 

      Menurut undang-undang aturannya sudah jelas, rumah ibadah yang berbeda 
tidak boleh didirikan pada jarak kurang dari 200 meter satu sama lain..nah 
Gereja ini jaraknya Cuma 1 meter dari Pura, langsung berbatasan dengan tembok 
pura… 



      **** Di BALI di NUSA DUA, mererot lo antara mesjid, vihara, gereja dan 
pura..... dan OK OK saja semua; jadi saya rasa yang 'bler' itu orang-orangnya 
ya... nggak ada hubungannya dengan agama, yang protes sekelompok orang yang 
belum paham, agamanya sih ok saja...... 



      Pendapat saya ya P Ngurah cocok hidup di jaman sebelum Axial Age dimana 
penggolongan menjadi cara kehidupan manusia ketika itu... sedangkan kita yang 
hidup sekarang mencoba untuk menyederhanakan dan meminimalisasi adanya 
penggolongan yang mencolok antar manusia hidup. 



      Saya kutip: "Mengapa begitu besar perubahan terjadi selama jaman Aksial 
yang seribu tahun itu?  Dalam kurun masa tersebut penduduk bertambah dengan 
cepat dan senyampang dengan bertambahnya jumlah anggota serta kerumitan 
masyarakat, agama-agama besar terpaksa menghadapi masalah-masalah baru yang 
timbul.  Pada mulanya, agama Hindu dan Yahudi menghadapi ketegangan-ketegangan 
sosial dalam lingkungan masyarakat sendiri dengan menempatkan orang dalam 
berbagai penggolongan.  Penggolongan seperti PENAKLUK DAN TAKLUKAN, KAYA DAN 
MISKIN, menyebabkan agama Hindu menerapkan sistem kasta.  Dalam Agama Yahudi 
golongan parisi membedakan orang yang baik dari yang jahat.  Timbulnya agama 
Budha, Kristen dan Islam adalah akibat gelombang reaksi penggolongan tersebut" 
Donal B. Calne. 



      Kita belajar dari sejarah ya P Ngurah supaya kita bisa membangun 
masyarakat kedepan yang lebih berani because IT TAKES COURAGE TO BE A HUMAN 
BEING....  and the Key is UNDERSTANDING....  







      Suksme

      GNA 





      -----Original Message-----
      From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana 
Viebeke Lengkong
      Sent: Tuesday, October 02, 2007 10:05 AM 
      To: [email protected] 
      Subject: [bali] Re: Mahabaratha



      P Ngurah Ambara,



      Kalau sebatas ignorance yang di jabarkan oleh P Ngurah ini, ya bagi saya 
agak sedikit terlalu sempit....   tapi kita tetap tidak bisa berhenti 
ber-dialog jadi jangan pernah memberi perintah kepada orang lain untuk 
menghentikan dialog hanya karena pendapat bahwa orang lain kurang memiliki 
potensi untuk berbicara soal Mahabharata, karena sudah ada ribuan tahun yang 
lalu.  Kita semua memiliki keterbatasan dalam segala hal. 



      Saya kecut sekali ketika membaca email Bapak terdahulu tentang 
Mahabharata; saya jadi tidak ingin beragama, bayangkan saya ini hidup di 
keluarga yang menganut multi agama, jadi pengertian serta toleransi di tuntut 
mutlak oleh semua anggota keluarga dalam kesepakatan bahwa kita boleh berbicara 
bebas dengan menggunakan nalar bebas juga ketika kita melakukan kritik dan 
lainnya.  Karena tentunya ada hal lain juga yang harus diperhatikan, moral dan 
etika dan banyak hal lagi. 



      Ketika keluarga berkumpul kita membicarakan agama secara bebas; saya 
ingat (masih umur 7 tahun) salah satu anggota keluarga sepuh bicara soal Jaman 
Axial sekitar 500 sebelum masehi sampai 600 Masehi yang disebut jaman renaisans 
agamawi.  Di jaman itu lahir kesemestaan dan hidup sesudah mati terbuka bagi 
siapa saja yang melaksanakan kehidupan yang baik (karma); gagasan hak-hak yang 
setara untuk bisa memasuki kehidupan surgawi itu secara cepat sekali merambah 
ke berbagai budaya seantero jagad.  Tapi sayangnya setiap agama punya pandangan 
yang beda tentang yang di anggap sebagai kehidupan yang baik.  Banyak masalah 
masalah agama ketika itu yang sangat rumit dan membingungkan yang melatar 
belakangi terbangunnya Axial age itu dengan dogma-dogma agama yang lebih 
sederhana dan juga terjadi reformasi sosial. 



      Apakah kemudian ajaran Budha, Kristen, Islam tentang toleransi itu 
sifatnya agamis atau politis?  tentunya untuk menerima gagasan bahwa orang yang 
sakit, miskin, atau kaum minoritas, marjinal perlu mendapat perhatian itu 
menjadi tugas yang bersifat agamis dan politis.  Agama-agama baru itu terbuka 
untuk semua orang karena para pemeluknya diberikan kebebasan untuk dapat ikut 
serta dalam kegiatan agamawi dan juga mendapatkan pengakuan terhadap kehidupan 
sosial mereka. 



      Jadi, P Ngurah, ayolah berbagi dalam dialog terbuka dengan menggunakan 
nalar yang bebas tanpa ada rasa benci, marah dan mari kita buang syak wasangka. 



      Kalau boleh saya bertanya; P Ngurah kan hidup di perantauan antara 
Jakarta dan Kalimantan (maaf kalau salah); bagaimana hubungan P Ngurah dengan 
orang lain dari budaya dan agama yang lain pula yang ada di sekitar?  Nyamankan 
P Ngurah?  atau terganggu?  Bisa share nggak? 



      Maaf kalau tidak berkenan.



      Vieb

        ----- Original Message ----- 

        From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 

        To: [email protected] 

        Sent: Monday, October 01, 2007 1:46 PM

        Subject: [bali] Mahabaratha



        Ok Suksme Mbak Vieb atas info-nya..kejahatan yang dibuat oleh manusia 
karena ignorance (ketidaktahuan) bahwa sang roh (atma) berasal dari sang 
Maha-Roh (Maha-Purusa) yang sama …dan bahwa sang roh tidak bisa membunuh dan 
tidak bisa dibunuh, abadi, selalu sama (selalu muda), bukan laki-laki bukan 
perempuan (ardanareswaria), tidak terfikirkan (acintya), tidak dilahirkan 
(awyakta) dsb…sudahlah jadi terlalu berat diskusi-nya he-he-he…..:)) 



        Ok nanti kalau sempat saya akan baca Info Bali-post ini…



        Semoga damai selalu..suksme 










  -- 
  Gde Wisnaya Wisna 
  Jl.Dewi Sartika Utara 32A
  Singaraja-Bali 

Kirim email ke