Dear Popo,
   
  Yes, you describe the importance to appreciate Art first in Bali way...... 
Furthermore, you could explore the future role of Science, [+ Engineering] and 
Technology by your own ways.. Therefore, the world will recover the lost of 
moral science
   
  Regards, Tjahjo 

Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Teman-teman,

Sekedar pemberitahuan, awal November depan saya diminta Tokyo University 
menjadi salah satu pembicara dalam International Symposium yang topiknya rada 
unusual : Dialogue with Asia, on Hope and Happiness. Ini antara lain berkaitan 
dengan cara-cara Asia untuk menghitung-hitung index kebahagiaan, tanpa 
bermaksud nyaruang keterbelakangan. Yang diundang bicara nanti orang-orang yang 
dianggap ikut contribute bikin orang lain jadi bahagia (kata panitia), seperti 
misalnya musisi, penulis, kartunis, beberapa seniman, hingga orang konyol macam 
saya.

Yang mau saya ceritakan nanti adalah cara-cara Bali untuk bikin hidup kita 
balance, yang macam Tri Hita Karana itu, dan beberapa hal lain yang bisa saya 
olah, bumbui dan sajikan. Siapa tahu pola hidup penyakap macam saya bisa 
menjadi trend lifestyle baru di Asia. Memang mestinya dari 24 jam kita sehari, 
secara sederhana bisa dibagi 3 : 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk kerja, 8 jam 
untuk yang lain, termasuk mengisi kesenangan. Namun karena iklim kompetisi, 
kita cenderung untuk kerja 20 jam, tidur 2,5 jam dan lain-lain 1,5 jam. 
Mengerikan sekali

Berikut saya lampirkan abstraksi yang barusan saya submit ke panitia. Saya akan 
berusaha sebanyak mungkin mengetengahkan Balinese way of life yang bisa 
disumbangkan untuk sebuah warna Asia yang baru, dengan tetap waspada supaya 
misalnya Wayang CenkBlonk tidak malah dipatenkan oleh Malaysia, ha ha ha . 
Kalau ada yang mau sumbang saran, sangat saya hargai.

Salam, 
pd







       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke