Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang peduli dengan masyarakatnya.
Kalau ada daerah terisolasi sekian puluh tahun tanpa pernah dibukakan jalan
untuk membuka keterisolasiannya tersebut, kira-kira yang salah siapa ya :
pemerintah atau masyarakatnya ? Akibat terisolasi, tentu masyrakat disana
kurang dalam segala hal, apakah masyarakat tersebut layak untuk disalahkan ?

Kemudian ada masyarakat, yang karena terlalu lama menunggu langkah2 konkrit
pemerintah yang tidak pernah muncul, akhirnya mencoba bergerak sendiri atau
berswadaya, seperti yang dilakukan oleh masyarakatnya P. Made Wirata,
mencoba membuka jalan sendiri. Setelah membuka jalan sendiri, masyarakat
barangkali bermaksud memancing pemerintah agar mau mengulurkan langkah
meneruskan swadaya masyarakat tsb, sebab bukankah kemampuan masyarakat
terbatas. Setelah jalan itu dibuka oleh masyarakat, semestinya itu bisa
menjadi isyarat bahwa jalan tsb sangat dibutuhkan masyarakat. Tetapi
kenyataannya kan tidak demikian...

Sementara kita sering menyaksikan banyak sekali jalan-jalan protokol
propinsi, seperti jl. Gilimanuk-Denpasar, Jl. Denpasar-Bedugul dll ditumpuk
berkali-kali dengan aspal, terus diperbaharui dengan hotmix baru, padahal
jalan-jalan tersebut masih cukup layak.

Pemerinah yang kita maskud disini adalah pemerintah dari berbagai tingkatan.
Mulai dari pemerintahan desa, pemkab, pemprov dan pemerintah pusat.

Kita mengetahui ada Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang
dimulai dari desa Musrenbangdes, kecamatan sampai kabupaten, propinsi dan
pusat. Namun , kadangkala usulan dari desa itu  sudah gugur di tingkat
kecamatan atau kabupaten. Barangkali inilah  yang menyebabkan  banyak
kondisi real di pedesaan  kurang  memperoleh respon dari  pemerintah  di
level yang  lebih  tinggi karena  pejabat  yang  memutuskan  ditingkat
lebih  tinggi  hanya duduk diatas meja ketika mengevaluasi hasil
musrenbangdes tsb.

Ya saya merasa masih banyak kelemahan di tingkat perencanaan pemerintah.

salam
gde wisnaya

2008/10/20 GBSuparta <[EMAIL PROTECTED]>

> Dear All,
>
> Yang dimaui Pemerintah itu memang usaha-usaha masyarakat yang tidak
> tergantung pada Pemerintah. Kalau Pemerintahnya masih banyak ngurusin
> soal-soal begitu, habis sudah "waktunya" Pemerintah memikirkan negeri ini.
>
> Sebenarnya, Pemerintah Daerah itu yang harus "care" pada upaya-upaya
> mandiri masyarakat itu, misalnya dengan memberikan "insentif berbentuk
> reward atas kinerja masyarakat". Jadi, Pemerintah Daerah mestinya berupaya
> mengembangkan program "reward" kepada masyarakat setelah masyarakat
> melakukan sesuatu. Mirip-mirip ki Panji Sakti ketika mengembangkan permainan
> "goak-goakan" sebagai sebuah langkah motivasi prajurit sebelum menundukkan
> Blambangan.
>
> Dalam permainan "goak-goakan" itu, para prajurit berhasil  menangkap si
> goak, dan sebagai imbalannya, dia boleh minta "apa saja" sesuai dengan
> "tingkatannya".
>
> Pemerintah boleh ganti, tetapi jiwa-jiwa masyarakat harus tetap merdeka.
> Jangan sampai politisasi sebagai proses ikutan dalam penentuan pemerintahan,
> justru menyebabkan "kemerdekaan" masyarakat tercerabut.
>
>
> --- On *Sun, 10/19/08, Made Wirata <[EMAIL PROTECTED]>*wrote:
>
> From: Made Wirata <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [bali] Re: Emailing: DSC03057 (2), DSC03072 (2), DSC03083,
> DSC03115
> To: [email protected]
> Date: Sunday, October 19, 2008, 11:33 PM
>
>
> Pak De,
> rasanya pemerintah enggak akan pernah merasa malu masalah beginian, contoh
> riilnya
> didesa saya th 60-an (saya masih SD) pernah ikut swadaya membantu Bapak 
> membuka
> jalan
> tembus dari Tabog / setelah Banyuatis-Munduk, 3 tahap yaitu skitar 2km, 3km,
> 2km (total
> 7km), saya ikutan sebagian yang tahap 3 itu, sampai masang batu pertama juga
> swadaya.
> waktu itu mirip kondisinya seperti foto-fotonya yg dikirim Mbak Vieb, cuman
> tidak ada
> daerahnya yang curam.
>
> Kemudian pemerintah bukannya
>  membantu yang berikutnya, terjadi lagi awal
> 2000-an skitar
> 2003-2004 Bapak saya bersama penduduk desa disana masih nerusin buka jalan 
> baru
>
> (lanjutin yang dulu kearah bukit dibawah danau tamblingan) supaya akomodasi
> komodity
> perkebunan didesa jadi lebih lancar, tapi sampai saat ini belum ada pemerintah
> yang
> turun tangan, kalau lewat ya lewat saja/ tinggal make. Ada yang masih tanah,
> ada yang
> sebagian disemen sama warga skitar.
>
> Mungkin didesa lain juga ada yang serupa seperti yang pernah saya lewati (3 th
> lalu
> pernah jalan kaki kedaerah-daerah), misal didaerah umejero / atasnya 
> Busungbiu.
>
> Salam
> Made W
>
>
> --
> Open WebMail Project (http://openwebmail.org)
>
>
> ---------- Original Message -----------
> From: "Pan Bima" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Sun, 19 Oct 2008 22:40:18 -0700
> Subject: [bali] Re: Emailing: DSC03057 (2), DSC03072 (2), DSC03083,
>  DSC03115
>
> > Mbak Vieb,
> >
> > Sepintas saya lihat medannya mirip dengan yang di Butiyang, Desa Les
> > Buleleng ya. Tapi jalan ini 5 km akan menjadi share swadaya masyarakat,
> > berarti 6 kali lebih panjang dari jalan setapak di Butiyang tsb.
> Pemerintah
> > mestinya "malu" ya.
> >
> > Dengan nanti selesainya jalan tsb semoga masyarakat disana dapat lebih
> > banyak berinteraksi dengan masyarakat lainnya.
> >
> > salam
> > gde wisnaya
> >
> > 2008/10/18 Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]>
> >
> > >  Teman teman,
> > >
> > > hari ini saya beserta teman dari Belanda dan tim pratista memonitor
> program
> > > pemberdayaan yang kita mulai di Br. Bunut dan Br. Madia Desa Trunyan
> sejak 1
> > > November 2007 yang lalu.
> > >
> > > Menyatukan 2 Banjar untuk bisa bekerja sama mewujudkan impian mereka
> agar
> > >
>  dapat menghubungkan diri dengan dunia melalui akses jalan bukanlah
> sesuatu
> > > yang mudah tapi tidak pula terlalu sulit asalkan kita mau berupaya
> dengan
> > > tulus.
> > >
> > > Jalan sepanjang 5 - 7 kilo, sepanjang 2 kilo dianggarkan oleh
> pemerintah
> > > dan selebihnya swadaya masyarakat melalui share dari IAA sedang di
> > > laksanakan, pelan tapi pasti.....
> > >
> > > terima kasih sudah diberi kesempatan untuk berbagi.
> > >
> > > Viebeke
> > > The message is ready to be sent with the following file or link
> > > attachments:
> > > DSC03057 (2)
> > > DSC03072 (2)
> > > DSC03083
> > > DSC03115
> > >
> > > Note: To protect against computer viruses, e-mail programs may
> prevent
> > > sending or receiving certain types of file attachments.  Check your
> e-mail
> > > security settings to determine how
>  attachments are handled.
> > >
> >
> > --
> > Gde Wisnaya Wisna
> > Jl.Dewi Sartika Utara 32A
> > Singaraja-Bali
> > website : www.lp3b.com
> ------- End of Original Message -------
>
>
> --
> Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
>
> Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
> Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
> Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>



-- 
Gde Wisnaya Wisna
Jl.Dewi Sartika Utara 32A
Singaraja-Bali
website : www.lp3b.com

Kirim email ke