Iya saya setuju dengan pendapat Pak Taufan,...
mohon untuk selalu menyebutkan nama dokter-dokter yang baik dan yang 'tidak
baik'...

terimakasih,
Anna Haris
http://www.inongharis.com

>-----Original Message-----
>From: Taufan Surana [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Monday, April 23, 2001 3:17 PM
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: RE: [balita-anda] Sikap dokter beken
>
>
>Wah, tambah banyak nih 'korban' dokter pebisnis.
>Kenapa nama dokternya dirahasiakan ?
>Ini kan milis eksklusif utk anggota saja, jadi menurut saya tdk perlu
>dirahasiakan. Kecuali kalau koran/media masa umum, memang perlu
>dirahasiakan
>sementara sampai koran itu mendapatkan info dari dokter tsb.
>
>Bgmn rekan netters yg lain ?
>
>Taufan
>NB. Sekali lagi, dokter yg tdk prof. tdk perlu dilindungi. Masak
>konsumen yg
>harus jadi korban terus.
>
>
>
>-----Original Message-----
>From: Imelda, Pasni [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Monday, April 23, 2001 4:43 PM
>To: balita anda (E-mail)
>Subject: [balita-anda] Sikap dokter beken
>
>
>Dear netters,
>Saya mau curhat tentang apa yg saya alami di hari Jum'at yang lalu
>di sebuah
>rumah sakit di kawasan Jakarta Timur.
>Jum'at siang itu saya memutuskan pulang kantor lebih cepat agar bisa
>berkonsultasi dengan seorang dokter ahli kandungan yang sangat-sangat
>terkenal di negara ini. Ini untuk pertama kalinya saya menjadi pasien dia,
>setelah sebelumnya di rumah sakit yg sama saya adalah pasien dokter
>kandungan lainnya yg praktek hari Sabtu siang. Karena Sabtu siang kemarin
>saya ada keperluan, maka saya mempercepat jadwal konsultasi saya pada hari
>Jum'at tsb.
>Saat awal konsultasi saya ceritakan niat saya yg ingin punya
>momongan kedua.
>Dokter tsb mewajibkan saya untuk papsmear dan tes darah untuk diperiksa
>toksonya, tanpa menerangkan apa kegunaannya ataupun apa resiko yg dapat
>terjadi jika saya tidak melalui tahap tsb. Sampai tahap ini saya
>masih OK-OK
>saja, karena saya sudah mengetahui 'sedikit' tentang kedua hal tsb dari
>media massa ataupun dari obrolan sesama teman atau dari milist ini. Tapi
>jauh di dalam hati saya protes, seharusnya dokter ini memberikan penjelasan
>medis dan saran, bukan keputusan, karena itu adalah hak saya sebagai pasien
>untuk mendapatkan penjelasan dan memberikan keputusan. Lalu bagaimana jika
>dokter itu memberikan tindakan medis lainnya yg tidak begitu populer
>sehingga pasiennya tidak familiar dengannya?
>
>Singkat cerita, jadilah saya di-papsmear. Dokter itu tidak memberikan
>kata-kata 'maaf/permisi' atau apa kek yg 'menentramkan' saya saat itu,
>seakan-akan saya sudah 'terbiasa' menghadapi kondisi spt itu. Bagi dia
>memang sudah sangat biasa, tapi bagi pasiennya...? Apalagi di negara Timur,
>terutama bagi yg muslim spt saya... Duh!
>
>Setelah papsmear saya kembali ke tempat duduk pasien. Ternyata dokter tsb
>sudah siap dengan urusan administrasinya dan sambil berdiri serta menunjuk
>pintu ruangan prakteknya yg telah terbuka lebar, dokter tsb meminta saya
>untuk ke ruangan praktek dokter lain yg kebetulan sedang kosong untuk
>pengambilan sample darah untuk tes toxo. Kesan saya dari sikap dokter tsb,
>dia ingin saya cepat berlalu agar dia bisa cepat memeriksa pasiennya yg
>sudah antri di luar. Akhirnya saya nekat mengajukan beberapa pertanyaan yg
>memang saya persiapkan sebelum pergi ke RS tsb, sambil juga berdiri. Tampak
>sekali wajahnya tidak suka saya bertanya hal-hal yg berkaitan dengan
>kehamilan... Ampun deh...
>
>Sesampainya di ruang praktek tempat pengambilan sample darah, saya
>heran kok
>suster yg mengambil darah saya tidak menggunakan seragam RS. Setelah saya
>tanya, ternyata suster tsb adalah suster Klinik Pasutri di daerah Tebet yg
>dibawa khusus oleh dokter tsb ke RS itu, jadi bukan pegawai RS itu. Tambah
>heran lagi saya.... Padahal di RS itu ada fasilitas laboratorium yg juga
>dapat digunakan untuk memeriksa toxo dalam darah. Setelah mengambil darah
>saya, suster tsb mengatakan bahwa biayanya 650 ribu, dan harus dibayar dg
>uang cash saat itu juga. Lhooooo.....!! Saya bilang saya mau bayar pake
>credit card, karena saya tidak bawa uang sebanyak itu, dan
>seharusnya suster
>tsb bilang sejak awal sehingga saya tidak merasa dijebak spt ini. Si suster
>malah menyuruh saya untuk pergi ke ATM untuk mengambil uang. Saya menolak
>karena saya tidak bawa kartu ATM. Si suster pantang menyerah, saya diminta
>untuk memberikan uang muka dan sisanya dilunasi esok hari. Saya menolak
>juga, karena saya ada acara dan tidak dapat datang ke RS hari
>Sabtu keesokan
>harinya dan yg jelas saya tidak mau bayar dengan uang cash karena rasanya
>tidak aman bawa-bawa uang cash di jaman edan kayak sekarang.
>Saya tanya ke suster, bagaimana kalau tidak jadi saja dan saya tes darah di
>RS atau tempat lain saja. Kata si suster, bisa aja... tapi biasanya dokter
>itu (sambil menyebutkan nama dokter tsb) maunya hasil tes dari Klinik
>Pasutri-nya. Astagaaaaa.......... Makin sebel saya. Akhirnya saya putuskan
>tidak jadi di tes saja, walaupun darah saya sudah diambil. Yang bikin saya
>makin-makin kesel, surat pengantar dari dokter untuk tes darah dirobek oleh
>suster tsb di depan saya. Alamaakkk!!
>
>Sungguh saya jadi kecewa dg kesewenang-wenangan dokter yg sangat terkenal
>tsb, beserta dg 'kroni'-nya.
>
>
>
>
>>> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com
>>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
>Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
>Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
>>> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com
>>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
>Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
>Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>


>> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com  
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke