Dear Mbak Imelda,
sekedar informasi saja, jika Mbak punya rencana menambah momongan lagi,
barangkali bisa mencoba dengan Dr. Daurie, beliau ahlinya untuk hal2 yang
berhubungan dengan infertilitas atau program untuk menambah momongan lagi
Beliau sangat informatif dan jika kita sebagai orang awam tentu banyak hal2
yang kurang/tidak kita ketahui ttg. medis maka dia tidak akan segan2
memberikan penjelasan walaupun diluar ruangannya pasien banyak yang antri.
Di klinik Dr. Daurie ini juga dalam sehari mereka tidak mau menerima pasien
banyak2 (max. 20 an) karena menurut Dr. Daurie sendiri jika menerima pasien
terlalu banyak tentunya waktu pemeriksaan bagi setiap pasien tidak maximal.
Saya termasuk salah satu pasiennya yang ikut program IPA (Ingin Punya
Anak).Untuk pasien baru, mereka hanya menerima pada hari kerja Senin-Jum'at
jam 09:00 - 13:00, tetapi untuk selanjutnya bisa hari Sabtu dengan jam yang
sama. Appointmentnya bisa by phone
Alamatnya : Dr. Daurie Mochran
Klinik Infertilitas Menox
Jl. Wolter Mongisidi - Jakarta Selatan
Telp. 7228059/7221773
Terima kasih.
Ayoe Tria.
> ----------
> From: Maria Nasrun[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, April 24, 2001 7:24 AM
> To: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: RE: [balita-anda] Sikap dokter beken
>
> Mbak Imelda,
>
> Sebutkan saja nama dokter dan rumah sakitnya untuk catatan rekan-rekan
> milis
> lainnya jika akan berkonsultasi atau berobat ke dokter tersebut.
>
> -----Original Message-----
> From: Imelda, Pasni [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, April 23, 2001 2:43 PM
> To: balita anda (E-mail)
> Subject: [balita-anda] Sikap dokter beken
>
>
> Dear netters,
> Saya mau curhat tentang apa yg saya alami di hari Jum'at yang lalu di
> sebuah
> rumah sakit di kawasan Jakarta Timur.
> Jum'at siang itu saya memutuskan pulang kantor lebih cepat agar bisa
> berkonsultasi dengan seorang dokter ahli kandungan yang sangat-sangat
> terkenal di negara ini. Ini untuk pertama kalinya saya menjadi pasien dia,
> setelah sebelumnya di rumah sakit yg sama saya adalah pasien dokter
> kandungan lainnya yg praktek hari Sabtu siang. Karena Sabtu siang kemarin
> saya ada keperluan, maka saya mempercepat jadwal konsultasi saya pada hari
> Jum'at tsb.
> Saat awal konsultasi saya ceritakan niat saya yg ingin punya momongan
> kedua.
> Dokter tsb mewajibkan saya untuk papsmear dan tes darah untuk diperiksa
> toksonya, tanpa menerangkan apa kegunaannya ataupun apa resiko yg dapat
> terjadi jika saya tidak melalui tahap tsb. Sampai tahap ini saya masih
> OK-OK
> saja, karena saya sudah mengetahui 'sedikit' tentang kedua hal tsb dari
> media massa ataupun dari obrolan sesama teman atau dari milist ini. Tapi
> jauh di dalam hati saya protes, seharusnya dokter ini memberikan
> penjelasan
> medis dan saran, bukan keputusan, karena itu adalah hak saya sebagai
> pasien
> untuk mendapatkan penjelasan dan memberikan keputusan. Lalu bagaimana jika
> dokter itu memberikan tindakan medis lainnya yg tidak begitu populer
> sehingga pasiennya tidak familiar dengannya?
>
> Singkat cerita, jadilah saya di-papsmear. Dokter itu tidak memberikan
> kata-kata 'maaf/permisi' atau apa kek yg 'menentramkan' saya saat itu,
> seakan-akan saya sudah 'terbiasa' menghadapi kondisi spt itu. Bagi dia
> memang sudah sangat biasa, tapi bagi pasiennya...? Apalagi di negara
> Timur,
> terutama bagi yg muslim spt saya... Duh!
>
> Setelah papsmear saya kembali ke tempat duduk pasien. Ternyata dokter tsb
> sudah siap dengan urusan administrasinya dan sambil berdiri serta menunjuk
> pintu ruangan prakteknya yg telah terbuka lebar, dokter tsb meminta saya
> untuk ke ruangan praktek dokter lain yg kebetulan sedang kosong untuk
> pengambilan sample darah untuk tes toxo. Kesan saya dari sikap dokter tsb,
> dia ingin saya cepat berlalu agar dia bisa cepat memeriksa pasiennya yg
> sudah antri di luar. Akhirnya saya nekat mengajukan beberapa pertanyaan yg
> memang saya persiapkan sebelum pergi ke RS tsb, sambil juga berdiri.
> Tampak
> sekali wajahnya tidak suka saya bertanya hal-hal yg berkaitan dengan
> kehamilan... Ampun deh...
>
> Sesampainya di ruang praktek tempat pengambilan sample darah, saya heran
> kok
> suster yg mengambil darah saya tidak menggunakan seragam RS. Setelah saya
> tanya, ternyata suster tsb adalah suster Klinik Pasutri di daerah Tebet yg
> dibawa khusus oleh dokter tsb ke RS itu, jadi bukan pegawai RS itu. Tambah
> heran lagi saya.... Padahal di RS itu ada fasilitas laboratorium yg juga
> dapat digunakan untuk memeriksa toxo dalam darah. Setelah mengambil darah
> saya, suster tsb mengatakan bahwa biayanya 650 ribu, dan harus dibayar dg
> uang cash saat itu juga. Lhooooo.....!! Saya bilang saya mau bayar pake
> credit card, karena saya tidak bawa uang sebanyak itu, dan seharusnya
> suster
> tsb bilang sejak awal sehingga saya tidak merasa dijebak spt ini. Si
> suster
> malah menyuruh saya untuk pergi ke ATM untuk mengambil uang. Saya menolak
> karena saya tidak bawa kartu ATM. Si suster pantang menyerah, saya diminta
> untuk memberikan uang muka dan sisanya dilunasi esok hari. Saya menolak
> juga, karena saya ada acara dan tidak dapat datang ke RS hari Sabtu
> keesokan
> harinya dan yg jelas saya tidak mau bayar dengan uang cash karena rasanya
> tidak aman bawa-bawa uang cash di jaman edan kayak sekarang.
> Saya tanya ke suster, bagaimana kalau tidak jadi saja dan saya tes darah
> di
> RS atau tempat lain saja. Kata si suster, bisa aja... tapi biasanya dokter
> itu (sambil menyebutkan nama dokter tsb) maunya hasil tes dari Klinik
> Pasutri-nya. Astagaaaaa.......... Makin sebel saya. Akhirnya saya putuskan
> tidak jadi di tes saja, walaupun darah saya sudah diambil. Yang bikin saya
> makin-makin kesel, surat pengantar dari dokter untuk tes darah dirobek
> oleh
> suster tsb di depan saya. Alamaakkk!!
>
> Sungguh saya jadi kecewa dg kesewenang-wenangan dokter yg sangat terkenal
> tsb, beserta dg 'kroni'-nya.
>
>
>
>
> >> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com
> >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
>
>
> >> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com
> >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
RE: [balita-anda] Sikap dokter beken
Ayoe Tria S.C. (Amoseas Indonesia) Mon, 23 Apr 2001 17:42:49 -0700
- [balita-anda] Sikap dokter beken Imelda, Pasni
- RE: [balita-anda] Sikap dokter bek... Taufan Surana
- RE: [balita-anda] Sikap dokter... Anna Haris
- Re: [balita-anda] Sikap dokter bek... Vera S L
- Re: [balita-anda] Sikap dokter... Suryaningrum
- RE: [balita-anda] Sikap dokter bek... Diah Handayani
- RE: [balita-anda] Sikap dokter bek... Maria Nasrun
- Re: [balita-anda] Sikap dokter bek... Ayoe Tria S.C. (Amoseas Indonesia)
- Re: [balita-anda] Sikap dokter bek... lysta
- Re: [balita-anda] Sikap dokter... Quinike N. Sukirwan
- RE: [balita-anda] Sikap dokter... Anna Haris
- Re: [balita-anda] Sikap do... Ningsih
- RE: [balita-anda] Sikap dokter bek... Imelda, Pasni
- RE: [balita-anda] Sikap dokter... Sugiarti
- Re: [balita-anda] Sikap dokter... Wening
- RE: [balita-anda] Sikap dokter bek... Dwi Setyarini
- RE: [balita-anda] Sikap dokter... Taufan Surana
- Re: [balita-anda] Sikap do... Agustina Harliyanti
