mbak Imel, kalo boleh tahu siapa nama dokternya, yah maksudnya jgn sampai
ada lagi yg terjebak atau salah pilih, hanya dikarenakna si dokter org
beken..
terima kasih mbak

----- Original Message -----
From: Imelda, Pasni <[EMAIL PROTECTED]>
To: balita anda (E-mail) <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, April 23, 2001 2:42 PM
Subject: [balita-anda] Sikap dokter beken


> Dear netters,
> Saya mau curhat tentang apa yg saya alami di hari Jum'at yang lalu di
sebuah
> rumah sakit di kawasan Jakarta Timur.
> Jum'at siang itu saya memutuskan pulang kantor lebih cepat agar bisa
> berkonsultasi dengan seorang dokter ahli kandungan yang sangat-sangat
> terkenal di negara ini. Ini untuk pertama kalinya saya menjadi pasien dia,
> setelah sebelumnya di rumah sakit yg sama saya adalah pasien dokter
> kandungan lainnya yg praktek hari Sabtu siang. Karena Sabtu siang kemarin
> saya ada keperluan, maka saya mempercepat jadwal konsultasi saya pada hari
> Jum'at tsb.
> Saat awal konsultasi saya ceritakan niat saya yg ingin punya momongan
kedua.
> Dokter tsb mewajibkan saya untuk papsmear dan tes darah untuk diperiksa
> toksonya, tanpa menerangkan apa kegunaannya ataupun apa resiko yg dapat
> terjadi jika saya tidak melalui tahap tsb. Sampai tahap ini saya masih
OK-OK
> saja, karena saya sudah mengetahui 'sedikit' tentang kedua hal tsb dari
> media massa ataupun dari obrolan sesama teman atau dari milist ini. Tapi
> jauh di dalam hati saya protes, seharusnya dokter ini memberikan
penjelasan
> medis dan saran, bukan keputusan, karena itu adalah hak saya sebagai
pasien
> untuk mendapatkan penjelasan dan memberikan keputusan. Lalu bagaimana jika
> dokter itu memberikan tindakan medis lainnya yg tidak begitu populer
> sehingga pasiennya tidak familiar dengannya?
>
> Singkat cerita, jadilah saya di-papsmear. Dokter itu tidak memberikan
> kata-kata 'maaf/permisi' atau apa kek yg 'menentramkan' saya saat itu,
> seakan-akan saya sudah 'terbiasa' menghadapi kondisi spt itu. Bagi dia
> memang sudah sangat biasa, tapi bagi pasiennya...? Apalagi di negara
Timur,
> terutama bagi yg muslim spt saya... Duh!
>
> Setelah papsmear saya kembali ke tempat duduk pasien. Ternyata dokter tsb
> sudah siap dengan urusan administrasinya dan sambil berdiri serta menunjuk
> pintu ruangan prakteknya yg telah terbuka lebar, dokter tsb meminta saya
> untuk ke ruangan praktek dokter lain yg kebetulan sedang kosong untuk
> pengambilan sample darah untuk tes toxo. Kesan saya dari sikap dokter tsb,
> dia ingin saya cepat berlalu agar dia bisa cepat memeriksa pasiennya yg
> sudah antri di luar. Akhirnya saya nekat mengajukan beberapa pertanyaan yg
> memang saya persiapkan sebelum pergi ke RS tsb, sambil juga berdiri.
Tampak
> sekali wajahnya tidak suka saya bertanya hal-hal yg berkaitan dengan
> kehamilan... Ampun deh...
>
> Sesampainya di ruang praktek tempat pengambilan sample darah, saya heran
kok
> suster yg mengambil darah saya tidak menggunakan seragam RS. Setelah saya
> tanya, ternyata suster tsb adalah suster Klinik Pasutri di daerah Tebet yg
> dibawa khusus oleh dokter tsb ke RS itu, jadi bukan pegawai RS itu. Tambah
> heran lagi saya.... Padahal di RS itu ada fasilitas laboratorium yg juga
> dapat digunakan untuk memeriksa toxo dalam darah. Setelah mengambil darah
> saya, suster tsb mengatakan bahwa biayanya 650 ribu, dan harus dibayar dg
> uang cash saat itu juga. Lhooooo.....!! Saya bilang saya mau bayar pake
> credit card, karena saya tidak bawa uang sebanyak itu, dan seharusnya
suster
> tsb bilang sejak awal sehingga saya tidak merasa dijebak spt ini. Si
suster
> malah menyuruh saya untuk pergi ke ATM untuk mengambil uang. Saya menolak
> karena saya tidak bawa kartu ATM. Si suster pantang menyerah, saya diminta
> untuk memberikan uang muka dan sisanya dilunasi esok hari. Saya menolak
> juga, karena saya ada acara dan tidak dapat datang ke RS hari Sabtu
keesokan
> harinya dan yg jelas saya tidak mau bayar dengan uang cash karena rasanya
> tidak aman bawa-bawa uang cash di jaman edan kayak sekarang.
> Saya tanya ke suster, bagaimana kalau tidak jadi saja dan saya tes darah
di
> RS atau tempat lain saja. Kata si suster, bisa aja... tapi biasanya dokter
> itu (sambil menyebutkan nama dokter tsb) maunya hasil tes dari Klinik
> Pasutri-nya. Astagaaaaa.......... Makin sebel saya. Akhirnya saya putuskan
> tidak jadi di tes saja, walaupun darah saya sudah diambil. Yang bikin saya
> makin-makin kesel, surat pengantar dari dokter untuk tes darah dirobek
oleh
> suster tsb di depan saya. Alamaakkk!!
>
> Sungguh saya jadi kecewa dg kesewenang-wenangan dokter yg sangat terkenal
> tsb, beserta dg 'kroni'-nya.
>
>
>
>
> >> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com
> >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
>
>



>> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com  
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke