Yup, ini dia, kadang Penulis di sisi yang lemah dari segi hukum. Mendingan memang sebelum tandatangan kontrak baca baik-baik apa yang ada di kontrak. Gw kapan hari ada nyusun sih buat temen gw, apa aja yang harus diperhatikan dan mana yang harus diwaspadai. Masalahnya, sekarang gw lagi dalam mode 'jalan-jalan', jadi ga bisa akses komputerku.
Coba kamu baca lagi deh tuh kontrak, kalau memang sudah ga bisa diapa-apain, coba kamu susun sendiri format surat pemutusan kontrak, supaya jelas hitam di atas putih bahwa tuh penerbit ga bisa lagi klaim karya kamu di masa depan. ephi Pada tanggal 17/04/07, Chris Oetoyo <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Hm... ya, mungkin ini pengalaman pait pertama yang gue alamin selama gue terjun bebas jadi penulis. Dan sebagai penulis emang gue harus bisa nerima. Gue nggak bisa bayangin, seandainya yang ngalamin begini, adalah penulis-penulis pemula. Pasti mereka langsung Down berat (Pernah terpikirkah penerbit, akan hal ini?) Buat Luna: Congrat ya... buku barunya. Kamu tersenyum aku menangis, hik hik hik....(apaan coba....) Soal gugatan hukum, emang kayaknya ribet Lun. Mungkin ini kelemahan para penulis di Indonesia ya, nggak punya perlindungan apapun, kalo di perlakukan nggak enak sama penerbit. Niken Terate: Tengkyu dan sukses juga ya. Ephi... : Soal pemutusan kontrak yang mendadak seperti ini, kayaknya nggak ada di perjanjian kontrak deh. Ato gue yang nggak teliti ya? BTW ini pengalaman aja buat cerkiter, supaya kalo nemuin kejadian begini nggak kaget lagi. Karena inilah gambaran citra buruk penerbit di Indonesia. So, kalo mau terjun jadi penulis, siap-siap mental aja buat ngadepin hal-hal yang sebelumnya nggak pernah terpikirkan kayak gini.
