Bahasa ribet supaya (diharapkan) tak ada salah interpretasi, gitu.Hehehe.

Gila banget tuh yang sampe harus beli buku sendiri. Ga salah tuh? Emang tuh
penerbit ga bisa marketing apa sampe-sampe harus maksa penulisnya beli
sendiri?

ephi

Pada tanggal 18/04/07, Chris Oetoyo <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Aku tuh paling males baca kontrak yang bahasanya (menurut gue) ribet
banget seehh. Tapi kayaknya untuk kontrak, pada umumnya penerbit menerapkan
kebijakan yang sama ya. Mungkin perbedaaanya dari besar kecilnya Royalti
untuk penulis.

Soal kebijakan kontrak, aku juga pernah ngotot sama salah satu penerbit.
Soalnya di surat kontrak itu, sangat-sangat memberatkan penulis banget.
Salah satu contohnya:

(Pasalnya nggak tau gue lupa)

Penulis diwajibkan untuk membeli buku hasil cetakan sebanyak 100 eksemplar
setiap kali cetak.

Gileee beneeerrr.....!

Trus ada juga pasal-pasal yang menurutku ngak bener. Dan aku protes keras.
Hasilnya emang nyata. Akhirnya beberapa pasal dirubah dan akupun akhirnya
tanda tangan juga.
Yah, begitulah....kira-kira.

Ryu dan Amel: Kok postingan kalian pada masuk kotak bulk sih. Moga-moga
buku kalian yang akan terbiit nggak ngalamin kayak gini ya. Jangan deh,
periiiihhhh (Lafalkan dengan perasaan) hik hik hik...

Oke salam buat semuanya. Tetap semangat jangan terpengaruh dengan kejadian
buruk ini. Tetap menulis, tetap berkarya... merdeka!!!




Kirim email ke