Bro Yamin,

Nampaknya si-penanya adalah tidak mengerti dengan benar tentang 
konsep Karma, dan si-penanya nampaknya tidak mengerti benar Kebenaran 
sebagai Kesunyataan, namun kebenaran yang menurut "Katanya".
Berikut saya kutip dari penjelasan Bhante Saddhaviro ketika ber-
Dhammadesana beberapa waktu lalu di bulan April 2005 di Cetiya Buddha 
Manggala Batam yang mana sekaligus saya tambahkan beberapa comment 
dari saya.
" ... Bahwa ada 3 macam cara pemahaman kebenaran itu sebagai 
kebenaran yaitu:
1. pemahaman berdasar "Katanya", contohnya adalah dari membaca kitab 
suci spt: Tripitaka, Alkitab, Al-Quran dsb... semuanya adalah katanya 
kitab suci. Dan setiap Kitab Suci akan meng-klaim bahwa dirinya 
adalah yang benar. Orang yang demikian, dengan memahami cuman 
berdasar Kitab Suci maka pandangannya akan sempit, dan pemahaman 
kebenarannya hanya sebatas katanya Kitab Suci.
2. pemahaman berdasar "Kenyataannya", contohnya adalah orang menjadi 
berubah agama/keyakinan setelah melihat, menyaksikan peristiwa yang 
menurutnya adalah mukjizat, seperti doa penyembuhan, saat orang 
tersebut didoakan oleh bhikkhu/pendeta/kyai dan menjadi sembuh, maka 
dia merasa bahwa doa itu manjur, maka dia berubah keyakinannya. Namun 
ketika satu saat dia sakit kembali dan minta bhikkhu/pendeta/kyai itu 
untuk mendoakan kembali, hasilnya nihil atau tidak sembuh sama 
sekali. Nah dari sini nampak bahwa kenyataan bisa berbeda untuk 
setiap orang, setiap waktu dan setiap tempat. Namun apabila kita 
mendasarkan keyakinan pada kenyataannya, maka keyakinan itu tidaklah 
berlaku di setiap tempat dan setiap waktu serta untuk setiap orang.
3. pemahaman berdasar "Kesunyataannya", nah inilah yang menjadi dasar 
utama ajaran Buddha, bahwa memahami kebenaran seperti adanya, 
contohnya: bahwa hidup ini adalah senantiasa berisikan Lahir, Tua, 
Sakit dan Mati, senantiasa berisikan 8 corak kehidupan yaitu: kaya-
miskin, bahagia-sedih, dipuji-dicela, untung-rugi. Siapapun, dan 
apapun akan selalu mengalami proses perubahan (anicca). Keselamatan 
adalah buah perbuatan sendiri, kita yang berbuat (menanam) maka kita 
yang akan menerima akibat (menuai). Nah apakah ada agama lain yang se-
eksplisit ajaran Buddha demikian ? tentunya anda bisa menjawab 
sendiri...

Berikut saya kutip pula penjelasan Bhante Uttamo yang baru saja 
diposting di www.samaggi-phala.or.id, seputar pertanyaan mengenai 
peranan Agama Buddha dalam mewujudkan keamanan ...
=======================================================
Dari: ivan, malaysia
Bagaimanakah peranan Buddha Dhamma sebagai agama dan keamanan ?

Jawaban:
Seseorang yang melaksanakan Dhamma Ajaran Sang Buddha adalah orang 
yang mampu mengubah dirinya dari orang yang baik menjadi lebih baik, 
dari orang yang kurang baik menjadi bertambah baik. Salah satu Dhamma 
yang harus dilaksanakan oleh para umat Buddha adalah mengembangkan 
sikap malu untuk berbuat jahat dan takut akan akibat perbuatan jahat. 
Ia merasa malu berbuat jahat karena ia menyadari sebagai umat Buddha, 
ia sudah tidak pantas lagi untuk merugikan fihak lain dengan 
perbuatan, ucapan dan juga pikirannya.
Sedangkan, rasa takut akan akibat perbuatan jahat menjadikan dirinya 
selalu menjaga segala perbuatan badan, ucapan dan pikiran agar ia 
tidak menyakiti mahluk lain. Ia sadar bahwa segala perbuatan baik 
maupun buruk akan ia tanggung sendiri akibatnya. Ia akan selalu 
berusaha mengembangkan kebajikan agar ia mendapatkan kebahagiaan. Ia 
juga selalu berusaha menghindarkan dirinya dari tindak kejahatan 
karena ia takut mengalami penderitaan sebagai akibat perbuatannya itu.
Sikap hidup merasa malu berbuat jahat dan takut akan akibat perbuatan 
jahat inilah yang menjadikan Dhamma sebagai agama sekaligus sebagai 
penjaga keamanan dalam masyarakat.
Semoga kedua sikap mental yang baik ini dapat menjadi milik umat 
Buddha.
Semoga umat Buddha menjadi salah satu unsur pendukung keamanan di 
lingkungannya masing-masing.
Semoga selalu berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
=========================================================

Semoga ini membantu memberikan jawaban pada teman anda tersebut, 
apakah benar agama Buddha adalah EGOIS, bukankah sebaliknya agama 
Buddha malah mengajarkan kita menjadi ACCOUNTABLE (bertanggung jawab 
dan berani menanggung resiko serta bisa mengambil action untuk 
perbaikan).

Salam metta,
Suwarno

--- In [email protected], Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Suatu ketika ada yang datang dan bertanya kepada saya....
> 
> "Buddhism EGOIS, mementingkan diri sendiri, mau menang sendiri.
> Mengatasnamakan Karma baik maka dia berbuat baik, coba saja ngak 
ada 
> pahala (AKA karma baik)
> apakah yang namanya umat Buddhis mau berbuat baik? mau membantu?
> Untuk berbuat baik saja selalu ditambahin embel-embel demi Karma 
baik 
> (mengharapkan Pahala lagi).
> Egois, karena tujuan berbuat baik adalah karena ada udang di balik 
> kwetiau (gua ganti aja deh batu jadi kwetiau)
> supaya mendapatkan karma baik..ujung-ujungnnya yah untuk dia 
sendiri 
> (demi karma baik itu lagi)
> Menakut-nakuti umatnya dengan nama Karma, ngak boleh berbuat jahat 
nanti 
> dapat karma jelek."
> 
> terus terang kaget sih dilontarin beginian, saya yang masih 
> Rookie/Newbie. diam saja ..
> dan diam2 mengirim email ini untuk meminta bantuan jawaban....
> 
> BTW, bagaimana saya menjawab orang seperti ini ?
> Supaya besok lusa kalau ketemu lagi saya sudah tercerahkan untuk 
> menghadapi yang seperti ini
> 
> 
> with metta,
> 
> yamin
> 
> 
> 
> -- 
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Anti-Virus.
> Version: 7.0.323 / Virus Database: 267.6.6 - Release Date: 6/8/2005




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke