Namo Buddhaya, Pemikiran saya memakai asumsi: "Tuhan menguji Nabi Ibrahim agar mengorbankan anaknya sendiri. Ditaati dengan iklas oleh Nabi Ibrahim, tapi ketika hendak dilaksanakan, Tuhan kemudian mengubah perintahnya, agar korban itu, anaknya, diganti dengan domba saja."
Gunawan Kurnia > Tan Jan Sui fwd by Wijaya : > Dalam pengertian Agama Buddha, rasa takut, walau dalam bentuk apapun juga, > tetap merupakan suatu penghalang yang membuat bathin manusia menjadi > tertekan dan tertindas sehingga tidak dapat berpikir dengan pandangan luas, > bebas dan terbuka. > Sungguh menyedihkan, bila agama yang seharusnya bisa membawa perasaan tenang > malah mempertebal rasa takut yang tidak beralasan dari para pengikutnya. > > GK : > Bro Wijaya, > Kalo begitu, apakah statement di atas nggak kontradiktif dengan 'ottapa' ? -------------- Wijaya: Tidak. Yang satu takut pada HUKUM KARMA, yang satunya takut pada PERINTAH--Penguasa, Tuhan. Di konsep Hukum Karma, tak kenal perintah Sang Penguasa. Jadi, umatnya bisa berpikir merdeka. Bisa meninjau perintah siapapun atau tindakan yang AKAN diambil dari segi keadilan, kemanusiaan, kasih, bermanfaat atau merugikan pihak lain. dlsb. Di konsep DOSA--agama Samawi--, ada PERINTAH, yang jadi penilaian adalah: TAAT atau TIDAK TAAT. Dengan penilaian demikian, maka peninjauan umatnya pada segi keadilan, kemanusiaan, kasih atas satu perintah menjadi sesuatu yang mubasir. Bila tidak mau dinilai sebagai bentuk KERAGUAN, Iman yang ngga bulat. Dengan melihat sejarah agama2, saya pikir konsep KETAATAN itu membuka peluang pada pemimpin agama Samawi untuk mengarahkan umatnya, bahkan sampai pada perang, misalnya. Karena pimpinan agama bisa saja menyatakan satu tindakan adalah perintah Tuhan(ayat kan bisa dimaknai bermacam-macam) dan Umat tidak punya pilihan lain, selain TAAT. Akibatnya, ketika satu umat menyerang, menghabisi kelompok lain(bahkan yang seagama tapi beda sekte saja), umat tersebut justru berpikir tindakannya itu adalah BAIK SEKALI, karena TAAT pada perintah Tuhan. Beda dengan Buddhisme, umatnya tidak gampang diarahkan pimpinan agamanya ke arah yang bertentangan dengan konsep karma. Karena hukum karma adalah fixed. Membunuh nyamuk aja buruk, bagaimana pimpinan agama Buddha bisa mengarahkan Umat Buddha, agar umatnya mau menghabisi kelompok lain tapi si Umat berpikir itu adalah karma baik? Sulit, kan? GK: > Tan Jan Sui fwd by Wijaya : > Mengapa berbuat baik ? > Kami berbuat baik karena kami sadar, tahu dan mengerti dengan jelas akan > manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan perbuatan itu. > > Komentar SCh ( seorang rekan ) : > Manakah yang terbaik di antara pilihan berikut : > 1. Berbuat baik karena diperintah ( oleh yang lebih kuasa ). > 2. Berbuat baik karena takut atas hukuman. > 3. Berbuat baik karena takut atas akibat kejahatan. > 4. Berbuat baik karena tau hasilnya juga kebaikan ( manfaat ). > > GK : > Ada pilihan lain, yang gampang diomongin tetapi susah dilakonin, yaitu : > 5. Berbuat baik demi perbuatan baik itu sendiri. > Maksudnya, kalo memang mau berbuat baik mah, just do it aja lah, then forget > it. > Kaisar-heng pernah kasih contoh yang menurut saya tepat sekali, kurang > lebihnya seperti di bawah ini. > > Analoginya kira-kira kaya' orang b***k gitu lah. > Orang yang lagi boker itu dianalogikan sebagai orang yang lagi berbuat baik, > bersih-bersih kotoran, gitu lho. > > Kalo kita lagi b***k itu 'kan gara-gara apa yang kita makan. > Tapi kita nggak mikirin itu t***i tadinya sayur lodeh, nasi goreng, ayam > bakar, cap cay atau puyonghay. > > Habis b***k, kita juga nggak mikirin itu t***i lari ke mana. > Yang penting, habis b***k mah jangan lupa c***k dan cuci tangan. > Huehuehue ... ^_^ ---------- Wijaya: Pilihan 2 dan 3, nggak logis. Pilihan ke 5 adalah pilihan mereka yang egonya sudah tipis atau habis. Maksud kotbah kaisar Huang tersebut bukan ke arah ini. Beda konteks. Kotbah kaisar itu tentang: kalau sudah berdana atau berbuat baik pada orang lain, jangan diungkit-ungkit lagi. Nggak perlu disebar luaskan, ataupun disesali. Karena kalau setelah diingat, lalu timbul perasaan MENYESAL [Sialan, dikasih angpao bukanya buat beliin obat bininya, malah dibeliin arak/togel!, misalnya.], maka penyesalan(dosa dalam istilah Buddhis) ini adalah termasuk karma buruk. Tapi, ada Bhante jelasin, perbuatan baik kita, patut diingat, dengan maksud ketika mengingat kebaikan kita, timbul rasa bahagia, ini menjadi pendorong agar kita mengulang perbuatan baik itu lagi. Jadi masalahnya bukan DILUPAKAN atau PATUT DIINGAT, tapi tujuan kita melupakan dan tujuan kita mengingat kebaikan yang telah kita lakukan. Salam metta Wijaya Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
