Saya kira ini masalah kronis agama Buddha Indonesia.
Banyak kegiatan tapi tak fokus pada perkembangan kehidupan spiritual orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dan ada kelompok yang fokus pada spiritual tapi spiritual pasif.
 
Saya kira Dharmajala adalah salah satu solusi keluar. Cuman gimana membuatnya agar lebih efektif.
 

EasyCoolSmart <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nah, tuh kan baru ketahuan latar dari topik ini.
Mengapa tidak sedari awal saja menggunakan bahan originalnya?
 
Artinya ini termasuk dalam kategori yg aku kemukakan di point satu dong?
Tinggal ditanyakan langsung kepada yg bersangkutan; terlebih lagi sudah diketahui dia aktiv segala macem. Artinya pantauan juga OK tuh.
Aku yakin 2 org tersebut akan dengan senang hati menceritakan alasan mengapa sekarang dia menjadi Kristen.
Karena dengan demikian, berarti ada lah peluang bagi mereka utk merekrut teman2 dulu ketika dia masih Buddhis.
 
Tantangan sementara ada di tangan Anda, Sdr. Casey; mohon cari tahu alasannya langsung dari teman2 Anda tsb.
Sharing ke sini & baru kita cari/rembukkan way-outnya. Dengan begini caranya lebih efektif, efisien, & faktual.
Berkenankah Anda?
Mungkin setelah itu, anggota milis lainnya juga akan mulai dengan pengalaman sejenis di lingkungan masing2.
 
----- Original Message -----
From: C.Kallita
Sent: Tuesday, December 06, 2005 14:29
Subject: RE: [Dharmajala] Re: Mana lebih baik, jadi Budhis atau

Namo Buddhaya,
 
Pertanyaan yang dilemparkan oleh Bro.Jimmy sebenarnya telah terjadi dengan 2 (dua) orang teman saya.
Pada saat dia berada di lingkungan Vihara terus terang keduanya cukup aktif dalam berorganisasi membantu kegiatan Vihara, yang satu sudah memiliki anak 5 tahun dan yang satu masih muda belum menikah. Entah bagaimana peristiwa yang dialami oleh mereka dengan begitu mudahnya kedua orang itu telah berpindah agama dan menjadi K, yang muda terakhir saya dengar telah aktif mengikuti kegiatan Vocal Group di G dan yang sedikit tua sudah aktif mengikuti berbagai kegiatan di G (aktif banget loh lebih aktif pada saat dia di Vihara).
 
Memang kita sendiri tidak tahu dengan jelas apakah benar2 mereka lebih berbahagia dengan berpindah agama, tapi yang kita tahu mereka benar2 berpindah agama dan menjadi lebih aktif diseberang sana.
 
Hal ini merupakan tantangan bagi kita yang benar2 mengerti bahwa Dharma sangat baik untuk kehidupan kita.
 
Mettacitena,
Casey Kallita

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of EasyCoolSmart
Sent: Tuesday, December 06, 2005 11:50 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Dharmajala] Re: Mana lebih baik, jadi Budhis atau
 
Topik ini memberikan bias yg terlalu asumtif, akhirnya diskusi menjadi tidak ada juntrungannya.
Karena ternyata yg melontarkan questioner juga sangat asumtif pandangannya.
Alasanku didasari beberapa poin di bawah:
  1. Ini kejadian beneran atau sekadar asumsi emosional karena ketidakpuasan dgn sistem? Bahwa jika orang tersebut setelah menjadi Kristen "pasti" lebih baik? Dan Buddhis tidak becus membina umat?
    • Jika ini adalah kisah nyata, berarti sudah bisa membedakan metode di Buddhis & Kristen. Kisah nyata yg bisa langsung kita tanyakan langsung kepada yg bersangkutan. Jadi jawabannya lengkap ada di tangan di pelempar kuesioner ini.
    • Jika ini bukan kisah nyata, melainkan kisah²an? Bagaimana begitu pasti bahwa setelah menjadi Kristen akan lebih baik dr pd ketika masih Buddhis? OK-lah jika demikian, berarti yg melempar kuesioner juga sudah punya pra-skenario tentang bagaimana pola kerja Kristen yg menjadian Buddhis tsb ke arah lebih baik setelah ganti/pindah agama.
  2. Jika main asumsi, gimana dengan kasus sebaliknya: ketika menjadi Kristen, payah! Setelah pindah ke Buddhis, menjadi baik? Apakah hal ini ada kejadian faktual di tengah2 kita, mungkin salah satu dari Anda demikian?
  3. Aku bayangkan seandainya pd masa Buddha Gotama, Kristen sudah ada di sana juga. Mungkin Bhante Devadata akan menjadi Kristen yah?
  4. Tapi gimana dengan kasus Angulimala yah? Kalo saat itu ada Kristen, mungkin dialah contoh dr Kristen ke Buddhisme yah?
  5. Aku ingat ketika beberapa tahun yg lalu di Radio Prambors, pkl 07:30 ada acara bincang2 dgn Beki Tumewu. Acara tsb seperti sharing, yg mana Beki melontarkan pertanyaan2 baku & dikembangkan mengikuti pola si penelepon. Topik yg dipilih cenderung subjektif dan berselera. Contoh satu yg msh aku ingat adalah: SIAPA ORG YG PALING ANDA IDOLAKAN? Nah, setiap kali acara dimulai, polling SELALU dimulai dari si pembawa acara dahulu, yakni Si Beki. Dia lah yg "menumbalkan" diri sendiri utk menarik pendengar lain supaya tdk sungkan utk sharing. Wkt itu dia punya 2 figur: Suster Theresa & Madonna, 2 figur sama fisik namun bertolak belakang karakternya. Kemudian Beki memaparkan alasannya, bla2... Nah, saran saya utk milis ini, sebaiknya [kalo tdk setuju, OK saja] setiap kali ada yg memaparkan kuesioner, biasakanlah utk memberikan pendapat pribadinya terlebih dahulu. Yah, setidaknya lebih sportif lah gitu. Terlebih lagi ada ungkapan demikian "Terima kasih sebelumnya bagi yang bersedia berbagi dan mohon maaf, jika saya belum tentu bisa menanggapi.", ibarat lempar bakwan, sembunyi udang.
 
 
----- Original Message -----
Sent: Monday, December 05, 2005 18:55
Subject: [Dharmajala] Re: Mana lebih baik, jadi Budhis atau
 
--- In [email protected], kreshna amurwabumi
<[EMAIL PROTECTED]...> wrote:
>
deleted.....

> karena itu didalam tulisan saya di millist ini pernah mengusulkan
para pertapa yang sudah tinggi mata batinnya untuk menuliskan
pengalaman transendentalnya supaya hukum karma itu bisa kita lihat
mendekati langsung.

Jun:
maaf yah Romo Kreshna, bagian ini saya kurang sependapat.
masing2 boleh mencapai realisasi tertentu atau pencapain apapun, namun
belum tentu dia bisa menjelaskan dengan baik (mahir) sperti seorang
Buddha. lagipula kita butuh waktu utk mengetahui apakah dia meamng
betul2 telah mencapai  mata bathin atau sejenisnya, dan itu tepat
apabila diberikan kepada kita.

coba liat teman2 di dunia barat, mereka praktik meditasi entah apa,
atau sebagaian besar mereka praktik vajrayana, terus menceritakan
pengalamannya, ini itu, dan membuat orang tambah binggung, apalagi
bagi mereka yg belum siap, dan tak sedikit dari mereka yg meng-klaim
mencapai mata batin atau mata ke-3, dll, itu kan sungguh berbahaya,
apalgi bagi kita yg masih dlm tahap belajar, dan menerapkan sedikit
demi sedikit ajaran Buddha.

pencapain spiritual seharusnya tidak menjadi bahan show up, dan saya
yakin kita yg berada di berbagai level juga akan medapat efek
tersendiri.

saya malah takut ini pengkarbitan (maaf kalo istilahnya kurang pas),
kalau tiba2 dia ditunjukin pengalaman transendentalnya (sorry saya
juga blom pernah tau ini apa), terus shock bahkan membuat kehidupannya
berakhir...ini malah gawat (ini salah satu contoh). yah ini namanya
mau untung (mengetahui hukum karma) tapi menuai buntung. of course
vicee versa bisa terjadi.

karena hanya seorang yg betul2 mahir baru bisa memberi bimbingan,
bukan hanya telah mencapai pengalaman transendental, lantas sana sini
cerita.

deleted.....
>Pernah terlontar dalam pikiran saya apakah kita ini boleh sangat
bebas berbuat apa saja yang relatif "terikat"asal selama melakukan itu
kita tetap sadar. Apakah hal ini merupakan penyelesaian???.
>   

Jun:
menurut opini pribadi saya, itulah gunanya kita belajar sila, dan
mengenal lebih jauh, barusan saya ikut ceramah Suhu kofa (maaf kalo
salah tulis) di Vih Ekayana Graha, beliau menjelaskan pancasila
Buddhis dalam konteks yg lebih detail, dan saya belajar banyak dari
ceramah itu, beliau mengutip dari karya YM Gampopa (salah satu murid
YM Milerapa). yg kita tahu hanya panatipata, dan bberapa faktor saja,
namun ada aspek2 lain yg selama ini saya belum pernah dengar, seperti
mengapa bunuh? termotivasi oleh 3 racun (kebencian, kebodohan, dan
kemelekatan), contoh membunuh dgn benci karena perselisihan, membunuh
dgn cara bodoh yaitu tidak tau akibat membunuh, membunuh dgn
kemelekatan atas daging, bulu, kulit dsb.

setelah tau demikian, kita lebih aware, dan apabila kita memang sulit
menghindari pembunuhan, maka kita berusaha agar semua faktor ini tidak
lengkap, jadi karma buruk tidak separah yg kalo kita berbuat karma
buruk membunuh secara lengkap, ini yang saya anggap sebagai "terikat"
namun dgn memperhatikan rambu2 yg ada, tak hanya sadar, itu sama
sekali tidak cukup. kalaupun kita membunuh, kita sadar, tapi kita
tetap membunuh hasilnya ada, karma buruk juga tetap berjalan, namun
tidak 100% penuh, karena ada bbrapa faktor yg tidak lengkap, dan
akibatnya juga tidak seberat yg jika kita lakukan secara full.


>   
>   Semoga rekan-rekan yang lain tidak kaget dengan idea ini.
>   
>   
>   Kreshna
>   

salam,
maitri







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke