Dear all,
Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
Terima kasih banyak atas tanggapan yang sudah diberikan. Senang sekali membaca pandangan dari Bro en Sis sekalian. Beraneka ragam. Saya belajar banyak dari situ. Thx.
Berikut adalah pandangan saya mengenai hal ini.
1. Saya tidak tahu apakah anda sekalian mengalaminya atau tidak, tapi saya melihat dengan mata kepala sendiri:
a. Perubahan positif yg terjadi pada teman2 yg sebelumnya beragama "B" tapi kemudian beralih ke K. Bicara lebih santun, lebih hangat dan caring, lebih aktif, yang merokok kemudian berhenti merokok, lebih menjalankan sila. Intinya sih, lebih baik dari sebelumnya. Banyak atau tidak? Relatif, tapi dari yang saya pernah bersentuhan, rata-rata menunjukkan hal itu. Apa penyebabnya? Saya juga tidak jelas.
b. Teman2 yang anda temui di lingkungan Buddhis, yang tadinya tidak tahu banyak, kemudian mulai belajar Dharma. Lama kelamaan semakin berpengetahuan. Tidak banyak terjadi perubahan dalam diri, misalnya yang ngerokok tetap aja ngerokok, bicaranya kasar tetap aja masih kasar, emosi tinggi eh kadang lebih emosian. Setelah tahu "Dharma" malah jadi lebih sering debat en ngotot sama orang. Apa penyebabnya?
Memang dalam dua kasus di atas ga lepas dari faktor pribadi masing2 tapi faktor eksternal seperti pembinaan umat juga sangat menentukan. Dan saya berpendapat, saudara-saudari K kita jauh lebih baik dari kita dalam menangani hal ini.
2. Apa yang saya maksudkan dengan?
Berikut adalah pandangan saya mengenai hal ini.
1. Saya tidak tahu apakah anda sekalian mengalaminya atau tidak, tapi saya melihat dengan mata kepala sendiri:
a. Perubahan positif yg terjadi pada teman2 yg sebelumnya beragama "B" tapi kemudian beralih ke K. Bicara lebih santun, lebih hangat dan caring, lebih aktif, yang merokok kemudian berhenti merokok, lebih menjalankan sila. Intinya sih, lebih baik dari sebelumnya. Banyak atau tidak? Relatif, tapi dari yang saya pernah bersentuhan, rata-rata menunjukkan hal itu. Apa penyebabnya? Saya juga tidak jelas.
b. Teman2 yang anda temui di lingkungan Buddhis, yang tadinya tidak tahu banyak, kemudian mulai belajar Dharma. Lama kelamaan semakin berpengetahuan. Tidak banyak terjadi perubahan dalam diri, misalnya yang ngerokok tetap aja ngerokok, bicaranya kasar tetap aja masih kasar, emosi tinggi eh kadang lebih emosian. Setelah tahu "Dharma" malah jadi lebih sering debat en ngotot sama orang. Apa penyebabnya?
Memang dalam dua kasus di atas ga lepas dari faktor pribadi masing2 tapi faktor eksternal seperti pembinaan umat juga sangat menentukan. Dan saya berpendapat, saudara-saudari K kita jauh lebih baik dari kita dalam menangani hal ini.
2. Apa yang saya maksudkan dengan?
Tetap ngotot pertahankan seseorang menjadi "Buddhis" walaupun ucapan dia suka sembarangan, kasar, nyakitin orang mulu, perbuatan tubuh dia suka sembarangan, menyakiti diri dan orang2 lain, pikiran dia suka ngawur dan tidak baik?
atau
Biarkan dia berubah menjadi orang Kristen tapi kualitas ucapan, perbuatan tubuh, dan pikirannya berubah menjadi lebih baik?
Seringkali kita ngotot mempertahankan orang untuk menjadi Buddhis. Saya sendiri juga pernah seperti itu dan bisa saja masih seperti itu.
Ketika kita ngotot mempertahankan orang untuk menjadi "Buddhis" apa sesungguhnya yang mendasari (pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku) kengototan kita?
Niat baik yang betul2 jenuin untuk orang itu?
Atau
Sesungguhnya kita ngotot karena kemelekatan pada pandangan kita sendiri?
Sebenarnya apa sih yang dimaksudkan dengan menjadi seorang Buddhis?
Pernahkah anda mengalami hal ini?
Di dalam kehidupan anda, anda tahu ada orang beragama B yang pikiran, ucapan, dan perbuatan sehari-harinya kurang baik dan biasanya anda bahkan ogah bersentuhan dengan dia. Anda malas berhubungan dengan orang itu. Lalu tiba2 dia didekatin sama K dan dia mulai limbung, mulai jarang nongol di wihara, lebih sering ke gereja, en pikiran, ucapan, dan perbuatannya mulai lebih baik, tapi kemudian anda ngotot berusaha mempertahankan dia sebagai Buddhis padahal sebelumnya anda kenal aja ogah ama dia dan dia sering jadi bahan lelucon anda, bahan gosip anda. Anda pandang rendah dia.
Apa sesungguhnya yang mendasari kengototan kita?
Nah balik lagi ke pertanyaan ini
Seringkali kita ngotot mempertahankan orang untuk menjadi Buddhis. Saya sendiri juga pernah seperti itu dan bisa saja masih seperti itu.
Ketika kita ngotot mempertahankan orang untuk menjadi "Buddhis" apa sesungguhnya yang mendasari (pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku) kengototan kita?
Niat baik yang betul2 jenuin untuk orang itu?
Atau
Sesungguhnya kita ngotot karena kemelekatan pada pandangan kita sendiri?
Sebenarnya apa sih yang dimaksudkan dengan menjadi seorang Buddhis?
Pernahkah anda mengalami hal ini?
Di dalam kehidupan anda, anda tahu ada orang beragama B yang pikiran, ucapan, dan perbuatan sehari-harinya kurang baik dan biasanya anda bahkan ogah bersentuhan dengan dia. Anda malas berhubungan dengan orang itu. Lalu tiba2 dia didekatin sama K dan dia mulai limbung, mulai jarang nongol di wihara, lebih sering ke gereja, en pikiran, ucapan, dan perbuatannya mulai lebih baik, tapi kemudian anda ngotot berusaha mempertahankan dia sebagai Buddhis padahal sebelumnya anda kenal aja ogah ama dia dan dia sering jadi bahan lelucon anda, bahan gosip anda. Anda pandang rendah dia.
Apa sesungguhnya yang mendasari kengototan kita?
Nah balik lagi ke pertanyaan ini
Kalau tetap "ngotot" pertahankan dia sebagai
"Buddhis", apa jalan keluar yang sebaiknya diberikan kepada dia dan bagaimana caranya?
Anumodana
JL
safira luiz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah Bro Jim, ini topik berat klo dilihat dari segi
praktek. Saya aja sulit menerapkannya. Tapi usaha
terus .....
Yahoo! Personals
Let fate take it's course directly to your email.
See who's waiting for you Yahoo! Personals
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
