Orang yang menerima dana uang hasil rampokan dan ia menyadari betul
asal-usul dana itu, memang ia tidak bisa dipersalahkan melakukan
sendiri perampokan itu karena tidak ada 'niatnya' atau 'cetananya'
untuk merampok; tetapi 'niatnya' atau 'cetana'-nya adalah 'menerima
uang yang jelas-jelas diketahuinya hasil perbuatan jahat'. Silakan
menilai sendiri apakah 'niat' atau 'cetana' seperti itu kusala atau
akusala. Dalam kehidupan sehari-hari orang seperti itu disebut "tukang tadah".

Sebagai perbandingan, dalam hukum duniawi saja ada ketentuan
universal bahwa barang siapa melihat orang melakukan suatu kejahatan
ia wajib melaporkan kejahatan itu kepada pihak yang berwajib; kalau
ia berdiam diri, dan belakangan ketahuan bahwa ia mengetahui
kejahatan itu dilakukan, ia bisa dituntut karena tidak melaporkan
kejahatan itu. Lihat saja bagaimana orang yang melindungi teroris
Nurdin M Top akhirnya harus berhadapan dengan hukum juga.

Secara analogis kita bisa merenungkan, bagaimana 'niat' atau 'cetana'
orang yang makan daging hasil pembunuhan. Memang ia tidak bisa
dipersalahkan dengan pembunuhan itu sendiri, tetapi paling tidak ia
sudah 'serakah' memakan hasil pembunuhan. Itulah 'cetananya'.

Saya sendiri juga masih serakah suka makan hasil pembunuhan, kok.

Salam,
Hudoyo


>"Sleeping Dragon" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [Dharmajala] Kasus ?
>
>Saya ingin bertanya pada teman2 sekalian.
>Apabila orang menerima sumbangan berupa uang dari seorang perampok
>dari hasil merampok dan yang menerima dana tersebut mengetahuinya.
>Apakah si penerima dana tersebut menerima kamma buruk jika ia menerima
>dan menggunakan uang tersebut.
>
>Jika iya
>seharusnya orang juga menerima kamma buruk dari memakan daging
>karena mengetahuinya berasal dari pembunuhan.
>Karena pandangan saya kedua kasus itu sama
>Bagaimana tanggapan rekan semua ???
>Mohon petunjuk dan penjelasannya
>
>Salam
>Wei





** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke