sila baik dalam niat maupun tindakan konkret.
Betul, dengan menerima sumbangan, donasi atau dana bentuk apapun yang
diperolah dari hasil mencuri, merampok berarti kita ikut mendukung
tindakan mencuri atau merampok itu.
Niat dan tindakan harus konsisten, demikian kira-kira yang ingin
diungkapkan Bro Mulyadi, kalau saya tidak salah mencerna.
Tidak akan ada tindakan, tanpa terlebih dahulu ada niat.
Niat baik diikuti oleh tindakan baik, niat buruk diikuti oleh tindakan
buruk, itu pasti.
Tapi, bagaimana dengan hasilnya? Apakah niat baik yang diikuti tindakan
baik selalu berakibat pada hasil yang baik? Dan sebaliknya, apa selalu
niat buruk dengan tindakan buruk pasti berujung pada hasil buruk pula?
Di bawah ini, dua contoh ekstrim (sekedar sebagai wacana),
mudah-mudahan bisa membawa kita pada diskusi yang bermanfaat :
1. Seorang anak kecil (katakanlah begitu), ingin membantu ibunya yang
sedang sibuk di dapur, yang ia lakukan adalah membantu mencuci piring
kotor. Tetapi, karena memang masih anak-anak yang belum berpengalaman,
akhirnya piring kotor bukan menjadi bersih, tetapi malah jadi pecah.
Niat si anak baik, tindakannya pun baik. Tapi hasilnya buruk!
Bagaimana kita menilai si anak ini? Menyalahinya??
2. Dua orang musuh bebuyutan berpapasan di jalan. Timbul niat buruk
dalam hati salah seorang untuk mencelakai lawannya. Didorongnya sekuat
tenaga musuh bebuyutannya itu hingga terpental ke tepi jalan. Pada saat
yang bersamaan, datang mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi, maka
terhindarlah mereka berdua dari kecelakaan tertabrak mobil.
Niat si musuh yang mendorong buruk, tindakan mendorongnya pun buruk.
Tapi hasilnya justru baik, membuat mereka sama-sama terhindar dari
kecelakaan tertabrak mobil.
Bagaimana kita menilainya? Membenarkannya??
Salam,
Erik
------------------------------------------------------------------------\
-----------------------------------------------
In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
Apakah betul kalau tidak pakai niat namanya tidak melakukan kamma?
Menurut saya baik pakai niat atau tidak pakai niat, selama kita
melakukan sesuatu, bahkan sewaktu kita duduk diam tanpa memikirkan
apapun, kita tetap sedang membuat penyebab kamma. (Kita tetap bernapas
bukan? Dan ini menyebabkan kita tetap bisa hidup)
Saya melihat disini bahwa hukum kamma dipandang sebagai suatu hukum yang
sempit.
Yaitu suatu perbuatan hanya akan berakibat jika dilandasi oleh niat,
jika tidak dilandasi oleh niat maka perbuatan kita tidak akan berbuah
apa-apa dan hanya menghasilkan suatu kondisi untuk berbuahnya kamma
yang lain yang dilandasi oleh niat.
Menurut saya ini akan menimbulkan kerancuan, Di satu sisi kita melatih
diri untuk tidak mencuri, namun di sisi lain kita "boleh" menerima uang
hasil rampokan karena kita tidak memiliki niat untuk merampok (orang
lain yang merampok).
Jika saja sewaktu menerima uang tersebut kita mengetahui bahwa uang
tersebut merupakan hasil pencurian, mengapa tidak ditolak saja dan
menasehati orang yang memberi uang tersebut jika memungkinkan. Sehingga
tidak akan terjadi pembenaran atas perbuatan-perbuatan yang melanggar
sila. Ini bisa membuat orang tersebut terhindar dari melakukan
pencurian-pencurian dimasa mendatang bukan?
Di satu sisi kita melatih diri untuk tidak membunuh, di sisi lain kita
boleh menikmati hasil pembunuhan. Saya yakin bahwa setiap orang yang
makan daging hewan, pasti mengetahui bahwa hewan tersebut dibunuh
terlebih dahulu sebelum menjadi daging. Jadi secara sadar dia telah
memiliki niat agar hewan yang akan dia nikmati untuk mati terlebih dulu
sebelum bisa dinikmati.
Tidak mungkin daging tersebut tersedia begitu saja tanpa dibunuh
terlebih dulu, bukan?
Jika saya berdiskusi mengenai penghindaran pembunuhan hewan untuk
konsumsi manusia dengan bervegetarian kepada umat non-Buddhis, sangatlah
sulit sebab mereka menganggap bahwa hewan itu memang telah disediakan
oleh Tuhan mereka untuk dibunuh dan diambil dagingnya.
Ironisnya banyak umat Buddhis, yang mengetahui dan selalu berbicara
tentang kasih sayang kepada semua mahluk "sabbe satta bhavantu
sukhitatta", namun melakukan pembenaran terhadap pembunuhan hewan
dengan ikut berpartisipasi dalam konsumsi daging hasil pembunuhan
tersebut, dengan alasan bahwa mereka tidak berniat untuk membunuh hewan
yang dagingnya mereka makan sehingga tidak akan mengakibatkan kamma
buruk bagi mereka.
Dengan menghindari makan daging hasil pembunuhan, tentu permintaan akan
daging akan berkurang dan pembunuhan yang lebih banyak tidak perlu
terjadi.
With Metta
Mulyadi
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Beyond belief | Religion and spirituality | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
