Bro Erik,
Begitulah kehidupan ini, terkadang apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan harapan/apa yang seharusnya terjadi menurut logika kita.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa suatu perbuatan selalu melibatkan perbuatan lain (suatu perbuatan tidak berdiri sendiri), sehingga hasilnya pun merupakan kombinasi dari perbuatan-perbuatan tersebut dan tidak dapat kita tentukan dengan pasti.
Bagaimana kita menyikapinya? Itulah yang menjadi permasalahan bagi kita semua.
Menurut saya berikut adalah prinsip yang dapat kita pegang dalam menyikapi masalah di atas.
Jika kita ingin melakukan suatu perbuatan baik, maka kita tidak perlu memikirkan apakah perbuatan baik kita tersebut akan segera menerima imbalan yang sesuai atau tidak. (hal ini untuk menghindari kekecewaan apabila akibat perbuatan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan)
Sebaliknya jika kita melakukan suatu perbuatan yang buruk, kita seharusnya sadar bahwa cepat atau lambat kita akan menerima akibat dari perbuatan buruk tersebut. (hal ini untuk menghindari kita dari pengulangan perbuatan buruk tersebut walaupun perbuatan buruk tersebut tidak berbuah dengan segera)
Begitupula jika kita melihat orang lain yang melakukan perbuatan baik atau buruk, kita tidak perlu menilai bahwa perbuatannya itu akan segera menerima akibatnya, namun perbuatannya itu cepat atau lambat pasti akan menimbulkan akibat yang sesuai
Hal ini terkadang tidak bisa dijelaskan dengan logika kita, dan terkadang tanpa kita sadari bahwa itu merupakan akibat dari perbuatan kita. Contohnya bencana alam, kecelakaan, dll, disini kita sebagai umat Buddhis tentu tidak akan menyalahkan siapa-siapa atas tragedi yang menimpa kita bukan?
Atau mungkin kita selamat dari suatu bencana padahal sebagian besar orang di sekitar kita tidak selamat, itu juga tidak bisa dijelaskan dengan logika kita.
Mungkin hanya hukum Kamma yang mampu memuaskan kita dengan jawaban di luar nalar kita (spekulasi-spekulasi eskatologis) dalam menganalisa peristiwa di atas.
Saya kira dengan menggunakan prinsip di atas kita akan berbuat baik dengan tanpa pamrih, dan akan berusaha untuk menghindari perbuatan buruk.
With Metta,
Mulyadi
| "Erik" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected] 06/05/2006 06:15 PM
|
|
Bro Mulyadi:
Saya kira, mungkin kita bicara dalam tataran yang berbeda.
Saya sangat setuju dengan pandangan eskatologis anda tentang hukum
karma. Niat baik dengan tindakan baik pasti berakibat baik menurut
hukum karma, demikian sebaliknya. Hanya saja kita tidak mampu
memprediksi apalagi mereka-reka kapan karma baik/buruk itu akan berbuah
(pada kehidupan sekarang atau kehidupan yad).
Namun yang saya maksudkan bukan itu. Bagaimana pun juga kita hidup di
dunia yang nyata , sekarang dan di sini. Akibat yang ditimbulkan oleh
tindakan kita di tengah lingkungan masyarakat di sini dan pada saat ini
juga (dengan niat baik maupun buruk) tentu membawa dampak instan bagi
lingkungan profan yang kita huni sekarang ini.
kenyataannya adalah sering sekali, sebuah tindakan yang dilandasi oleh
niat baik, dalam kenyataannya berakibat buruk terhadap orang lain dan
masyarakat sekeliling. Sebaliknya, tak jarang pula sebuah tindakan yang
dilandasi niat buruk, justru membawa dampak yang menguntungkan bagi
orang lain dan masyarakat sekeliling kita. Contoh ekstrimnya sudah saya
kemukakan pada posting saya terdahulu. (contoh konkretnya bisa
dikemukakan (misalnya) beberapa tokoh Buddhis konglomerat yang aktif di
organisasi dengan niat dan kepentingan pribadi, namun justru berdampak
positif bagi masyarakat Buddhis).
Lantas, sebagai seorang beragama (Buddha) bagaimana kita menilai
kenyataan yang nampak kontradiktif itu dari sudut pandang moral dan
etika (bukan dalam perspektif hukum karma)?
Apakah orang yang bertindak dengan dilandasi niat baik, namun
mengakibatkan kerugian pada orang lain harus dicela dan dipersalahkan?
Sebaliknya, apakah orang yang bertindak dengan dilandasi niat buruk,
namun justru akibatnya menguntungkan orang harus dibenarkan dan dipuji
serta disanjung?
Saya kira diskusi ini lebih relevan di milis Dharmajala yang bertujuan
engaged ke dalam masalah-masalah sosial kemasyarakatan, ketimbang
spekulasi-spekulasi eskatologis yang di luar kemampuan nalar kita.
Salam,
Erik
------------------------------------------------------------------------\
---------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote:
Bro Erik,
>
Suatu perbuatan baik dilandasi dengan niat baik, tentu akan berakibat
baik.
Sebaliknya suatu perbuatan buruk dan dilandasi oleh niat buruk juga
pasti akan berakibat buruk.
Akibat yang ditimbulkan oleh tindakan kita tidak selalu langsung
berbuah.
Terkadang memerlukan waktu yang lama, bahkan mungkin sampai dikehidupan
yang akan datang. Akibat yang "seakan-akan" muncul setelah perbuatan
yang kita lakukan mungkin saja berasal dari tindakan-tindakan kita
sebelumnya.
Karena itu hukum kamma sangatlah kompleks, dan melibatkan tidak hanya
niat dan perbuatan saja, namun juga kondisi yang memungkinkan untuk
berbuah.
Kondisi ini juga dibentuk oleh niat dan perbuatan kita sebelumnya. Jadi
semua itu kembali kepada kita sebagai si "pencipta" kamma. Sehingga
hukum kamma tidak bisa dijelaskan dengan nalar manusia biasa, kecuali
manusia yang telah mencapai tingkat kesucian tertentu yang dapat
melihat fenomena proses timbul dan tenggelamnya energi dan materi, serta
dapat mengingat kehidupan-kehidupan lampau.
With Metta
Mulyadi
------------------------------------------------------------------------\
---------------------------------------------
"Erik" [EMAIL PROTECTED] > Sent by: [email protected]
>
Setuju sekali saya pada pandangan Bro Mulyadi dalam konsistensi menjaga
sila baik dalam niat maupun tindakan konkret.
Betul, dengan menerima sumbangan, donasi atau dana bentuk apapun yang
diperolah dari hasil mencuri, merampok berarti kita ikut mendukung
tindakan mencuri atau merampok itu.
Niat dan tindakan harus konsisten, demikian kira-kira yang ingin
diungkapkan Bro Mulyadi, kalau saya tidak salah mencerna.
Tidak akan ada tindakan, tanpa terlebih dahulu ada niat.
Niat baik diikuti oleh tindakan baik, niat buruk diikuti oleh tindakan
buruk, itu pasti.
Tapi, bagaimana dengan hasilnya? Apakah niat baik yang diikuti tindakan
baik selalu berakibat pada hasil yang baik? Dan sebaliknya, apa selalu
niat buruk dengan tindakan buruk pasti berujung pada hasil buruk pula?
Di bawah ini, dua contoh ekstrim (sekedar sebagai wacana), mudah-mudahan
bisa membawa kita pada diskusi yang bermanfaat :
1. Seorang anak kecil (katakanlah begitu), ingin membantu ibunya yang
sedang sibuk di dapur, yang ia lakukan adalah membantu mencuci piring
kotor. Tetapi, karena memang masih anak-anak yang belum berpengalaman,
akhirnya piring kotor bukan menjadi bersih, tetapi malah jadi pecah.
Niat si anak baik, tindakannya pun baik. Tapi hasilnya buruk!
Bagaimana kita menilai si anak ini? Menyalahinya??
2. Dua orang musuh bebuyutan berpapasan di jalan. Timbul niat buruk
dalam hati salah seorang untuk mencelakai lawannya. Didorongnya sekuat
tenaga musuh bebuyutannya itu hingga terpental ke tepi jalan. Pada saat
yang bersamaan, datang mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi, maka
terhindarlah mereka berdua dari kecelakaan tertabrak mobil.
Niat si musuh yang mendorong buruk, tindakan mendorongnya pun buruk.
Tapi hasilnya justru baik, membuat mereka sama-sama terhindar dari
kecelakaan tertabrak mobil.
Bagaimana kita menilainya? Membenarkannya??
Salam,
> Erik
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala"
on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email
to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--------------------------------------------------------------------
This message contains confidential information and is intended only for the addressee named. If you are not the named addressee (or authorised to receive for the addressee), you must not disseminate, distribute or copy this email.Please notify the sender immediately by e-mail if you have received this e-mail by mistake and delete this e-mail from your system
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
