Bro Benny,

Sungguh sangat tragis apabila kita membiarkan orang lain untuk terus
melakukan pelanggaran sila, dengan dalih bahwa kita sebagai penerima
(bukan yang merampok atau yang membunuh) tidak melakukan kamma buruk dan
tidak akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri (orang lain yang akan
menerima kammanya karena perbuatan salahnya).

Itu artinya kita "Membenarkan" perbuatan salah yang dilakukan oleh orang
lain, dan ini menimbulkan perbuatan itu terjadi berulang-ulang tanpa ada
yang bisa mengurangi atau menghentikannya (pembunuhan mahluk hidup tetap
akan terjadi dan semakin banyak karena permintaan akan daging semakin
tinggi seiring bertambahnya penduduk dunia).
Dan lebih mengerikan lagi jika sebuah Vihara mengetahui dan "menerima"
dana hasil rampokan, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Vihara
tersebut dan anggapan umat lain terhadap agama Buddha.

Selama kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat diri kita,
lingkungan di sekitar kita, dan dunia  menjadi lebih baik, maka seharusnya
kita berusaha untuk melakukannya.
Sebaliknya jika kita tahu dan sadar perbuatan kita akan membuat diri kita,
lingkungan di sekitar kita, dan dunia menjadi lebih buruk, maka seharusnya
kita berusaha untuk menghindarinya.

Saya pikir Kalama sutta cukup relevan dengan diskusi kita kali ini,
berikut saya kutipkan.
"Oleh karena itu, warga Suku Kalama, janganlah percaya begitu saja berita
yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan
tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja
apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci; juga apa yang dikatakan
sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka; juga apa yang katanya telah
direnungkan dengan seksama; juga apa yang kelihatannya cocok dengan
pandanganmu; atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi
gurumu.

Tetapi, warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu
mengetahui, ‘Hal ini tidak berguna, hal ini tercela, hal ini tidak
dibenarkan oleh para Bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan
mengakibatkan kerugian dan penderitaan,’ maka sudah selayaknya kamu
menolak hal-hal tersebut."


With Metta,

Mulyadi




[EMAIL PROTECTED]
Sent by: [email protected]
06/04/2006 10:31 PM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
Re: [Dharmajala] Kasus ?







Bro Mulyadi,

Sepertinya definisi apa itu Kamma yang masing2x miliki berbeda, akibatnya
banyak penafsiran yang berbeda2x pula.
berikut ini kutipan dari buku "Volition, an introduction to the law of
kamma" oleh Sayadaw U Silananda:

Apakah kamma ? Sang Buddha berkata: "Oh para bhikku, kehendak itulah
Kamma." Arti pada umumnya Kamma adalah tindakan atau perbuatan, tetapi
secara teknis, kamma artinya kehendak atau keinginan. Ketika melakukan
tindakan, ada kehendak dibelakangnya, dan kehendak tersebut, usaha mental
tersebut lah Kamma. Sang Buddha menjelaskan, setelah berkehendak maka
seseorang akan bertindak melalui tubuh, ucapan dan pikiran.

Jika kita menerima uang hasil rampokan tsb, maka yang menerima tidak
melakukan kamma buruk, kecuali dia menerima dengan niat2x buruk atau
mengetahui dari awal sebelum perampokan itu terjadi atau mengetahui kalau
dia menerima uang itu maka akan mengakibatkan hal yang tidak baik terjadi.

Jika kita tidak menerima uang hasil rampokan tsb dan menasehati orangnya,
itu adalah kamma baik.

Demikian pula dengan makan daging,
Jika kita makan daging maka kita tidak melakukan kamma buruk pembunuhan.
tetapi, Jika kita tidak makan daging karena Metta, maka itu merupakan
kamma baik.

with Metta
Sumedho Benny



[EMAIL PROTECTED]
Sent by: [email protected]
06/02/2006 02:30 PM

Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
Re: [Dharmajala] Kasus ?









Apakah betul kalau tidak pakai niat namanya tidak melakukan kamma?

Menurut saya baik pakai niat atau tidak pakai niat, selama kita melakukan
sesuatu,
bahkan sewaktu kita duduk diam tanpa memikirkan apapun, kita tetap sedang
membuat penyebab kamma. (Kita tetap bernapas bukan? Dan ini menyebabkan
kita tetap bisa hidup)

Saya melihat disini bahwa hukum kamma dipandang sebagai suatu hukum yang
sempit.
Yaitu suatu perbuatan hanya akan berakibat jika dilandasi oleh niat, jika
tidak dilandasi oleh niat maka perbuatan kita tidak akan berbuah apa-apa
dan hanya menghasilkan suatu kondisi untuk berbuahnya kamma yang lain yang
dilandasi oleh niat.

Menurut saya ini akan menimbulkan kerancuan,
Di satu sisi kita melatih diri untuk tidak mencuri, namun di sisi lain
kita "boleh" menerima uang hasil rampokan karena kita tidak memiliki niat
untuk merampok (orang lain yang merampok).
Jika  saja sewaktu menerima uang tersebut kita mengetahui bahwa uang
tersebut merupakan hasil pencurian, mengapa tidak ditolak saja dan
menasehati orang yang memberi uang tersebut jika memungkinkan. Sehingga
tidak akan terjadi pembenaran atas perbuatan-perbuatan yang melanggar
sila. Ini bisa membuat orang tersebut terhindar dari melakukan
pencurian-pencurian dimasa mendatang bukan?

Di satu sisi kita melatih diri untuk tidak membunuh, di sisi lain kita
boleh menikmati hasil pembunuhan.
Saya yakin bahwa setiap orang yang makan daging hewan, pasti mengetahui
bahwa hewan tersebut dibunuh terlebih dahulu sebelum menjadi daging.
Jadi secara sadar dia telah memiliki niat agar hewan yang akan dia nikmati
untuk mati terlebih dulu sebelum bisa dinikmati.
Tidak mungkin daging tersebut tersedia begitu saja tanpa dibunuh terlebih
dulu, bukan?

Jika saya berdiskusi mengenai penghindaran pembunuhan hewan untuk konsumsi
manusia dengan bervegetarian kepada umat non-Buddhis, sangatlah sulit
sebab mereka menganggap bahwa hewan itu memang telah disediakan oleh Tuhan
mereka untuk dibunuh dan diambil dagingnya.

Ironisnya banyak umat Buddhis, yang mengetahui dan selalu berbicara
tentang kasih sayang kepada semua mahluk  "sabbe satta bhavantu
sukhitatta",  namun melakukan pembenaran terhadap pembunuhan hewan dengan
ikut berpartisipasi dalam konsumsi daging hasil pembunuhan tersebut,
dengan alasan bahwa mereka tidak berniat untuk membunuh hewan yang
dagingnya mereka makan sehingga tidak akan mengakibatkan kamma buruk bagi
mereka.

Dengan menghindari makan daging hasil pembunuhan, tentu permintaan akan
daging akan berkurang dan pembunuhan yang lebih banyak tidak perlu
terjadi.


With Metta

Mulyadi



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke