Rekan Riza, boleh saya bertanya: apakah yang Anda katakan itu pengalaman batin Anda pribadi, ataukah Anda menggunakan referensi dari seseorang atau orang-orang yang Anda anggap sudah mengalaminya/melihatnya? Kalau yang belakangan, bolehkah saya tahu referensi Anda?
Mungkin kita masing-masing mengacu kepada dua hal yang berbeda. Ini harus diklarifikasikan lebih dulu. Menurut hemat saya, 'perjalanan spiritual', mulai titik yang saya uraian itu, merupakan perjalanan satu arah, yang tidak mungkin mundur kembali (no return): (1) 'Yang Tak Berhingga' mengajak 'aku' keluar dari 'diri-aku' dan menyapanya. (2) Merealiasikan bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak berbeda dengan 'aku', yang di luar tidak berbeda dengan yang di dalam. (3) Merealisasikan runtuhnya persepsi akan 'Yang Tak Berhingga' dan sekaligus persepsi akan 'aku' sama sekali. Sesampai di tahap #3, tidak ada apa-apa lagi, tidak ada 'aku', tidak ada pikiran yang berasal dari 'aku', bahkan tidak ada persepsi akan 'ruang' dan 'waktu'. Yang tinggal hanyalah 'Yang Tak Dikenal'. 'Yang Tak Dikenal', karena tak dikenal, BUKANLAH 'Yang Tak Berhingga'. Menurut hemat saya, seluruh 'perjalanan spiritual' adalah perjalanan menuju 'Yang Tak Dikenal'. Namun, sesampai di situ akan disadari bahwa sesungguhnya tidak ada jalan, dan tidak ada [aku] yang berjalan. Salam, Hudoyo At 09:54 AM 8/16/2006, mochamad riza <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >heheheh mas Hudoyo..kalo gak salah setelah periode kekosongan ini perjalanan >masih terus berlanjut...sehingga kalo di baca skala kecilnya menjadi >perjalanan kosong ke isi kemudian kosong lagi..kembali ke isi dan >seterusnya....berapa cepatnya tergantung individu serta hasil akumulasi dari >kehidupan sebelumnya... >salam >riza > >Hudoyo Hupudio <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >At 05:21 PM 8/14/2006, <<mailto:audivacx%40yahoo.com>[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>TRUE COLORS >> >> >>OLEH: >>AUDIFAX >>Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku Mite Harry Potter(2005, Jalasutra) >> >>[...] >>Dalam pemikiran Levinas, totalitas itu didobrak oleh yang tak berhingga >>(lInfini). Dengan istilah ini, Levinas memaksudkan sebuah realitas yang tak >>dapat direduksi ke dalam diri AKU (sebagai ego) dan pengetahuan AKU. >>Yang-Tak-Berhingga adalah Orang-Lain, Liyan, the Others, YANG-LAIN daripada >>AKU, Yang Beda dari AKU dan Yang bukan AKU. Semua totalitas yang AKU bangun, >>seketika runtuh ketika AKU berjumpa dengan Orang-Lain. Inilah yang dimaksud >>dengan eksterioritas, yakni bahwa ada YANG-BEDA di luar AKU, yang bukan >>bagian dari interioritas diri AKU. YANG-TAK-BERHINGGA mengajak AKU keluar >>dari DIRI-AKU dan menyapanya[iv]. >> >>[...] >>© Audifax 14 Agustus 2006 >============================== >HUDOYO: >Setelah sampai di sini, orang harus tetap "berjalan" terus, prosesnya tidak >boleh berhenti, "perjalanan" masih panjang: >Pertama, 'Yang Tak Berhingga' mengajak 'aku' keluar dari 'diri-aku' dan >menyapanya. >Selanjutnya, menemukan dan menyadari bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak berbeda >dengan 'aku', yang di luar tidak berbeda dengan yang di dalam. >Akhirnya, menyadari runtuhnya persepsi akan 'Yang Tak Berhingga' dan sekaligus >persepsi akan 'aku' sama sekali. >Maka, apa yang tinggal, ketika tidak ada lagi 'Yang Tak Berhingga' dan tak ada >lagi 'aku'? >Yang tinggal tidak dapat dipersepsikan lagi oleh pikiran, oleh 'aku' (yang >sudah tidak berfungsi lagi); yang tinggal tidak dapat disebut lagi, tidak >dapat diberi label lagi, tidak dapat dikategorikan lagi. >Namun tak urung orang menyebutnya juga, memberinya label juga: >'Kekosongan' (Void, Emptiness) dalam Buddhisme, 'Yang Tak Dikenal' (The >Unknown) oleh J Krishnamurti, Bernadette Roberts. >Salam, >Hudoyo ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
