Rekan ISF yg baik,

Di sini tampak sekali lagi perbedaan PAHAM yang mendasar antara Anda dan saya.

Menurut hemat saya, jika waktunya sudah tiba, bisa saja orang mencapai 
akhir/puncak perjalanan spiritual, dan setelah itu tidak ada apa-apa lagi yang 
harus dilakukannya untuk "lebih meningkat" lagi dalam perjalanan itu; dengan 
kata lain, ia sudah sampai pada AKHKIR/.PUNCAK perjalanan spiritual. 

Orang demikian dalam tasawuf disebut 'al-insan al-kamil'. Dalam agama Hindu 
disebut 'jivanmukta'. Dalam agama Buddha disebut 'arahat'. Di dalam novel 
"Siddhartha" karya Herman Hesse, ia dilukiskan sebagai tukang tambang perahu, 
dan tetap hidup sebagai tukang tambang yang kerjanya sehari-hari menyeberangkan 
orang. Tidak ada apa-apa lagi yang perlu dicari di dalam batinnya, sepanjang 
sisa hidupnya.

Ada sebuah metafora Sufi yang mengatakan: "Dalam diri seorang insan kamil, 
Allah melihat dengan matanya, Allah mendengar dengan telinganya, Allah bicara 
dengan lidahnya, Allah berbuat dengan tangannya." ... Maka jadilah dia seperti 
al-Mansur al-Hallaj, atau Syech Siti Jenar.

Pernyataan Anda bahwa "selama hayat masih dikandung badan, tidak mungkin 
menghilangkan sisi manusiawi dalam setiap manusia", kalau diartikan sebagai 
"tidak mungkin si aku lenyap", saya lihat tidak lebih dari sekadar OPINI Anda. 
OPINI saya mengatakan, orang yang tidak ada lagi akunya adalah orang yang 
sempurna; setiap tindakannya bukan berasal dari kehendak dan pikiran 
pribadinya, melainkan dari sumber lain yang bukan dirinya sendiri. (Re: 
metafora Sufi di atas)

Saya sepakat bahwa kenyataan spiritual di tingkat-tingkat atas tidak dapat 
dipersepsikan oleh akal budi (pikiran), sehingga tidak bisa digambarkan dengan 
kata-kata. Itu sebabnya apa yang ada di sana saya sebut 'Yang Tak Dikenal'.

Pernyataan Anda bahwa "Manusia tidak akan bisa bersatu dengan Tuhan dalam dunia 
fana ini", juga merupakan OPINI Anda, yang berbeda dengan OPINI saya di atas.

Kalimat terakhir Anda semoga bisa menjadi bahan renungan bagi Anda pribadi.

Salam,
Hudoyo


At 02:37 PM 8/18/2006, "ISF" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>Salam Mas Hudoyo,
>Mungkin memang masih ada perbedaan persepsi terhadap akhir perjalanan 
>spiritual, karena saya masih berpendapat bhw perjalanan  spiritual tidak 
>pernah berujung, itulah mengapa saya katakan 'peran' sbg individu dibumi ini.
>Kalau saya tak salah menangkap maka maksud terakhir adalah penyatuan telah 
>runtuh, dimana hal tsb (mnt saya) bukan dari akhir, karena selama hayat masih 
>dikandung badan, tidak mungkin menghilangkan sisi manusiawi dalam setiap 
>manusia.
>Karena pemahaman tertingi spiritual tidak dapat ditangkap melalui logika akal, 
>tetapi logika spiritual, yg berarti hal ini tidak bisa digambarkan dalam kata2.
>Manusia tidak akan bisa bersatu dengan Tuhan dalam dunia fana ini (entah dalam 
>alam lain).
>Atau mungkin juga saya belum/tidak mampu utk pemahaman kesana, karena saya 
>tidak melihat apa yg digambarkan oleh anda.
> 
>salam
>isf 
>   
>----- Original Message ----- 
>From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio 
>Rekan Isf yg baik, 
>Menurut pemahaman saya, pengertian 'manunggaling kawula lan gusti' (hulul, 
>wihdatulwujud)  masih merupakan "separuh" perjalanan spiritual. Yakni baru 
>sampai tahap #2 di bawah ini: "Merealiasikan bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak 
>berbeda dengan 'aku', yang di luar tidak berbeda dengan yang di dalam." 
>Saya sependapat dengan Anda, bahwa di situ masih ada ego yang halus, nafs yang 
>luhur, yang MENYADARI kesatuannya dengan 'apa yang disadarinya sebagai Allah' 
>(bukan Allah yang sejati). Di situ pun perjalanan belum selesai, masih baru 
>separuh perjalanan. 
>Perjalanan spiritual baru tuntas ketika KESADARAN AKU&TUHAN runtuh, di mana 
>persepsi aku&Tuhan runtuh. Di situ tidak ada apa-apa lagi yang dikenal, tidak 
>ada lagi Tuhan, tidak ada lagi aku. (tahap #3) 
>Yang tinggal hanyalah "Yang Tak Dikenal". 'Yang Tak Dikenal' tidak berhubungan 
>dengan apa pun, tidak dengan "Allah yang dikenal", tidak pula dengan aku, 
>karena dua-duanya sudah runtuh. Itulah "Allah yang sejati". 
>Menurut hemat saya, keadaan batin yang terakhir ini bisa dialami oleh manusia 
>sekarang juga. Ini sama sekali tidak sukar, ASAL SAJA orang mau menyadari 
>aku-nya dari yang paling kasar sampai yang paling halus, yang merasa menyatu 
>dengan Allah, sampai si aku (dan kesatuannya dengan Allah) itu runtuh. 
>Dan kalau itu tercapai, orang akan menyadari bahwa itu adalah "pembumian" yang 
>sejati, yang tidak membuatnya berada di langit, melainkan akrab dengan apa 
>yang ada di muka bumi ini, kecuali dengan aku-nya yang sudah tidak ada lagi. 
>Salam, 
>Hudoyo 




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke