Rekan Isf yg baik,

Menurut pemahaman saya, pengertian 'manunggaling kawula lan gusti' (hulul, wihdatulwujud)  masih merupakan "separuh" perjalanan spiritual. Yakni baru sampai tahap #2 di bawah ini: "Merealiasikan bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak berbeda dengan 'aku', yang di luar tidak berbeda dengan yang di dalam."

Saya sependapat dengan Anda, bahwa di situ masih ada ego yang halus, nafs yang luhur, yang MENYADARI kesatuannya dengan 'apa yang disadarinya sebagai Allah' (bukan Allah yang sejati). Di situ pun perjalanan belum selesai, masih baru separuh perjalanan.

Perjalanan spiritual baru tuntas ketika KESADARAN AKU&TUHAN runtuh, di mana persepsi aku&Tuhan runtuh. Di situ tidak ada apa-apa lagi yang dikenal, tidak ada lagi Tuhan, tidak ada lagi aku. (tahap #3)

Yang tinggal hanyalah "Yang Tak Dikenal". 'Yang Tak Dikenal' tidak berhubungan dengan apa pun, tidak dengan "Allah yang dikenal", tidak pula dengan aku, karena dua-duanya sudah runtuh. Itulah "Allah yang sejati".

Menurut hemat saya, keadaan batin yang terakhir ini bisa dialami oleh manusia sekarang juga. Ini sama sekali tidak sukar, ASAL SAJA orang mau menyadari aku-nya dari yang paling kasar sampai yang paling halus, yang merasa menyatu dengan Allah, sampai si aku (dan kesatuannya dengan Allah) itu runtuh.

Dan kalau itu tercapai, orang akan menyadari bahwa itu adalah "pembumian" yang sejati, yang tidak membuatnya berada di langit, melainkan akrab dengan apa yang ada di muka bumi ini, kecuali dengan aku-nya yang sudah tidak ada lagi.

Salam,
Hudoyo

===============================
Dari: "ISF" <[EMAIL PROTECTED]>

salam Mas Hudoyo,
 
Saya memahamai maksud yg anda sampaikan, hanya saja pemahaman yg saya peroleh selama ini mengajarkan saya utk mem'bumi', sehingga saya menyampaikan pendapat tsb.
Ironisnya konsep 'manunggaling kawula gusti" yg anda sampaikan masih mengalami jarak dg pemahaman saya (mungkin saya perlu perjalanan lagi).
dasar pemikiran Kita butuh Tuhan, Tuhan tidak butuh kita, sehingga pada saat pengalaman puncak spiritual seperti yg anda sampaikan , saya memahaminya sebagai perwujudan ego yg secara halus, dimana hanya memikirkan sendiri (walaupun taraf ini hanya bisa dilalui sedikit orang setiap masanya).
Terlepas dari hal tsb, semua memang tergantung pada 'peran' setiap individu dimuka bumi ini.
 
salam
isf
 
----- Original Message -----
From: Hudoyo Hupudio
Sent: Friday, August 18, 2006 11:28 AM
Subject: [psikologi_transformatif] Re: TRUE COLORS
Salam kembali Rekan Isf,
Setelah membaca tanggapan Anda, terpaksa saya mengatakan bahwa terdapat perbedaan besar antara OPINI Anda dan OPINI saya mengenai PUNCAK perjalanan spiritual.
Tulisan saya dimulai dengan kalimat: "Menurut hemat saya, 'perjalanan spiritual', MULAI TITIK YANG SAYA URAIKAN ITU, merupakan perjalanan satu arah, yang tidak mungkin mundur kembali (no return):..."
Saya tidak tahu, apakah Anda membaca kalimat saya itu atau tidak, terutama yang saya beri huruf besar: "Mulai titik yang saya uraikan ..."
Tetapi menurut pendapat saya, tanggapan Anda itu baru menyentuh bagian yang masih "di bawah" dari titik yang saya uraikan, yakni tahap-tahap AWAL perjalanan spiritual. Kenapa saya katakan demikian? Karena dalam tanggapan Anda masih terdapat pengertian-pengertian seperti: 'pilihan', 'kebijakan', 'takdir', 'kehendak', 'perbedaan', 'laku', 'kebenaran yang kita pahami', 'suara hati', 'ego', 'perbedaan antara yang tak berhingga dan aku', 'aku menemukan dan melakukan pejalanan ... menerima takdir sesuai garis yang ditentukan oleh yang tak berhingga', 'seluruh perjalanan spiritual [adalah] menemukan kembali jalan yang telah hilang dan ditinggalkan'.

Rekan Isf, menurut PENDAPAT saya (yang berbeda dengan PENDAPAT Anda), semua PENGERTIAN-PENGERTIAN yang Anda tampilkan itu masih berada pada tataran sangat AWAL dari perjalanan spiritual.
Semua yang Anda katakan itu akan runtuh ketika orang mencapai apa yang sebut tahap #2 dan #3 dari perjalanan spiritual:
(2) Merealiasikan bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak berbeda dengan 'aku', yang di luar tidak berbeda dengan yang di dalam.
(3) Merealisasikan runtuhnya persepsi akan 'Yang Tak Berhingga' dan sekaligus persepsi akan 'aku' sama sekali.
Saya tidak tahu apakah Anda memahami ini atau tidak, tapi menurut PENDAPAT saya, dalam tahap #2 dan #3 itu runtuhlah semua pengertian-pengertian tentang "Sang Pencipta", "makhluk", "baik", "jahat", dan semua dualitas yang berasal dari situ. Tidak ada lagi pengertian Khalik dan makhluk.
Salam,
Hudoyo

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke