Salam kembali Rekan Isf,

Setelah membaca tanggapan Anda, terpaksa saya mengatakan bahwa terdapat 
perbedaan besar antara OPINI Anda dan OPINI saya mengenai PUNCAK perjalanan 
spiritual.

Tulisan saya dimulai dengan kalimat: "Menurut hemat saya, 'perjalanan 
spiritual', MULAI TITIK YANG SAYA URAIKAN ITU, merupakan perjalanan satu arah, 
yang tidak mungkin mundur kembali (no return):..." 

Saya tidak tahu, apakah Anda membaca kalimat saya itu atau tidak, terutama yang 
saya beri huruf besar: "Mulai titik yang saya uraikan ..."

Tetapi menurut pendapat saya, tanggapan Anda itu baru menyentuh bagian yang 
masih "di bawah" dari titik yang saya uraikan, yakni tahap-tahap AWAL 
perjalanan spiritual. Kenapa saya katakan demikian? Karena dalam tanggapan Anda 
masih terdapat pengertian-pengertian seperti: 'pilihan', 'kebijakan', 'takdir', 
'kehendak', 'perbedaan', 'laku', 'kebenaran yang kita pahami', 'suara hati', 
'ego', 'perbedaan antara yang tak berhingga dan aku', 'aku menemukan dan 
melakukan pejalanan ... menerima takdir sesuai garis yang ditentukan oleh yang 
tak berhingga', 'seluruh perjalanan spiritual [adalah] menemukan kembali jalan 
yang telah hilang dan ditinggalkan'.

Rekan Isf, menurut PENDAPAT saya (yang berbeda dengan PENDAPAT Anda), semua 
PENGERTIAN-PENGERTIAN yang Anda tampilkan itu masih berada pada tataran sangat 
AWAL dari perjalanan spiritual. 

Semua yang Anda katakan itu akan runtuh ketika orang mencapai apa yang sebut 
tahap #2 dan #3 dari perjalanan spiritual:

(2) Merealiasikan bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak berbeda dengan 'aku', yang 
di luar tidak berbeda dengan yang di dalam. 
(3) Merealisasikan runtuhnya persepsi akan 'Yang Tak Berhingga' dan sekaligus 
persepsi akan 'aku' sama sekali.

Saya tidak  tahu apakah Anda memahami ini atau tidak, tapi menurut PENDAPAT 
saya, dalam tahap #2 dan #3 itu runtuhlah semua pengertian-pengertian tentang 
"Sang Pencipta", "makhluk", "baik", "jahat", dan semua dualitas yang berasal 
dari situ. Tidak ada lagi pengertian Khalik dan makhluk.

Salam,
Hudoyo

============================================
At 02:15 AM 8/18/2006, "isf" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Salam Mas Hudoyo,
 
Perjalanan spiritual menurut saya merupakan pilihan pada awalnya, dimana pd 
setiap manusia mempunyai keterbatasan dalam komunikasi vertikal (kearah 
ketuhanan) maupun horizontal (keghaiban, koridor duniawi). Karena manusia slalu 
punya pilihan atas kebijakan mengenai hidup yg diambil, sekaligus berkolerasi 
dg takdir.
Kalau menurut uraian Mas Hudoyo, mungkin memasuki kategori horizontal menuju 
vetikal, dimana tahapan yg diuraikan masih ada kelanjutannya.
 
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio wrote;
(1) 'Yang Tak Berhingga' mengajak 'aku' keluar dari 'diri-aku' dan menyapanya.
 
 
isf;
Dalam filosofi jawa dikenal dg istilah papat kelima pancer, saat proses tsb 
berjalan dalam konteks papat, dimana perkenalan dengan 'saudara bathin', yg 
merupakan refleksi dari keseluruhan sifat manusiawi kita yg diterjemahkan dalam 
4 saudara bathin.
 
 
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio wrote;
(2) Merealiasikan bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak berbeda dengan 'aku', yang 
di luar tidak berbeda dengan yang di dalam.
 
isf;
dalam hal kehendak, maka akan terjadi perbedaan, tergantukng 'laku' kita apakah 
sesuai dg 'kebenaran' yg kita pahami, apakah suara hati kita dengar atau 
berbenturan dg ego.
 
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio wrote;
(3) Merealisasikan runtuhnya persepsi akan 'Yang Tak Berhingga' dan sekaligus 
persepsi akan 'aku' sama sekali.
isf;
yang tak berhingga akan tetap tak terhingga, 'aku' telah mengalami pertemuan dg 
jalan yg tak terhingga.
 
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio wrote;
Sesampai di tahap #3, tidak ada apa-apa lagi, tidak ada 'aku', tidak ada 
pikiran yang berasal dari 'aku', bahkan tidak ada persepsi akan 'ruang' dan 
'waktu'. Yang tinggal hanyalah 'Yang Tak Dikenal'. 'Yang Tak Dikenal', karena 
tak dikenal, BUKANLAH 'Yang Tak Berhingga'. 
isf;
'aku telah menemukan dan melakukan perjalanan secara kodrati menerima takdir 
sesuai garis yg ditentukan 'yg tak terhingga'.
 
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio wrote;
Menurut hemat saya, seluruh 'perjalanan spiritual' adalah perjalanan menuju 
'Yang Tak Dikenal'. Namun, sesampai di situ akan disadari bahwa sesungguhnya 
tidak ada jalan, dan tidak ada [aku] yang berjalan. 
 
isf;
seluruh 'perjalanan spiritual' menemukan kembali jalan yg telah 'hilang' dan 
ditinggalkan, serta mengalami proses pembelajaran dan pendewasaan agar tercapai 
pemahaman yg bisa diterima logika akal sbg wujud telah berfungsinya logika 
spiritual.
 
----- Original Message -----  
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Hudoyo Hupudio 
Newsgroups: soc.culture.indonesia 
To: <mailto:Recipient list suppressed:>Recipient list suppressed: 
Sent: Thursday, August 17, 2006 6:17 AM 
Subject: [SP] Re: TRUE COLORS 
Rekan Riza, boleh saya bertanya: apakah yang Anda katakan itu pengalaman batin 
Anda pribadi, ataukah Anda menggunakan referensi dari seseorang atau 
orang-orang yang Anda anggap sudah mengalaminya/melihatnya? 
Kalau yang belakangan, bolehkah saya tahu referensi Anda? 
Mungkin kita masing-masing mengacu kepada dua hal yang berbeda. Ini harus 
diklarifikasikan lebih dulu. 
Menurut hemat saya, 'perjalanan spiritual', mulai titik yang saya uraian itu, 
merupakan perjalanan satu arah, yang tidak mungkin mundur kembali (no return): 
(1) 'Yang Tak Berhingga' mengajak 'aku' keluar dari 'diri-aku' dan menyapanya. 
(2) Merealiasikan bahwa 'Yang Tak Berhingga' tidak berbeda dengan 'aku', yang 
di luar tidak berbeda dengan yang di dalam. 
(3) Merealisasikan runtuhnya persepsi akan 'Yang Tak Berhingga' dan sekaligus 
persepsi akan 'aku' sama sekali. 
Sesampai di tahap #3, tidak ada apa-apa lagi, tidak ada 'aku', tidak ada 
pikiran yang berasal dari 'aku', bahkan tidak ada persepsi akan 'ruang' dan 
'waktu'. Yang tinggal hanyalah 'Yang Tak Dikenal'. 'Yang Tak Dikenal', karena 
tak dikenal, BUKANLAH 'Yang Tak Berhingga'. 
Menurut hemat saya, seluruh 'perjalanan spiritual' adalah perjalanan menuju 
'Yang Tak Dikenal'. Namun, sesampai di situ akan disadari bahwa sesungguhnya 
tidak ada jalan, dan tidak ada [aku] yang berjalan. 
Salam, 
Hudoyo






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke