bagaimana kalo diskusinya diimulai dgn mendefinisikan "penduduk aseli"...krn
dr beberapa konsep mengenai indigenous people, local community, dlsb, bila
diterapkan dgn tdk hati- hati maka seorang pengusaha HPH bisa disebut
"penduduk asli". Identifikasi karakteristik juga merupakan bagian dari
konsep penduduk asli. Oh iya buat rekan Djamal dan indhie, seberapa besar
kerusakan yg ditimbulkan oleh "penduduk asli" yg biasanya mempunyai
teknologi dan modal sederhana dibandingkan "orang luar" dgn modal kuat,
teknologi maju dan tenaga kerja / buruh dari daerah tsb/luar ? barangkali
bisa dijelaskan dari Newsweek , apakah ada alasan mengapa mereka melakukan
seperti itu, apakah tdk krn adanya stimulasi dari luar seperti penawaran
peralatan ( chainsaw), iming- iming bahan ekonomi tertentu, barter, dsb
sehingga "penduduk asli" tsb melakukannya. Kalo melihat contoh diKalimantan
yg dikemukakan saya duga itu didaerah Kalbar yach ? Dgn adanya intervensi
Salim Group utk mengembangkan dua komoditi itu dan didukung pemda setempat.
tapi hati- hati ach...banyak juga disana transmigran yg sdh puluhan tahun,
buruh gagal yg terdesak, tenaga kerja pendatang.....atau di kaltim...orang
bugis = penduduk asli ? dari beberapa survey saya , mereka koq tetep punya
motherland didaerah Sulawesi, mereka menganggap tanah kalimantan sbg tempat
usaha....
> -----Original Message-----
> From: Nenny R Babo [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Friday, May 19, 2000 8:49 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [envorum] Penduduk asli dan kerusakan lingkungan
>
> Saya percaya banyak kasus kerusakan lingkungan ulah penduduk asli, namun
> tidak sedikit pula penduduk asli berperan penting dalam mengamankan
> lingkungan. Berbagai hasil riset yang telah dipublikasikan menyokong kedua
> kasus yang dibicarakan. Kalau begitu perlu diidentifikasi karakteristik
> masyarakat asli (indigenous people) tersebut karena dengan pemahaman
> secara
> mendalam tentang hal ini, intervensi yang diusulkan Indira Satria akan
> lebih
> mengena sasaran.
> Nenny Babo
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Indira Satria <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Wednesday, May 03, 2000 10:22 PM
> Subject: Re: [envorum] Penduduk asli dan kerusakan lingkungan
>
>
> >
> >Sangat banyak kasus perusakan lingkungan yang dilakukan oleh penduduk
> >asli. Kalau tertarik mengenai masalah ini, bisa baca The Nature of
> >Development,Stone.
> >Pengrusakan lingkungan terutama disebabkan oleh ledakan penduduk yang
> >tidak disertai penigkatan sumber makanan dan poverty.. akhirnya penduduk
> >asli itu mengeksploitasi lingkungan tanpa mengingat regenerasi sumber
> daya
> >alam.
> >Untuk mengatasi perusakan lingkungan seperti itu dibutuhkan:
> >- non formal education - creating awareness utk meningkatkan hasil
> >produksi alam dan menjaga kelestarian sumber produksi alam tersebut
> >- hal ini terutama dibutuhkan utk wanita.. karena pada daerah-daerah tsb
> >pada umumnya tkt pendidikan wanita (dan secara umum pemberdayaan wanita)
> >nya kurang
> >- stimulasi perekonomian
> > - hal ini dapat berupa intervensi dari luar,
> > seperti teknologi yang dapat meningkatkan hasil produksi dan regenerasi
> > sbr alam
> > - perbaikan transportasi
> > - management
> > - dll
> >- capacity building masyarakat setempat, dapat berupa stimulasi
> >koperasi..
> >
> >Keberadaan organisasi lokal akan sangat membantu dalam usaha-usaha di
> >atas.
> >
> >wass,
> >Indhie
> >
> >
> >On Thu, 18 May 2000, Nenny R Babo wrote:
> >
> >> Saya sangat setuju topik diskusi yang diusulkan rekan Jamal M.Gawi.
> >> nenny babo
> >> ----- Original Message -----
> >> From: Jamal M. Gawi <[EMAIL PROTECTED]>
> >> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> >> Sent: Tuesday, May 02, 2000 11:08 PM
> >> Subject: [envorum] Penduduk asli dan kerusakan lingkungan
> >>
> >>
> >> Rekan sekalian,
> >>
> >> Saya membaca pada Newsweek edisi 27 Maret 2000, bahwa penduduk Indian
> di
> >> Brazil bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hutan dan
> kawasan
> >> lindung.
> >>
> >> Dalam buku "The Green History of The World" hal yang sama juga jelas
> >> diceritakan.Banyak kebudayaan besar dunia musnah karena tidak arif
> >> berhubungan dengan lingkungannya.
> >>
> >> Sementara itu dalam sebuah hasil penelitian di Nicaragua tentang
> sistem
> >> penggunaan lahan di pingging hutan, malah dikatakan bahwa usaha untuk
> >> membuat petani lebih makmur akan menyebabkan deforestasi semakin besar.
> >>
> >> Masih dalam Newsweek di atas, seorang antropologist Brazil malah
> mengatakan
> >> bahwa "tidak satupun penduduk asli (indigenous people)
> >> di Amerika yang "prevertionist".
> >>
> >> Hal yang sama juga saya dengar(?) terjadi di Kalimantan, banyak
> penduduk
> >> asli yang menebang hutan untuk dijadikan kebun sawit atau karet (?).
> >>
> >> Saya pikir topik ini cukup menarik untuk kita diskusikan, mengingat
> selama
> >> ini wacana yang berkembang bahwa penduduk asli sangat arif berhubungan
> >> dengan lingkungan.
> >>
> >> Thanks,
> >> Jamal M. Gawi
> >> Cohort-4
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> ---------------------------------------------------------------------
> >> Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> >> Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> >> Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
> >>
> >>
> >
> >
> >---------------------------------------------------------------------
> >Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> >Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> >Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
> >
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]