betullllllllllll
saya juga pengen nyoba ah kotekanya silirrrrrrr

----------
> From: Nuri Soeharto <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [envorum] Papua Merdeka dan Pemanfaatan SDA
> Date: Tuesday, June 06, 2000 9:24 AM
> 
> : Adalah sesuatu yang tidak 'fair' apabila setelah melewati lima dasa
warsa di
> : dalam menikmati kemerdekaan orang di Jakarta sibuk mengejar gaya hidup
ala
> : amerika (nike - adidas, sepatunya; ala paris  parfumnya; rolex
arlojinya;
> : dsb.dsb) sedangkan saudara kita di Papua masih banyak yang memakai
koteka.
> 
> Buat saya, yang tidak 'fair' adalah pemikiran bahwa koteka tidak 'pantas'
> dipakai di masa kemerdekaan. Kenapa ada pemikiran bahwa 'kemajuan' adalah
> sesuatu yang 'seperti' kita? Kalau mereka memang lebih berbahagia dengan
koteka,
> kalau mereka memang lebih 'merdeka' dengan koteka.. kenapa kita harus
ribut
> dengan konsep 'kemerdekaan' dan 'kemajuan' yang ada di pikiran kita orang
> Jakarta? Kenapa kita harus memaksakan konsep 'kemerdekaan' dan 'kemajuan'
kita
> pada mereka?
> 
> Itu yang selama ini kita kerjakan. Kita paksakan rumah-rumah sederhana
dengan
> tembok-tembok dan jendela-jendela besar untuk ventilasi, karena
memaksakan
> konsep 'rumah sehat' untuk menggantikan gubuk-gubuk mereka yang gelap
tanpa
> jendela. Kita tidak pernah berpikir dan mempelajari (atau bahkan tidak
peduli)
> kepercayaan mereka akan lubang di dinding rumah (jendela) sebagai tempat
> masuknya roh-roh jahat. Kita tidak tahu kebiasaan mereka untuk selalu
berada
> dekat dengan kebun penghasil makannya sehari-hari hingga rumah-rumah itu
kita
> bangun jauh dari ladang. Kita tidak pernah bertanya konsep mereka tentang
> 'kompleks' perumahan, langsung saja menyajikan konsep 'kompleks' yang ada
di
> kepala kita.
> 
> Dan kalau semua sudah berdiri, kita bangga memperlihatkan pada semua
orang bahwa
> kitalah yang memiliki ide dan membangun rumah-rumah 'sehat' itu. Kita
> beritahukan semua orang bahwa rakyat daerah lokal sana berjejal-jejal
> menyaksikan peresmian 'kompleks' dengan penuh 'antusias'. Sekembalinya
dari
> sana, kita sibuk dengan pekerjaan 'humanisme' lain di tempat lain. Tidak
peduli
> 'aftercare' yang seharusnya dilakukan. Tidak peduli. Pokoknya, proyek
sudah
> selesai. Uang sudah di tangan. Jabatan sudah naik. Titik.
> 
> Saya selalu merasa, bahwa kemerdekaan yang diminta rekan-rekan di daerah
lain
> adalah kemerdekaan dari penjajahan pemikiran dan perlakuan bahwa kita
lebih baik
> dari mereka. Siapakah kita yang selalu memaksakan pemikiran dan perlakuan
kita
> pada orang lain seakan kita lebih tahu dari mereka? Siapakah kita yang
merasa
> jaya di rumah sendiri, lalu memberlakukan pemikiran dan aturan kita itu
di rumah
> orang lain?
> 
> Yang saya dengar, kongres di Papua itu didanai oleh Gus Dur.
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
> 

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke