: Adalah sesuatu yang tidak 'fair' apabila setelah melewati lima dasa warsa di
: dalam menikmati kemerdekaan orang di Jakarta sibuk mengejar gaya hidup ala
: amerika (nike - adidas, sepatunya; ala paris  parfumnya; rolex arlojinya;
: dsb.dsb) sedangkan saudara kita di Papua masih banyak yang memakai koteka.

Buat saya, yang tidak 'fair' adalah pemikiran bahwa koteka tidak 'pantas'
dipakai di masa kemerdekaan. Kenapa ada pemikiran bahwa 'kemajuan' adalah
sesuatu yang 'seperti' kita? Kalau mereka memang lebih berbahagia dengan koteka,
kalau mereka memang lebih 'merdeka' dengan koteka.. kenapa kita harus ribut
dengan konsep 'kemerdekaan' dan 'kemajuan' yang ada di pikiran kita orang
Jakarta? Kenapa kita harus memaksakan konsep 'kemerdekaan' dan 'kemajuan' kita
pada mereka?

Itu yang selama ini kita kerjakan. Kita paksakan rumah-rumah sederhana dengan
tembok-tembok dan jendela-jendela besar untuk ventilasi, karena memaksakan
konsep 'rumah sehat' untuk menggantikan gubuk-gubuk mereka yang gelap tanpa
jendela. Kita tidak pernah berpikir dan mempelajari (atau bahkan tidak peduli)
kepercayaan mereka akan lubang di dinding rumah (jendela) sebagai tempat
masuknya roh-roh jahat. Kita tidak tahu kebiasaan mereka untuk selalu berada
dekat dengan kebun penghasil makannya sehari-hari hingga rumah-rumah itu kita
bangun jauh dari ladang. Kita tidak pernah bertanya konsep mereka tentang
'kompleks' perumahan, langsung saja menyajikan konsep 'kompleks' yang ada di
kepala kita.

Dan kalau semua sudah berdiri, kita bangga memperlihatkan pada semua orang bahwa
kitalah yang memiliki ide dan membangun rumah-rumah 'sehat' itu. Kita
beritahukan semua orang bahwa rakyat daerah lokal sana berjejal-jejal
menyaksikan peresmian 'kompleks' dengan penuh 'antusias'. Sekembalinya dari
sana, kita sibuk dengan pekerjaan 'humanisme' lain di tempat lain. Tidak peduli
'aftercare' yang seharusnya dilakukan. Tidak peduli. Pokoknya, proyek sudah
selesai. Uang sudah di tangan. Jabatan sudah naik. Titik.

Saya selalu merasa, bahwa kemerdekaan yang diminta rekan-rekan di daerah lain
adalah kemerdekaan dari penjajahan pemikiran dan perlakuan bahwa kita lebih baik
dari mereka. Siapakah kita yang selalu memaksakan pemikiran dan perlakuan kita
pada orang lain seakan kita lebih tahu dari mereka? Siapakah kita yang merasa
jaya di rumah sendiri, lalu memberlakukan pemikiran dan aturan kita itu di rumah
orang lain?

Yang saya dengar, kongres di Papua itu didanai oleh Gus Dur.


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke