Sebagai pemain saham saya merasa terhina atas atas tuduhan yang
dilakukan Pak Gun ini, karena ini memalukan korps pemain
saham.....hehehehehe......

Kalau cuman cerita kayak gitu sih, baca aja di Majalah Popular
banyak. Yang didebatkan adalah kerangka etisnya, bukan generalisasi
permasalahan, jadi sifatnya disini kasuistis.  Yang menjadi pusat
perhatian adalah wanita sebagai korban, apakah dengan yang dialami
Ibu Kira ini, kemudian Ibu Kira mengalami kegagalan finansial, kalau
ini yang terjadi adalah sebuah kejahatan atas komitmen. Itu yang
harus dilihat bukan sekedar masalah statistik. Kalau mau menimpakan
ke permasalahan statistik sih, lebih parah lagi. Ingat nggak
semboyan populer Majalah Djakarta-Djakarta jaman jebot dulu :

"Dua dari Tiga Lelaki di Jakarta Berselingkuh"

Tapi ucapan Pak Gun, sudah masuk ke dalam penghinaan yang luar biasa
atas kaum perempuan, lupa kali ya Pak Gun ini punya ibu yang juga
wanita dan punya perasaan sama dengan wanita-wanita lain. Pihak
Jurnal Perempuan bisa mengejar pernyataan Pak Gun itu tentang
Statistik awal yang katanya tidak dipublikasikan namun bagi saya itu
ketidakmampuan Pak Gun saja dalam menunjukkan keberadaan datanya,
atau kalau memang tidak bisa menunjukkan itu, maka bolehlah Pak Gun
itu melakukan kebohongan publik.

Yang jadi permasalahan wanita Indonesia dalam tataran akar rumputnya
adalah perjuangannya dalam merebut posisi kesetaraan kapital dan
kesetaraan peran sosial, ini yang harus menjadi pusat perhatian.
Bila ada keseimbangan kapital dan kesetaraan kelas maka kasus Ibu
Kira saya rasa bisa diselesaikan dengan baik, tapi kadang-kadang
pihak yang memiliki kekuatan kapital lah yang kerap merugikan pihak
yang gagap kapital. Di Indonesia, jujur saja penguasaan kapital
dihegemoni kaum laki-laki.

Coba Jurnal Perempuan mengklarifikasi data dari Pak Gun dengan
permintaan resmi pada dirinya untuk mencari akses statistik itu,
karena kasus ini sungguh menarik untuk diangkat sebagai realitas
sosial, bila Pak Gun tidak bersedia memberikan akses terhadap data
yang ia bicarakan. Maka kita akan tahu sampai mana kualitas orang
ini.

ANTON

(Ngomong-ngomong bapak Gun tau nama artisnya itu, lumayan tuh buat
gossip infotainment)

> -----Original Message-----
> From: guntoro soewarno <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Date: Sun, 6 Jan 2008 00:40:55
> To:[email protected]
> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Garuda melindungi
perselingkuhan????
>
>
> salam
>
>  kalau saya analisis, rata2 dari kita ini masih munafik, emosional
dan tidak rasional. Pada sok suci, teriak-teriak menentang
perselingkuhan tapi sebenarnya doyan banget main perempuan. Apakah
orang munafik seperti ini salah? menurut saya belum tentu juga. Dia
melakukan itu pasti ada sebabnya.
>
>  saya sebenarnya ingin membantah bahwa rata2 kasus perselingkuhan
selalu yang disalahkan lelakinya. Apalagi yang teriak2 adalah mereka
yang sok pejuang jender. (Saya pernah menghitung dari 10 orang yang
menonjol memperjuangkan isu jender 7 di diantaranya terkena problem
keluarga, tidak harmonis sengan suami, pernah disakiti dalam hal
percintaan), menilik ini saya juga menjadi paham, kenapa para
pejuang jender itu selalu berteriak lantang tanpa melihat problem
mendasarnya. sedikit2 main hukum, Komnas Perempuan dan omong kosong
yang lain.
>
>  Ini fakta yang saya dengar langsung dari cerita kawan saya. Dia
adalah seorang pemain saham. Nyaris dia sudah bebas finansial. Satu
saat dia telp saya dan mengatakan,''Anda sudah melihat di satu
majalah soal wanita ada 17 wanita yang masuk nominasi untuk satu
award.'' Saya bilang, lalu apa kaitannya. jawabnya, setelah saya
perhatikan,''Hanya 3 orang yang belum saya pakai.'' Saya tahu bener
dia punya isteri yang super cuantiik. terpelajar. Kaya. Sangat seksi
dalam berpakaian. Tapi kenyataannya, 13 orang di luar isterinya
pernah digauli.
>
>  satu kawan seprofesi saya di kantor juga sering pusing akibat
sering diajak selingkuh oleh perempuan yang sudah bersuami. Ada
seorang ibu rumah tangga yang membiarkan saja suaminya berselingkuh.
asalkan, Jangan sampai menikah.!
>
>  cerita itu adalah realitas sosial yang hidup di lingkungan kita.
Realitas kemunafikan yang sok memandang agung perempuan dan
menafikan kebutuhan biologis sebagai sesuatu yang tidak penting.
>
>  Jadi, siapapun, tidak usah sok suci, sok jender, sok empati. Mari
jujur dan realistis bahwa wilayah sosial kita itu sekarang banyak
yang 'sakit'.
>
>  Tentu saya sangat berempati dengan kasus ini, makanya saya beri
komentar. Soal statistik, sebenarnya juga tai kucinglah sama
statistik. toh sekarang statistik bisa dibeli, sebagaimana bisnis
yang dilakukan Deny JA dengan Lingkar Surveynya. Statistik yang saya
angkat adalah hasil riset satu instansi pemerintah yang batal
dipublikasikan akibat takut bakal muncul polemik.
>
>  Data ini mudah sekali didapat karena saat riset satu tahun lalu,
tokoh2 statistik, BPS dan sebagainya banyak yang terlibat. Makanya
banyak gaul dong agar bisa dapet data2 eksklusif seperti ini. kalau
saya beberin semua, bisa lebih heboh lagi. saya ambil contoh,
ternyata mayoritas responden laki-laki (90%), mau melakukan
poligami, padahal mayoritas responden bukan orang Islam...nah loh
>
>  guntoro soewarno
>  pemerhati lelaki



Kirim email ke