Kalau begini logikanya, sangat bisa dipahami dalam setiap persoalan lapangan kerja MASALAH selalu ditimpahkan ke kelompok paling bawah (marjinal), yaitu buruh di tingkat upah terendah (upah minimum yg belum mencapai kondisi hidup layak / KHL versi BPS)
Sistem dan Kultur bukankah output kepemimpinan? Masalah di Amerika bukankah karena rakyatnya merasa ada yang salah dari Bush, sehingga Mc Cain & Republik kena imbasnya? Negara yg besar, memiliki sejarah kebangkitan dari kepemimpinan yang efektif.. AS keluar dari Depresi 1929 setelah FDR memimpin sistem new deal dengan ruh kultur 'concerned citizens think out of the box' yang dimulai dari pemimpin. Jepang bangkit dengan Restorasi Meiji yang di-Arsitek sang Kaisar Meiji.. Cina paska Tianamen memulai perubahan dengan industrialisasi sang PM (Zu Rongji) dibawah back up kharisma Deng Xioping.. Indonesia memiliki masa-masa berkarakter di bawah Bung Karno - Bung Hata dan menumbuhkan ekonomi (meski distosi dr sisi nation developing)dg stabilitas dr cara Soeharto (terlepas dari plus minusnya dan penyakit kultural yg diwariskan) Dari plusnya tentang Karakter dan Stabilitas, maka kepemimpinan Inndonesia ke depan harus efektif di akar (karakter - stabilitas) dan efisien di implementasi (pemerataan pembangunan) serta ekonomis di hasil (kesejahteraan kolektif). Saya rasa tatkala seorang merasa percaya diri akan menjadi Presiden di negara demokratis yang berada di transisi sistem ekonomi, maka dia sudah harus penya jawaban how to implementasi kepemimpinan yang efektif, efisien dan ekonomis (tesis ini tidak hanya untuk SBY, tapi juga tokoh lainnya yang menyatakan layak jadi Pemimpin negeri).. berilah rakyat inspirasi bukan keluh kesah yang menteladani.. Selamat Iedul Adha bagi yang merayakannya Salam, Yanuar Rizky [EMAIL PROTECTED] www.elrizky.net On 12/6/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/03/00210016/presiden.kepemimpinan.tidak.bisa.atasi.semua > > > Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, > kepemimpinan adalah faktor penting dan kunci upaya mengatasi persoalan > di suatu negara. Namun, Presiden mengingatkan, ada sejumlah faktor > lain yang tidak bisa diatasi hanya dengan kepemimpinan. > > "Jangan seolah-olah dianggap kepemimpinan can do everything, can do > many things, can do a lot of things. Kepemimpinan saja tidak bisa > selesaikan semuanya dengan banyak sekalinya faktor. Meskipun demikian, > saya setuju kepemimpinan sangat penting dalam kehidupan apa pun, > termasuk dalam politik," ujar Presiden pada pengarahan Program > Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) Ke-42 Lembaga Ketahanan Nasional di > Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/12). > > Presiden menyebut, faktor lain untuk bisa mengatasi semua masalah > adalah sistem, nilai dan kultur, tingkat kompleksitas permasalahan > yang dihadapi, situasi, serta faktor eksternal atau luar negeri. Ia > ingin menunjukkan, masalah yang kini dihadapi Indonesia cukup banyak > faktornya, bukan hanya kepemimpinan. > > "Kita lihat Thailand saat ini, apakah masalahnya kepemimpinan? Amerika > Serikat apakah masalahnya kepemimpinan sehingga ekonominya runtuh. Ada > suasana yang tidak disadari," ujarnya. > > Arahan Presiden disampaikan kepada 90 peserta PPRA Ke-42 untuk > menanggapi hasil seminar mereka tentang peningkatan kualitas sistem > kepemimpinan tingkat nasional guna mendukung penyelenggaraan negara > dalam rangka pencapaian tujuan nasional. PPRA Ke-42 Lemhannas > berlangsung selama sembilan bulan sejak 11 Maret 2008. > > Presiden tak memungkiri, kepemimpinan itu urusannya adalah tanggung > jawab. Karena itu, untuk setiap keputusan yang telah > ditandatanganinya, Presiden mengaku, risiko sepenuhnya berada di > pundaknya. (INU) > > > >
