1. Lha, Anda tahu ada FPDA (Five Power Defence Agreement -- jadi 5 negara, plus Inggris, bukan 4), kenapa gagasannya membuat rudal, memasang di perbatasan dan mengarahkannya ke Malaysia/Singapura? Apa ga akan mengundang militer Inggris, Australia dan Selandia Baru mengarahkan senjatanya ke Indonesia? Kalau sudah begini, ketegangan kawasan akan meningkat. Apa ini yang Anda inginkan? Siapa yang untung dari ketegangan ini?
2. Pakta pertahanan FPDA itu memang sebuah fakta, namun apakah itu dibuat memang ditujukan buat Indonesia? Apakah pakta ini similar dengan NATO atau Pakta Warsawa di masa perang dingin? Lalu mengapa negara-negara anggotanya juga menjalin kerjasama militer dengan Indonesia (walau bukan berupa pakta pertahanan)? 3. Menurut saya deterrence theory itu sudah usang karena teori itu memang dikembangkan masa perang dingin. Jika mau berpikir konspiratif gaya intelejen, tidakkah Anda juga berpikir bahwa teori semacam itu memang sengaja dibuat sebagai alas pembenar bagi disediakannya anggaran pengadaan dan pergelaran peluru kendali dua raksasa dunia di berbagai negara masa perang dingin itu? Padahal seperti Anda katakan, dipake juga ngga tuh ^.^ AS-US sekarang dengan perjanjian START malah harus keluar biaya lagi untuk mengurangi rudal2nya yang ngga pernah kepake itu. Apakah kita akan begitu? 4. Jika untuk menjaga wilayah perairan dan pulau terdepan, tidakkah yang dibutuhkan adalah armada kapal yang kuat? Jadi bukan rudal toh? Salam, ________________________________ Dari: pudimartini <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 6 Agustus, 2009 19:46:58 Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Tahun 2014, Indonesia Punya Roket Peluncur Satelit Rudal perangndingin sudah dibahas oleh yang lain bahwa tidak pernah akan dilakukan karena mereka hanya untuk saling adu posisi. Mengapa ada traktat perthanan 4 negara itu dimana Indonesia yang ada ditengahnya tidak tercantum? Karena mereka teragbung dalam negara persemakmuran, benarkajh argumentasi itu? padahal Malay dan Spore tergabung dalam Asean. Pertanyaan: ada apa? Ada apa pula pengadilan Spore dengan segala cara membenarkan David bunuh diri kalau memang tidak punya tujuan tertentu, katanya ASEAN. Bagaimana pula dengan Malay yang aresif di Ambalat, katanya ASEAN? Disatu sisi ingin membentuk Asean Community atau Asean Regional Forum namun disisi lain mengepung dan bahkan memperkuat angkatan udaranya secara luiar biasa. Ada apa? Jadi, ini bukan ICBM, ttp soal roket buatan sendiri untuk menunjukkan integritas dan kehormatan bangsa. Anda luar biasa telah sampai di Natuna dan mengibarkan bendera disana. tentu memahami benar pada saat disana bagaimana pulau terpencil yang kaya sda tersebut rawan rebutan. China so far masih diam. Lihat Posisi Natuna dengan Semenanjung dan Kalimantan Utara. Kalau Malay berani dengan Ambalat karena cekungan minyak itu, bagaiman dengan Natuna? Soal perjanjian dengan Ausi yang alot sampai Pak Harto mengutus utusan khusus ke Pak Johanes yang selalau bersiul juga karena cekungan minyak disalah satu blok yang lebih besar. Semakin lemah perthanan bangsa ini, in term of persenjataannya maka semakin akan semakin lemah posisi tawarnya. Itu argumentasi saya dan sudah didukung oleh argumentasi soal Swedia. Memeprkuat pertahanan adalah untuk damai. Jadi, terlalu jauh kalau menganalogikan dengan perang ideologi antara USA dan Rusia yang menjadi perangndingin itu.. Btw, kapal selam asing yang lewat P Jawa dan by accident terpaksa muncul itu, serta kasus F16 yang head to head dg AU asing tentu bisa dimaknai sebagai sebuah pelecehan , termasuk kapal Malay di Ambalat itu. Bayangkan seandainya kita bisa menjaga seluruh perairan dalam kita dengan baik. Ausi atau NZ yang akan ke Malay atrau Spore atau kapal2 lain harus melewati Indonesia (3 pelayaran internasional) terpaksa harus melingkar atau mengeluarkan biaya lebih besar bila Indonesia memalaknya atau ada konfrontasi dengan Indonesia. Gitu Pak..... Maka, pemimpin Indonesia yang disenangi adalah yang tidak agresif, karena berbahaya bagi kawasan lingkungannnya. Berita Kompas hari ini memuat tentang Pulau-Pulau terluar Indonesia yang rawan perbatasan. salam
