Relokasi? Ya jelas tidak mau: Alasan mereka , tempat itu tidak banyak pengunjungnya. Mereka memang berdagang di kaki lima karena mereka tahu orang Indonesia ingin yang enak-enak saja: untuk apa masuk ke pasar kalau begitu turun dari angkot bisa belanja? Untuk apa masuk ke toko kalau di depan toko ada yang lebih murah (karena tidak bayar pajak). DAN YANG DUA INILAH KEUNGGULAN MEREKA. Anda mau, keunggulan Anda ditiadakan?
[Dalam kasus lain, untuk apa jalan sedikit masuk gang atau jalan samping kalau ojek berkerumun di tempat turun angkot? Akibatnya persimpangan jadi macet bahkan turun dari angkot pun susah, persis di kampung saya yang untuk berak pun susah karena anjing dan babi sudah berkerumun untuk melahap yang (Hangat-hangat! Fresh from . . .) dan yang sangat dinanti-nanti. ] Mereka berdagang di kaki lima, terlebih-lebih badan jalan, telah menjarah waktu dan kenyamanan pejalan kaki yang lewat dan mengurangi pendapatan negara dari sektor pajak yang menjadi hak warga lain. Masih SANGAAAAAAAT lebih banyak orang miskin yang memerlukan usaha daripada segelintir orang miskin yang punya nyali untuk menjadi penjarah ini. Jadi penjarah harus dibasmi dari tempat-tempat yang tadinya diperuntukkan buat keperluan umum dan ini sesuai dengan ajaran Nabi saw. [Lihat di Simpang Bogor, Jatinegara. PKL yang menjual cacing makanan ikan menggunakan seperlima badan jalan dan para pembeli yang kebanyakan pengendara motor menyerobot jalan lagi sehingga untuk PKL dan pembeli sepertiga badan jalan telah dihambat yang menjadi leher botor di tempat itu. Beberapa kali direlokasi, tetapi muncul lagi demi KEUNGGULAN di atas. Jadi, jangan hanya nonton di TV tetapi cobalah jalan-jalan ke tempat itu agar Anda dapat merasakan betapa para pejalan kaki tidak dianggap manusia oleh setan jalanan dan PKL. Siapa yang memberi wewenang kepada mereka untuk menzalimi pejalan kaki? Wardah Hafidz? Preman? Oknum Kelurahan? Mafia?] Sebetulnya ada cara yang jauh lebih efektif untuk membasmi PKL ini dan sudah diterapkan oleh petugas Tibum di Medan. Para petugas tidak perlu otot-ototan dengan PKL. Petugas cukup membawa semprotan yang diisi dengan minyak tanah. Semprotan minyak tanah ini sangat efektif untuk PKL penjual makanan karena pasti tidak laku dijual lagi. Dengan demikian Tibum tidak memerlukan truk untuk mengangkut dagangan para PKL. Zul --- On Sat, 10/10/09, bakri arbie <[email protected]> wrote: From: bakri arbie <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] PENGGUSURAN di KOTA To: [email protected] Cc: "arbie bakri" <[email protected]> Date: Saturday, October 10, 2009, 3:10 AM --- On Sat, 10/10/09, aditya_salya@ yahoo.com <aditya_salya@ yahoo.com> wrote: From: aditya_salya@ yahoo.com <aditya_salya@ yahoo.com> Subject: Re: [AlumniPrancis] Fw: Re: [Forum-Pembaca- KOMPAS] PENGGUSURAN di KOTA To: AlumniPrancis@ yahoogroups. com Date: Saturday, October 10, 2009, 2:16 AM saya kurang setuju dengan bapak, Selama ini PKL dianggap oleh pemerintah kita hanya sebatas objek, padahal PKL ini merupakan UKM yg dapat menjalankan roda perekonomian daerah, selama ini pemerintah masih setengah hati dalam mengurus UKM, padahal potensi pasar dan tenaga kerjanya cukup besar, jadi harusnya mereka di lokalisasi di tempat yg tdk menggaggu ketertiban umum dan di proteksi oleh pemerintah sehingga nantinya bisa menjadi usaha besar. Thx Aditya Salya Powered by Telkomsel BlackBerry�
