Yth. Pak Muhammad Subekti 1. Apakah Batan punya data cadangan uranium selain di daerah Kalan. Uranium di Daerah Kalan sudah dipetakan dengan baik oleh Batan. Tetapi yang memulai eksplorasi di Kalan adalah Perancis bekerja sama dengan Batan. Daerah lain hanya diduga mengandung uranium tetapi belum dilakukan eksplorasi sebaik daerah Kalan. Thorium banyak terdapat di Sumut apakah dapat digunakan untuk jangka 300 tahun, secara ilmiah perlu dibuktikan perhitungannya. Berapa besar cadangan Thorium saya yakin Pak Subekti belum punya datanya. Thorium reaktor diharapkan akan komersial, mudah mudahan 5 tahun lagi sudah bisa dilihat hasilnya. Yang pasti bukan di Indonesia tetapi di negara lain. India merencanakan Thorium Reakor akan memberikan kontribusi energi listrik sebesar 30% pada tahun 2030. India bisa membangun reaktor sendiri sesuai pengalaman dia membangun Candu pada awal berdirinya PLTN. Bagaimana dengan Indonesia, rencananya akan membangun 4 PLTN dengan cara membeli, apakah PLTN ini boleh diuji coba untuk belajar ahli ahli kita ? Nanti dulu PLTN adalah pusat pembangkit listrik komersial bukan untuk belajar PLTN. Investor tidak akan memberi kesempatan kita untuk belajar PLTN apalagi kesempatan membangun PLTN sendiri. Sampai saat ini Batan belum punya BLUE PRINT untuk membangun PLTN dengan kemampuan sendiri, tetapi yang ada hanya berpikir untuk mengimpor PLTN. Banyak orang berpikir Indonesia punya PLTN agar disegani negara tetangga. Tidak berpikir punya PLTN akan menyusahkan rakyat. Indonesia akan disegani negara lain kalau bisa membangun PLTN dengan kemampuan sendiri, tidak seperti sekarang hanya berpikir untuk membeli PLTN. Apakah punya PLTN dengan cara membeli akan bisa membangun PLTN sendiri? Kita lihat lebih dari 40 tahun kita menikmati mobil mobil canggih dari Jepang, Amerika dan Eropa, sampai hari ini tetap saja kita belum bisa memproduksi mobil sebaik Proton Malayasia. Uranium adalah material yang harus dikuasai oleh negara kok bisa perusahaan swasta memproduksi 10 ton/tahun, perusahanan ini pasti beroperasi tanpa ijin dari pemerintah. 2. Plutonium tidak perlu diperkaya tetapi maksudnya dimurnikan dari campuran isotop yang berasal dari bahan bakar reaktor. Berbeda dengan uranium perlu diperkaya, kandungan u-235 pada uranium alam hanya sebesar 0,7 %. Agar U-235 meningkat menjadi 3,5 % perlu diperkaya. Saya tidak yakin kita diberikan kesempatan untuk mengembangkan teknologi pemerkayaan Uranium. Jadi kita akan tergantung negara lain dalam pengadaan bahan bakar PLTN, sesuai pemikiran Pak Subekti untuk PLTN tipe PWR
3. Apakah tenaga ahli kita akan terlibat dalam rancangan PTLN yang akan di bangun, sampai saat ini saya tidak pernah mendengar Batan punya rencana membangun PLTN dengan kemampuan sendiri. Teknologi yang digunakan tergantung investor PLTN yang akan masuk, kita memilih PLTN yang ditawarkan. Dengan cara ini apakah Teknologi PLTN bisa dikuasi, pastinya tidak. 4. Saya titip Pak Subekti tolong tanyakan bagaimana cara Jepang mengatasi kekurangan listrik selama PLTN Kashiwazaki Kariwa sebesar 8000 MW ditutup. Kalau di Indonesia pasti sudah pemadaman bergilir selama 2 tahun lebih, apakah PLTN kashiwazaki sudah beroperasi penuh saat ini. 5. Gardu rusak saja kita sudah harus bersabar menerima giliran pemadaman listrik, apalagi kalau pembangkitnya rusak. Dan komponannya impor pasti nunggu lebih lama lagi. Bagaimana dengan PLTN pasti tergantung 100% kita kepada investornya. Salam, Iwan Kurniawan --- On Tue, 11/17/09, metnetjp2008 <[email protected]> wrote: From: metnetjp2008 <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: PLTN Tetap Dibangun (Status terakhir) To: [email protected] Date: Tuesday, November 17, 2009, 9:38 AM Yth. pak Ma'rufin, Sy pikir juga begitu, Baik energi nuklir maupoun energi terbarukan (EBT) lainnya, kita sama-sama tidak siap. Tetapi perlakuan ke PLTN tdk sama terhadap EBT. Bbrp EBT sudah memiliki pilot project, apa krn 5 kendala tidak siap akan membuat pilot project mereka dibatalkan ? Jawabnya tidak dibatalkan. Lalu apa proyek PLTN akan dibatalkan ? Seharusnya jawabnya juga SAMA, tidak dibatalkan. :D ------------ --------- ---- BTW, terkait 5 kendala PLTN, pendapat pribadi saya: 1. Bahan bakar PLTN tidak siap. Sy ingin menyampaikan bahwa ketersediaan bahan bakar siap. Data ketersediaan Uranium belum saatnya dipublikasi krn perlu bbrp verifikasi. Bagi para expert pertambangan, bisa memberikan dugaan kasar ttg ciri2 potensi tambang Uranium, dan ternyata ada banyak di Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya. Dan ada yg bisa menyediakan Uranium min 10 ton/tahun dari suatu perusahaan lokal dg produksi terbukti valid. Dan bila kita jalan2 ke bangka belitung (ingat laskar pelangi), Thorium bertaburan di pantai dlm jumlah luar biasa. Bila digunakan oleh PLTN, bisa breeding dan mampu menyediakan bahan bakar 4 PLTN sampai 300 tahun lebih. Pilihan produksi cuman 2, dipakai sendiri atau di-EKSPOR. ------------ -------- Catatan: Jepang dapat Uranium dari Uzbekistan, Cina dapat dari Australia, Amerika dapat dari Rusia dan lokal. 2. Teknologi Pengkayaan tidak siap. No comment, takut sama spy di forum ini. he he he. ------------ -- Catatan: JEpang melakukan pengkayaan Pu di Prancis, Korsel dilarang oleh IAEA untuk melakukan riset pengkayaan Uranium, Iran dilarang juga tapi melawan. 3. SDM nuklir tidak siap. Justru pada saat ini sampai 10 tahun ke depan, SDM PLTN kita sedang menapaki puncak dlm penguasaan teknologi nuklir. Perlu kepastian dari pemerintah untuk membangun PLTN supaya penguasaan teknologi PLTN bisa meningkat. Kalau PLTN batal lagi, bisa dipastikan mereka yg berada di barisan depan akan beralih profesi atau memutuskan jadi TKI. Bbrp tenaga nuklir Indonesia sudah bekerja di Mitsubishi (USA), AECL (Canada), NAIS (swasta Japan) dll. Desember 2009, Sy ada wisata 3 minggu ke PLTN Kashiwazaki Kariwa dan HTTR (Jepang). Siapa tahu ada order outsourching seperti dulu di HTTR 2002-2006. Lumayan khann. Mohon doanya. ------------ --------- --------- -------- Kasus HOT, USA kehilangan SDM Pengkayaan Uranium krn semua PLTN menggunakan bahan bakar dari bom nuklir (U235 98%) yg dibeli dari Rusia maupun dari Amrik sendiri. Skr USA justru outsourching dg Prancis dan Jepang untuk SDM ini. ------------ --------- --------- -------- Kasus lokal, UGM MENUTUP JURUSAN TEKNIK NUKLIR. ------------ --------- --------- -------- 4. Duit Sudah ada yg mau . . . . , tapi daya kecil kelas 25MWe. Yg lain wait and see, tunggu kepastian bisnis menguntungkan untuk membangun PLTN 1000MWe, kepastian regulasi PLTN, dan menunggu harga BBM stabil diatas US $50. ------------ -- Catatan: PAda saat Harga BBM US $30, negara2 berkembang spt Iran, Cina, India, Emirat Arab, Vietnam, dll memutuskan bangun PLTN, krn Energi fosil HARUS DIHEMAT. 5. Teknologi PLTN yg dipilih PLTN daya masif untuk kebutuhan yg besar (sekitar 1000MWe) dan tidak bisa disaingi oleh PLT kecil2 (terutama untuk base-load industri di Jawa), promotor sudah merekomendasi --PLTN tipe PWR. Progress 60-70%. Seharusnya pd tahun 2010, progress naik menjadi 80%. Kita nantikan perkembangannya. Yg pasti para LSM anti-PLTN sedih kalau PLTN batal, krn mereka terpaksa cari kerjaan lain, sy juga begitu, ;D ----------- Catatan: Agenda Riset NAsional 2010-2025, ada kata PWR dan advanced reactor (arahnya ke HTGR untuk produksi Hidrogen). Salam Muhammad Subekti
