Yth Adyanto Aditomo, Sampai sekarang status pengembangan PLTN masih jalan di tempat. Hal itu terjadi karena peran banyak pihak.
Status terakhir, opsi PLTN sudah dijelaskan dan diamanatkan dalam UU.17/2007 dan Perpress.5/2006. Tapi dipotong kompas oleh Blueprint pengelolaan energi nasional 2010-2025 dan RUKN 2008-2027 yg meniadakan opsi PLTN. Di kompas, "PLTN terkendala 5 faktor" Kompas, 6 Nov.2009. 5 faktor yg dimaksud oleh pak Rinaldy adl: - SDM tdk siap - bahan bakar tidak siap - pengkayaan tidak siap - pemerintah belum menentukan teknologi PLTN - dana belum ada. Dalam forum workshop Energi Baru dan Terbarukan (EBT) bbrp hari sebelum national summit, Pak Rinaldy juga menyebutkan bahwa kita tidak perlu pusing memikirkan energi demmand, apalagi pusing melihat grafik peningkatan kebutuhan energi pada tahun 2050, karena pada tahun tersebut konsep rumah berdinding dan beratap solar-cell sudah mendunia. Dlm forum EBT yg sama, seorang peneliti solar-cell (LIPI) menegasi pernyataan pak Renaldy tsb. Dan bila 5 faktor kendala PLTN diterapkan dalam energi solar-cell, jawabannya juga SAMA! - SDM tdk siap - bahan bakar tidak siap - pemurnian tidak siap - pemerintah belum menentukan teknologi solar-cell - dana belum ada. Salam, Muhammad Subekti --- In [email protected], Adyanto Aditomo <adyantoadit...@...> wrote: > > Bung Andryansyah, >  > Pada prinsipnya saya sangat setuju dengan kekhawatiran anda soal potensi > adanya embargo Bahan Bakar Nuklir sehingga PLTN berpotensi menjadi besi tua. > Konsekuensi menggunakan PLTN, bagi Negara Berkembang untuk kondisi saat ini, > mau tidak mau kita memang harus import bahan bakar Nuklirnya dari Negara - > Negara Maju. > Bila ada Negara Berkembang berupaya untuk membuat Bahan Bakar Nuklir sendiri, > bisa dicurigai sebagai negara yang berniat untuk membuat Bom Nuklir. > Iran adalah salah satu contoh yang menarik dalam kasus ini. > Entah bagaimana ceritanya, hanya negara - negara tertentu saja di dunia ini > yang dibolehkan untuk membuat bahan bakar Nuklir termasuk Bom Nuklir. > Makanya menurut saya, semua hal yang terkait dengan rencana pembuatan PLTN > harus dikaji secara seksama dari semua segi: Ekonomis, Keamanan, Kehandalan, > Kemudahan Operasi dan sebagainya. > Dibandingkan dengan alternatif lainnya seperti Batubara, Minyak Bumi dan Gas > Bumi, katanya sih PLTN merupakan alternatif yang paling ekonomis. > Batubara sebetulnya juga ekonomis, tetapi pencemaran udara yang dihasilkan > sangat merusak lingkungan. > Maka itu penggunaan besar - besaran Batu Bara sebagai Bahan Bakar Pembangkit > Listrik, akan mencemari lingkungan yang lebih luas. > Saya baca di Internet, debu hasil pembakaran Batu Bara Pembangkit Listrik di > China sudah mencapai Kanada. > Bisa dibayangkan, betapa mengerikannya dampak lingkungan yang diakibatkannya. >  > Jika benar PLTN adalah alternatif Pembangkit Listrik yang paling ekonomis, ya > apa boleh buat, kita harus bangun PLTN. > Dengan demikian Pemerintah bisa menyediakan Sumber Daya Listrik dalam jumlah > yang mencukupi kebutuhan masyarakat, handal dan ekonomis bagi perkembangan > Masyarakat Indonesia. > Bila kita tetap bertahan dengan PLTU, PLTGU, PLTD dan sebagainya yang sistem > operasinya tidak ekonomis, maka kemungkinannya: Kalau tidak harga listriknya > mahal maka yang terjadi adalah APBN kita akan sangat dibebani oleh Anggaran > untuk Subsidi Listrik. >  > Karena perdebatan ini sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa > ada keputusan, sedangkan masyarakat Indonesia, baik masyarakat Rumah Tangga, > Masyarakat Usaha dan Masyarakat Industri telah menjadi korban akibat ketidak > pastian, sehingga kondisi listrik di Indonesia saat ini: Jumlahnya tidak > mencukupi, Tarifnya mahal, Kehandalannya rendah sehingga sering padam dan > Kualitasnya juga rendah sehingga sangat menghambat operasional Industri > Modern yang mensyaratkan kualitas listrik yang prima, maka Bangsa Indonesia, > yaitu Pemerintah dan Masyarakat Indonesia harus bersatu padu memecahkan > persoalan ini secepatnya. > Jadi kalau solusinya bangun PLTN, ya sudah, laksanakan saja. > Kita sudah kehabisan waktu memperdebatkan hal ini tanpa ada solusi. >  > Salam, >  > Adyanto Aditomo > > > --- Pada Sen, 9/11/09, andryansyah <andryans...@...> menulis: > > > Dari: andryansyah <andryans...@...> > Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] PLTN Tetap Dibangun > Kepada: [email protected] > Tanggal: Senin, 9 November, 2009, 5:29 AM > > >  > > > > Saya kira bukan DIMANA yang utama tetapi KAPAN. > > Kita, saya kira belum punya kemampuan untuk tidak konyol ketika punya PLTN > saat ini atau sampai 2020 sekalipun. Buktinya adalah ketidak mampuan kita > hingga saat ini untuk bisa membuat sendiri bahan bakar nuklir plus > kelongsongnya. Mengapa ini sangat penting, karena itulah sumber energinya. > Seperti PLTU misalnya, kita punya batu baranya. > > Lalu mengapa saat ini (saya maksud hingga kira-kira 2020) kita justru > mengekspor batu bara (atau saya salah?). Juga adakah minyak yang kita ekspor > dipakai oleh negara pembeli untuk dibuat listrik? Kalau hal itu masih terus > terjadi hingga 2020, maka konyol kalau kemudian kita beli PLTN yang semuanya > termasuk bahan bakarnya harus kita beli!! > > Kedua, yakinkan kita bahwa dengan punya PLTN saat ini kita tidak akan > dipermainkan secara politik di lingkungan internasional. Maksud saya, kalau > kita punya pandangan politik yang berbeda dengan negara besar yang punya > kuasa ngatur-ngatur perdagangan komponen vital PLTN, lalu apakah kita > kemudian akan melunturkan keyakinan politik kita itu hanya demi tidak > diembargo yang dapat mengakibatkan PLTN akan menjadi BESI TUA??? > > Wassalam, > andry >
